Penulis
KOMPAS.com – Beragam ide kegiatan Hari Santri dapat menjadi pilihan untuk memeriahkan peringatan Hari Santri Nasional yang jatuh setiap 22 Oktober. Tidak hanya menggelar upacara, sekolah, madrasah, dan pesantren juga dapat menyelenggarakan kegiatan edukatif, perlombaan kreatif, hingga aksi sosial yang melibatkan masyarakat.
Pada 2026, Hari Santri mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas.” Tema tersebut menekankan pentingnya peran santri dalam pembangunan bangsa melalui penguatan ilmu pengetahuan, karakter, kreativitas, kemandirian ekonomi, dan kepedulian sosial.
Kementerian Agama juga mendorong kegiatan yang relevan dengan tema tersebut, antara lain pramuka santri, ekoteologi, dan expo kemandirian pesantren. Pelaksanaan kegiatan dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing lembaga, dengan tetap mengedepankan kesederhanaan dan kekhidmatan.
Baca juga: 30 Ucapan Hari Santri 2026 Singkat dan Penuh Doa untuk WhatsApp dan Instagram
Bagi panitia yang sedang menyusun agenda peringatan, ada banyak kegiatan yang dapat dipilih sesuai usia peserta, fasilitas, dan anggaran. Berikut 15 ide kegiatan Hari Santri 2026 yang dapat menjadi inspirasi.
Upacara menjadi salah satu kegiatan utama untuk memperingati Hari Santri. Agar tidak sekadar menjadi agenda seremonial, panitia dapat menambahkan pembacaan sejarah perjuangan ulama dan santri, termasuk peristiwa Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945.
Kegiatan ini dapat dilengkapi dengan amanat pembina upacara tentang peran santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta tanggung jawab generasi muda dalam mengisi pembangunan.
Lomba pidato dapat menjadi sarana bagi santri untuk melatih keberanian berbicara di depan umum sekaligus memperdalam pemahaman tentang sejarah pesantren, kebangsaan, dan nilai-nilai keislaman.
Peserta dapat memilih tema seperti perjuangan ulama, akhlak santri, moderasi beragama, peran pesantren dalam pendidikan, atau kontribusi santri menuju Indonesia Emas 2045.
Panitia dapat membagi kategori berdasarkan jenjang pendidikan agar peserta memiliki kesempatan berkompetisi secara adil.
Membaca kitab kuning merupakan kegiatan yang dekat dengan tradisi pendidikan pesantren. Lomba ini dapat menguji kemampuan peserta dalam membaca teks Arab, memahami struktur bahasa, menerjemahkan, dan menjelaskan kandungan kitab.
Untuk membuat kegiatan lebih menarik, panitia dapat menetapkan kitab dan materi sesuai tingkat kemampuan peserta. Penilaian tidak hanya berfokus pada kelancaran membaca, tetapi juga ketepatan pemahaman dan adab ketika menyampaikan penjelasan.
Lomba tilawah dan tahfiz Al-Qur'an dapat menjadi pilihan kegiatan keagamaan dalam peringatan Hari Santri. Peserta dapat mengikuti kategori membaca Al-Qur'an, hafalan surat pendek, hafalan juz tertentu, atau sambung ayat.
Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang untuk menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur'an. Panitia juga dapat menambahkan kategori tafsir atau pemahaman kandungan ayat agar peserta tidak hanya berfokus pada hafalan, tetapi juga memahami pesan yang terkandung di dalamnya.
Hari Santri juga dapat dirayakan melalui pertunjukan seni yang menampilkan kreativitas para santri. Bentuknya bisa berupa hadrah, marawis, pembacaan puisi, drama sejarah, musik religi, hingga pertunjukan seni tradisional daerah.
Salah satu ide yang menarik adalah drama pendek tentang kehidupan pesantren atau perjuangan santri pada masa kemerdekaan. Melalui pertunjukan tersebut, nilai sejarah dapat disampaikan dengan cara yang lebih dekat dengan generasi muda.
Perkembangan media sosial membuka kesempatan bagi santri untuk menyebarkan pengetahuan dan pesan positif melalui konten digital.
Panitia dapat mengadakan lomba video pendek, fotografi, poster digital, infografik, atau podcast dengan tema kehidupan pesantren dan kontribusi santri bagi masyarakat.
Misalnya, peserta membuat video tentang kegiatan belajar di pesantren, kisah inspiratif seorang guru, tradisi membaca kitab, atau aksi sosial santri. Penilaian dapat mencakup ketepatan informasi, kreativitas, kualitas penyajian, dan kesesuaian dengan tema Hari Santri.
Diskusi sejarah dapat menjadi alternatif bagi lembaga yang ingin menghadirkan kegiatan edukatif. Santri diajak memahami latar belakang Resolusi Jihad, peran ulama dalam perjuangan kemerdekaan, dan hubungan pesantren dengan kehidupan kebangsaan.
Kegiatan dapat dikemas dalam bentuk seminar kecil, diskusi kelompok, atau dialog bersama sejarawan dan pengasuh pesantren.
Agar diskusi tidak monoton, panitia dapat meminta peserta menyusun garis waktu sejarah, membuat poster tokoh perjuangan, atau mempresentasikan hasil riset sederhana berdasarkan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kepedulian terhadap lingkungan dapat diwujudkan melalui kegiatan yang sederhana dan berdampak langsung. Santri dapat melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan pesantren, menanam pohon, memilah sampah, membuat kompos, atau mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Kegiatan ini sejalan dengan gagasan ekoteologi yang menjadi salah satu pilihan kegiatan dalam panduan Hari Santri 2026.
Supaya manfaatnya tidak berhenti pada hari peringatan, pesantren dapat membentuk kelompok peduli lingkungan yang bertugas menjaga kebersihan dan memantau keberlanjutan program.
Bakti sosial dapat mengajak santri berinteraksi langsung dengan masyarakat sekitar. Bentuk kegiatannya antara lain membagikan paket kebutuhan pokok, mengunjungi panti asuhan, membantu warga lanjut usia, mengadakan layanan kebersihan lingkungan, atau menggalang bantuan bagi masyarakat yang membutuhkan.
Kegiatan sebaiknya dirancang berdasarkan kebutuhan penerima manfaat dan kemampuan penyelenggara. Panitia juga perlu menjaga martabat penerima bantuan, termasuk meminta izin sebelum mengambil atau menyebarkan dokumentasi kegiatan.
Dengan cara ini, peringatan Hari Santri menjadi kesempatan untuk mempraktikkan kepedulian sosial, bukan sekadar mengadakan acara di lingkungan pesantren.
Pesantren dapat memanfaatkan Hari Santri untuk memperkenalkan produk hasil karya santri dan unit usaha yang dikelola lembaga. Produk yang dipamerkan dapat berupa makanan, minuman, kerajinan, pakaian, buku, hasil pertanian, atau produk kreatif lainnya.
Bazar juga bisa dilengkapi dengan pelatihan pemasaran digital, pengemasan produk, pencatatan keuangan sederhana, dan pengenalan transaksi yang aman.
Kegiatan tersebut dapat menjadi ruang belajar kewirausahaan sekaligus membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal potensi ekonomi pesantren. Expo kemandirian pesantren juga termasuk agenda yang didorong dalam rangkaian Hari Santri 2026.
Perkemahan dapat menjadi kegiatan untuk melatih kemandirian, kedisiplinan, kerja sama, dan kepemimpinan. Peserta dapat mengikuti penjelajahan, permainan kelompok, pelatihan pertolongan pertama, kegiatan keagamaan, serta aksi kepedulian lingkungan.
Agar sesuai dengan semangat Hari Santri, panitia dapat memasukkan materi kepemimpinan berkarakter, sejarah perjuangan santri, dan pengabdian kepada masyarakat.
Pelaksanaan kegiatan perlu memperhatikan keamanan peserta, pendampingan yang memadai, kondisi lokasi, dan kesiapan fasilitas.
