Editor
BANDUNG, KOMPAS.com — Empati menjadi salah satu kemampuan yang dibutuhkan seorang pemimpin untuk memahami orang-orang yang terdampak oleh keputusannya.
Menurut mantan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, kemampuan itu perlu hadir dalam hubungan kerja hingga cara pemimpin memandang kebutuhan masyarakat.
“Never underestimate the power of empathy,” kata Gita dalam HCM Talks 7th Series yang digelar Sekolah Bisnis Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) di Bandung, Rabu (23/9/2026).
Baca juga: Mengapa Amanah Jadi Syarat Utama Seorang Pemimpin? Ini Dalilnya
Dalam rilisnya, Gita mengatakan, empati tidak hanya diperlukan dalam hubungan antara pemimpin dan karyawan.
Sikap yang sama juga penting saat berhubungan dengan pelanggan, pemasok, rekan kerja, dan masyarakat.
Dalam konteks yang lebih luas, ia mengajak peserta memikirkan bagaimana seorang pemimpin menunjukkan empati terhadap bangsa dan negara.
Salah satu wujudnya ialah memperhatikan apakah masyarakat di berbagai daerah memiliki akses yang memadai terhadap layanan publik.
Gita menyoroti pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan kesejahteraan sebagai kebutuhan yang harus dapat dijangkau masyarakat secara lebih merata.
Perbedaan pengalaman pembangunan antardaerah, menurut dia, menunjukkan pentingnya kebijakan yang tidak hanya berpusat di kota-kota besar.
Karena itu, pembangunan manusia membutuhkan investasi jangka panjang pada pendidikan dan pengembangan kemampuan masyarakat. Upaya tersebut juga bergantung pada kualitas institusi yang menjalankannya.
Baca juga: Kiai Saad Ibrahim Ingatkan Pemimpin Jangan Tunduk pada Kepentingan Elite dan Asing
Dalam Islam, kepedulian terhadap orang yang dipimpin juga menjadi bagian dari tanggung jawab seorang pemimpin.
Al-Quran menggambarkan Rasulullah sebagai sosok yang merasakan beratnya penderitaan umat dan penuh kasih terhadap mereka. Hal ini menunjukkan pentingnya kepekaan terhadap kesulitan orang lain dalam menjalankan amanah kepemimpinan.
Dalam diskusi yang sama, Presiden Direktur PT Rintis Sejahtera Abraham J Adriaansz mengatakan, kepemimpinan tidak cukup dinilai dari jabatan atau kepatuhan organisasi terhadap aturan.
Tata kelola yang baik, menurut dia, perlu menghasilkan kinerja dan perubahan yang dirasakan.
“Good governance itu bukan sekadar compliance, tetapi good governance itu justru ujungnya adalah performance,” ujar Abraham.
Ia mengatakan, pemimpin perlu mampu menyampaikan visi, mencari cara yang lebih baik, dan memberi ruang bagi orang lain untuk ikut bertindak.
Kepedulian dan keteladanan, menurut Abraham, juga menjadi bagian dari kepemimpinan.
Kepada mahasiswa yang hadir, Abraham mengingatkan bahwa pengalaman berorganisasi dapat menjadi kesempatan untuk belajar bekerja bersama orang lain, memahami persoalan, dan membangun kepedulian.
Pengalaman tersebut memiliki arti lebih dari sekadar pelengkap daftar riwayat hidup.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.