Editor
BOGOR, KOMPAS.com — Saat berusia 19 tahun, Lubna Puteri Azzahra harus memilih antara membayar kuliah atau mempertahankan kamar kosnya di Jakarta. Ia memilih membayar kos. Tanpa tempat tinggal, ia tidak tahu harus pergi ke mana.
“Kalau aku bayar uang kuliah, aku tuh nggak bisa bayar kosan. Kalau nggak bisa bayar kosan mau tinggal di mana. Akhirnya aku memutuskan untuk bayar kosan aja deh, kuliah nanti,” tutur Lubna dikutip dari MUI Digital, Selasa (29/2/2026).
Lubna, yang sebelumnya bernama Sri Agustina Nadeak, merantau ke Jakarta untuk kuliah. Pada masa itu pula ia memutuskan memeluk Islam. Keputusan tersebut diikuti dengan berkurangnya dukungan keluarga hingga akhirnya terhenti.
“Dukungan-dukungan dari orang tua, keluarga itu berkurang dan di-stop sama sekali. Komunikasi, support mental itu nggak ada,” katanya.
Baca juga: Momen Hangat, 150 Mualaf Eks-Baduy Buka Puasa Bersama Kang Maman
Sebelum bersyahadat, Lubna mengaku mengalami sesuatu yang tidak ia pahami.
Selama sepekan, setiap sekitar pukul 02.00, ia mendengar suara yang kemudian dikenalnya sebagai azan. Ia mengatakan suara itu tidak berasal dari masjid ataupun orang di sekitarnya.
“Setiap jam 2 malam selama satu minggu. Bukan dengar dari masjid, bukan dengar dari orang. Tapi di kuping di kiri dan di kanan,” ujarnya.
Lubna mencari tahu tentang azan, lalu mendatangi Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta.
Pengalaman itu ia maknai sebagai petunjuk yang memantapkan hatinya untuk memeluk Islam.
Namun, menjalani pilihan tersebut seorang diri sebagai mahasiswa perantau tidak mudah.
Saat dukungan keluarga terhenti, Lubna harus mencari penghasilan untuk membiayai hidup.
Ia mengirim lamaran pekerjaan ke berbagai tempat sebelum akhirnya bekerja menggoreng pisang.
Pekerjaan itu ia jalani selama sekitar dua tahun dengan penghasilan sekitar Rp 1,8 juta. Di tengah keterbatasan, keinginannya untuk kembali kuliah tidak padam.
“Aku berpikir ada beban ganda sebagai perantau dan juga sebagai yang memilih jalan berbeda dari orang tua. Kayaknya dengan gaji yang waktu itu cuma 1.800.000. Akhirnya memilih, ah gimana pun aku harus kuliah deh. Mimpi itu tetap ada nyala dalam diri,” ungkapnya.
Baca juga: Memberi Hadiah atau Sedekah, Mana yang Lebih Utama dalam Islam?
Lubna kemudian mencari kampus dengan biaya yang sanggup ia jangkau. Ketika pandemi Covid-19 memungkinkan perkuliahan daring, ia kembali belajar. Kesempatan mencicil biaya kuliah turut membantunya melanjutkan pendidikan.
Pertemanan di kampus dan komunitas juga membuka jalan bagi Lubna untuk memperoleh pekerjaan lain. Sedikit demi sedikit, keadaan ekonominya membaik.
“Pelan-pelan jalan hidup kayaknya melalui orang yang kukenal dibukakan sama Allah. Alhamdulillah,” katanya.
Lubna akhirnya menyelesaikan pendidikan S1. Ia mengabarkan pencapaian itu kepada orang tuanya dan mengundang mereka datang ke Jakarta. Menurut Lubna, orang tuanya semula khawatir dengan pilihan hidup yang ia ambil.
“Anggapan mereka kan waktu itu, anak ini salah jalan atau bergaul sama siapa sih. Tapi akhirnya selesai,” tuturnya.
Lubna kemudian melanjutkan pendidikan S2. Ia mengatakan program yang dirancang berlangsung 18 bulan dapat diselesaikannya dalam 12 bulan. Ketika orang tuanya kembali datang, ia melihat keduanya menangis.
“Dan orang tua datang lagi. Akhirnya di situ yang pertama kali aku lihat mama sama bapak itu nangis,” ucap Lubna.
Pengalaman tersebut menguatkan keyakinannya bahwa keadaan yang sulit tidak harus mengakhiri cita-cita seseorang.
“Siapa sangka seorang penggoreng pisang ternyata bisa kok, kuliah S1, S2 bisa. Dan bisa jadi pengacara juga bisa. Dan gak ada yang gak mungkin gitu,” ujarnya.
Kini, setelah sekitar tujuh tahun menjadi mualaf, Lubna masih ingin belajar. Ia menjadi salah satu dari 43 peserta Bootcamp Muharrik Mualaf 2026 yang diselenggarakan Lembaga Pembinaan dan Pemberdayaan Mualaf Majelis Ulama Indonesia (LP2M MUI) pada 18–20 September 2026 di Jakarta dan Kabupaten Bogor.
Melalui kegiatan itu, Lubna berharap dapat memperdalam pengetahuan agama, bertemu teman baru, dan menemukan lingkungan yang mendukungnya.
“Saya masih sangat membutuhkan yang namanya keluarga. Mungkin bukan keluarga sedarah, tapi seiman,” katanya.
Lubna juga berharap pengalaman yang telah dilaluinya kelak memberi manfaat bagi orang lain. Kepada anak muda yang sedang menghadapi masa sulit, ia berpesan agar tidak melepaskan harapan.
“Yang perlu kita tekankan itu tetap merawat harapan, tetap semangat. Mungkin hari ini hujan, tapi besok belum tentu hujan. Bahkan terang aja ada waktunya, malam ada waktunya,” tuturnya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.