Lomba cerdas cermat dapat menguji wawasan peserta tentang sejarah Islam di Indonesia, tokoh ulama, sejarah kemerdekaan, pengetahuan umum, dan nilai-nilai kebangsaan.
Format lomba dapat dibuat dalam beberapa babak, seperti soal wajib, soal rebutan, dan studi kasus. Untuk menghindari pertanyaan yang hanya menguji hafalan, panitia dapat menambahkan soal yang meminta peserta menjelaskan penerapan nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan ini cocok untuk melibatkan beberapa sekolah atau pesantren sekaligus sehingga membuka ruang silaturahmi antarlembaga.
Literasi digital dapat menjadi pilihan kegiatan yang relevan dengan kebutuhan santri masa kini. Pelatihan dapat membahas cara memeriksa kebenaran informasi, menjaga privasi, menghindari penipuan digital, serta menggunakan kecerdasan buatan secara bertanggung jawab.
Peserta juga dapat berlatih membuat poster edukasi, menyusun naskah konten, atau merancang ide aplikasi sederhana untuk membantu kegiatan pesantren.
Kegiatan ini sejalan dengan dorongan agar santri mengembangkan kreativitas, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta berani berinovasi.
Panitia dapat mengadakan lomba menulis surat untuk pemimpin, esai, atau opini dengan tema masa depan Indonesia. Peserta dapat menuliskan gagasan mengenai pendidikan pesantren, lingkungan, pemerataan kesejahteraan, toleransi, atau peluang santri dalam dunia kerja.
Kegiatan menulis membantu santri menyampaikan aspirasi secara terstruktur sekaligus melatih kemampuan literasi dan berpikir kritis.
Agar hasilnya tidak berhenti sebagai perlombaan, karya terpilih dapat dibukukan, dipajang dalam pameran, atau diterbitkan melalui media sekolah dan pesantren setelah melalui proses penyuntingan.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, pesantren dapat menyelenggarakan malam refleksi dan doa bersama. Acara dapat diisi dengan pembacaan doa, tausiah, penampilan seni religi, refleksi sejarah perjuangan ulama, serta penyampaian komitmen santri untuk berkontribusi kepada masyarakat.
Panitia juga dapat meminta peserta menuliskan satu tindakan nyata yang akan dilakukan setelah peringatan Hari Santri, seperti meningkatkan kedisiplinan belajar, membantu masyarakat, menjaga lingkungan, atau mengembangkan keterampilan.
Dengan demikian, kegiatan penutup tidak hanya menjadi acara simbolis, tetapi juga mendorong perubahan perilaku yang dapat dilanjutkan setelah Hari Santri berakhir.
Tidak semua kegiatan harus dilaksanakan sekaligus. Panitia dapat memilih beberapa agenda yang paling sesuai dengan tujuan acara, jumlah peserta, dan sumber daya yang tersedia.
Untuk kegiatan sederhana, upacara, lomba pidato, cerdas cermat, diskusi sejarah, dan kerja bakti dapat menjadi pilihan. Jika ingin menonjolkan kreativitas, panitia dapat memilih lomba konten digital, pentas seni, dan pelatihan literasi digital. Sementara itu, bazar, expo, perkemahan, dan bakti sosial membutuhkan perencanaan teknis serta koordinasi yang lebih matang.
Baca juga: Link Unduh Naskah Khutbah Jumat Hari Santri 2026 dari Kemenag, Tersedia 2 Versi
Hal penting lainnya adalah memastikan kegiatan memberi ruang bagi seluruh peserta untuk terlibat. Peringatan Hari Santri tidak harus selalu berpusat pada perlombaan atau hiburan, tetapi dapat menjadi kesempatan untuk belajar, mempererat persaudaraan, dan memperluas manfaat pesantren bagi masyarakat.
Melalui berbagai ide kegiatan Hari Santri tersebut, tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” dapat diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Semangat santri bukan hanya ditunjukkan melalui pakaian atau seremoni, melainkan juga melalui ilmu, akhlak, kreativitas, kemandirian, dan kepedulian terhadap sesama.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.