Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menjaga Privasi Anak Juga Bagian dari Adab dalam Islam

Kompas.com, 15 Oktober 2026, 14:03 WIB
Puji Sri Rahayu,
Farid Assifa

Tim Redaksi

Sumber NU Online

KOMPAS.com - Membagikan foto dan aktivitas anak di media sosial sudah menjadi kebiasaan sebagian orang tua. Namun, tidak semua momen layak dipublikasikan. Foto anak ketika menangis, sakit, atau mengalami kejadian memalukan, serta informasi tentang sekolah dan tempat tinggalnya, perlu dipertimbangkan sebelum dibagikan kepada publik.

Dalam Islam, menjaga privasi berkaitan dengan adab meminta izin, menghormati batas pribadi, dan melindungi kehormatan seseorang. Prinsip ini relevan diterapkan dalam kehidupan keluarga, termasuk ketika orang tua membagikan dokumentasi anak di ruang digital. Kasih sayang perlu disertai tanggung jawab untuk mempertimbangkan dampak informasi yang disebarkan.

Islam Mengajarkan Adab Menjaga Privasi

Al-Qur'an mengatur adab meminta izin di lingkungan keluarga melalui Surah An-Nur ayat 58. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِيَسْتَأْذِنكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنكُمْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

Yā ayyuhal-lażīna āmanū liyasta'żinkumul-lażīna malakat aimānukum wal-lażīna lam yablugul-ḥuluma minkum ṡalāṡa marrāt.

Baca juga: Gus Baha Tangani Dakwah Digital, Ini Tugas 5 Wakil Rais Aam PBNU

Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Hendaklah hamba sahaya (laki-laki dan perempuan) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig (dewasa) di antara kamu, meminta izin kepada kamu pada tiga kali (kesempatan) ...” (QS. An-Nur: 58)

Ayat ini mengatur adab meminta izin pada waktu tertentu sebelum memasuki ruang pribadi anggota keluarga. Konteksnya bukan penggunaan media sosial, tetapi menunjukkan pentingnya menghormati batas pribadi di dalam rumah. Nilai tersebut dapat menjadi landasan etis bagi orang tua ketika mempertimbangkan informasi anak yang layak dibagikan kepada publik.

Meminta Izin Merupakan Bentuk Penghormatan

Rasulullah SAW menjelaskan alasan pentingnya meminta izin melalui hadis yang diriwayatkan Sahl bin Sa'd:

إِنَّمَا جُعِلَ الِاسْتِئْذَانُ مِنْ أَجْلِ الْبَصَرِ

*Innamā ju‘ila al-isti'dżānu min ajlil-baṣar.*

Artinya, “Sesungguhnya meminta izin ditetapkan untuk menjaga pandangan.” (HR. Bukhari nomor 624)

Baca juga: Pemerintah Siapkan 1,35 Juta Kuota Sertifikasi Halal Gratis untuk UMKM

Hadis tersebut berkaitan dengan seseorang yang mengintip ke dalam rumah Nabi Muhammad SAW. Rasulullah menegaskan pentingnya meminta izin agar seseorang tidak melihat keadaan pribadi orang lain tanpa hak.

Dalam kehidupan sekarang, prinsip penghormatan itu dapat diterapkan dengan mempertimbangkan persetujuan anak sebelum membagikan foto atau cerita pribadinya. Penerapan ini merupakan relevansi nilai hadis, bukan klaim bahwa hadis tersebut secara langsung membahas publikasi digital.

Tidak Semua Momen Anak Layak Dipublikasikan

Mengutip laman NU Online memberikan penjelasan tanggung jawab orang tua untuk menjaga kehormatan, keamanan, dan privasi anak.

Foto anak yang dianggap lucu oleh orang tua belum tentu nyaman bagi anak ketika tumbuh dewasa. Unggahan tentang tangisan, kondisi kesehatan, atau pengalaman memalukan dapat membuat anak merasa tidak nyaman apabila dilihat banyak orang.

Baca juga: 4,4 Juta Sertifikat Halal Terbit, Kemenag Minta Pendampingan UMKM

Karena itu, orang tua perlu mempertimbangkan manfaat setiap unggahan. Dokumentasi keluarga tetap dapat disimpan secara pribadi tanpa harus menjadikan seluruh momen sebagai konsumsi publik.

Lindungi Identitas dan Keamanan Anak

Privasi tidak hanya berkaitan dengan foto yang memperlihatkan kondisi pribadi. Nama lengkap, seragam sekolah, alamat rumah, lokasi secara langsung, dan rutinitas harian juga perlu dipertimbangkan sebelum dipublikasikan.

Informasi tersebut dapat membantu orang lain mengenali identitas dan kebiasaan anak. Membatasi informasi yang dibagikan merupakan langkah kehati-hatian untuk mengurangi risiko penyalahgunaan. Meski demikian, tidak setiap unggahan otomatis membahayakan anak karena risikonya bergantung pada jenis informasi dan konteks publikasinya.

Baca juga: Memakai Uang Kas Kantor Tanpa Izin, Ini Konsekuensinya dalam Islam

Orang tua sebaiknya menghindari publikasi identitas lengkap atau keberadaan anak secara langsung. Jika informasi tersebut tidak diperlukan untuk diketahui publik, menyimpannya sebagai dokumentasi keluarga merupakan pilihan yang lebih bijak.

Ajarkan Anak Menghormati Batas Pribadi

Menjaga privasi dapat dimulai dari kebiasaan sederhana di rumah. Orang tua dapat membiasakan anggota keluarga mengetuk pintu sebelum memasuki kamar, meminta izin menggunakan barang pribadi, dan menghormati ruang pribadi satu sama lain.

Ketika anak sudah mampu memahami konsekuensi sebuah unggahan, orang tua dapat mengajaknya berdiskusi sebelum memublikasikan foto atau cerita tentang dirinya. Persetujuan anak perlu disesuaikan dengan usia dan kemampuannya memahami risiko, tanpa menghilangkan tanggung jawab orang tua untuk melindunginya.

Bijak Bermedia Sosial sebagai Tanggung Jawab Orang Tua

Sebelum mengunggah konten anak, orang tua dapat mempertimbangkan apakah konten tersebut aman, berpotensi mempermalukan anak, dan benar-benar perlu dibagikan kepada publik. Jika manfaatnya tidak jelas, menahan diri merupakan pilihan yang patut dipertimbangkan.

Baca juga: Abu Lubabah Al-Anshari, Sahabat Nabi yang Amanah Diuji Bani Quraizhah

Menjaga privasi bukan berarti orang tua harus menyembunyikan seluruh kehidupan keluarga. Intinya adalah memahami batas informasi yang layak dibagikan dan menghormati kepentingan anak, termasuk ketika anak belum sepenuhnya mampu melindungi dirinya sendiri.

Dengan membiasakan meminta izin, membatasi informasi pribadi, dan memikirkan dampak unggahan, orang tua dapat menerapkan adab Islam dalam kehidupan digital. Kasih sayang tidak hanya ditunjukkan dengan membagikan kebahagiaan bersama anak, tetapi juga dengan menjaga kehormatan, kenyamanan, dan keamanannya.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar