Editor
KOMPAS.com - Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI mengonfirmasi dua warga negara Indonesia (WNI) mengalami luka ringan akibat serangan di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, Arab Saudi, pada Ahad (11/10/2026).
Kedua korban merupakan WNI yang memiliki izin tinggal tetap di Arab Saudi dan bukan jamaah umrah.
Baca juga: 5 Negara yang Imbau Warganya Menunda Umrah ke Saudi demi Keamanan
Dilansir dari Antara, Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI Heni Hamidah mengatakan, Kemlu Arab Saudi menyampaikan laporan mengenai dua WNI yang terluka pada Selasa (13/10/2026).
“Keduanya telah diperbolehkan pulang pada hari yang sama, 11 Oktober 2026,” kata Heni merespons wartawan melalui pernyataan tertulis di Jakarta, Rabu.
Baca juga: Kemenhaj Belum Berencana Imbau Jemaah Tunda Umrah Usai Serangan di Riyadh
Heni mengungkapkan, kedua WNI yang menjadi korban serangan tersebut berinisial RM (45) dan ET (32). Keduanya merupakan pemegang izin tinggal tetap di Arab Saudi.
“Mereka bukan jamaah umrah,” tambahnya.
Heni tidak merinci jenis luka yang dialami kedua korban. Namun, ia menyebut keduanya sempat menjalani perawatan di RS Sulaiman Habib di Riyadh sebelum diperbolehkan pulang pada hari yang sama.
Sebelumnya, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Riyadh menyatakan telah berkoordinasi dengan otoritas setempat dan korps diplomatik di Riyadh.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi keamanan di wilayah tersebut serta keselamatan WNI setelah serangan di Bandara Internasional Raja Khalid.
Dalam pernyataan tertulis pada Selasa (12/10/2026), KBRI Riyadh juga menyebut telah berkoordinasi dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).
Koordinasi dilakukan karena sejumlah anggota PPNI bekerja di berbagai rumah sakit di Riyadh, serta dengan komunitas WNI yang bekerja di Bandara Internasional Raja Khalid.
Selain itu, KBRI Riyadh telah memberikan bantuan kepada tiga pekerja migran Indonesia yang terdampak gangguan penerbangan di bandara tersebut pada 11 Oktober 2026.
Dalam beberapa hari terakhir, Bandara Internasional Raja Khalid di Riyadh berulang kali menjadi sasaran serangan kelompok Ansar Allah atau Houthi dari Yaman.
Sputnik melaporkan, Otoritas Penerbangan Sipil Arab Saudi menyatakan serangan pada 10 Oktober menewaskan 12 orang dan melukai 309 lainnya.
Sementara itu, serangan pada 11 Oktober menewaskan satu orang dan menyebabkan 11 orang lainnya terluka.
Serangan tersebut mengenai dua terminal penumpang dan memicu kebakaran di area bandara.
Berdasarkan catatan Kemlu Arab Saudi, terdapat sekitar 581.000 WNI yang berada di negara tersebut. Jumlah itu terdiri atas 351.070 pemegang izin tinggal atau iqamah dan 229.350 pengunjung atau peziarah.
Data tersebut mencakup WNI dengan status tinggal dan kunjungan yang berbeda, sehingga pelindungan warga negara Indonesia di Arab Saudi menjadi salah satu perhatian dalam situasi keamanan tersebut.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.