Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pahala Sedekah Bisa Gugur, Waspadai Tiga Perilaku Ini

Kompas.com, 28 Oktober 2026, 09:11 WIB
Reni Susanti

Editor

Sumber NU Online


KOMPAS.com — Kemudahan bersedekah melalui layanan digital perlu diiringi ketulusan niat dan cara memberi yang baik.

Mengungkit pemberian, menyakiti penerima, serta mengharapkan pujian merupakan perilaku yang perlu dihindari agar pahala sedekah tetap terjaga.

Hal tersebut dijelaskan Syifaul Qulub Amin, alumnus Pondok Pesantren (PP) Nurul Cholil, perumus Lembaga Bahtsul Masail (LBM) Nurul Cholil, sekaligus pengajar di Pondok Pesantren Putri Al-Masyhuriyah Kebonan, Bangkalan.

Baca juga: Tak Harus Menunggu Orang Tua Tiada, Ini Cara Berbakti Lewat Sedekah

Menurut Syifaul, perkembangan teknologi memungkinkan seseorang berinfak atau bersedekah tanpa hadir langsung di lokasi.

Masyarakat dapat menyalurkan bantuan melalui situs resmi maupun aplikasi penyedia layanan sedekah.

Namun, kemudahan tersebut perlu disertai perhatian terhadap niat dan perilaku pemberi.

Sedekah semestinya membawa manfaat bagi penerima sekaligus menjadi bekal kebaikan bagi orang yang memberikannya.

Tiga perilaku yang dapat membatalkan pahala sedekah

Syifaul menjelaskan, Surat Al-Baqarah ayat 264 memuat peringatan agar orang beriman tidak membatalkan pahala sedekah dengan mengungkit pemberian dan menyakiti penerima.

Ayat tersebut juga menyebut orang yang menginfakkan hartanya karena riya atau ingin mendapatkan pujian manusia.

Dalam penjelasannya, terdapat tiga perilaku yang perlu dijauhi ketika bersedekah, yakni menyebut-nyebut pemberian atau al-mann, menyakiti perasaan penerima atau al-adza, serta memamerkan amal atau riya.

Merujuk penafsiran Syekh Nawawi Banten dalam Marahul Labid li Kasyfi Ma’nal Qur’anil Majid, jilid I, halaman 98, Syifaul menjelaskan bahwa perilaku tersebut dapat menggugurkan pahala amal kebaikan.

Peringatan ini menunjukkan bahwa sedekah tidak hanya berkaitan dengan harta yang diberikan, tetapi juga ketulusan niat dan cara memperlakukan penerima.

Baca juga: Hukum Sedekah dari Uang Korupsi dalam Islam, Benarkah Bisa Menghapus Dosa?

Perumpamaan tanah di atas batu licin

Dalam Surat Al-Baqarah ayat 264, orang yang berinfak karena riya diumpamakan seperti batu licin yang di atasnya terdapat debu. Ketika hujan lebat mengguyurnya, debu tersebut tersapu hingga menyisakan permukaan batu yang licin.

Syifaul menguraikan perumpamaan itu dengan merujuk Tafsir Al-Qurthubi, jilid III, halaman 312.

Tanah yang menutupi batu dapat terlihat seperti lahan subur. Namun, setelah tersiram hujan lebat, lapisan tanah itu hilang dan memperlihatkan batu yang tidak dapat ditanami.

Menurut penjelasan tersebut, demikian pula amal yang dilakukan karena ingin dipuji. Dari luar, perbuatan itu terlihat baik, tetapi niat di baliknya membuat amal tersebut kehilangan nilai pahala.

Mengungkit pemberian, menyakiti penerima, dan riya diibaratkan sebagai hal yang menyingkap hakikat niat seseorang, sebagaimana hujan menyingkap permukaan batu.

Menjaga niat saat membagikan sedekah di media sosial

Dikutip dari NU Online, Syifaul mengaitkan peringatan tersebut dengan kebiasaan membagikan kegiatan sedekah di media sosial.

Menurut dia, publikasi amal perlu diwaspadai apabila justru mendorong seseorang mengharapkan pujian dan kehilangan ketulusan dalam memberi.

Banyaknya tanda suka maupun tanggapan positif dari pengguna media sosial tidak dapat dijadikan ukuran nilai suatu amal di sisi Allah SWT.

Karena itu, seseorang perlu menjaga agar perhatian terhadap respons orang lain tidak menggeser tujuan awal bersedekah.

Riya dalam peringatan Rasulullah

Syifaul juga merujuk hadis riwayat Imam Ahmad yang dikutip dalam Tafsir Al-Baghawi, jilid I, halaman 326–327, tentang peringatan Rasulullah SAW terhadap riya.

Dalam hadis tersebut, Rasulullah menyebut riya sebagai syirik kecil yang dikhawatirkan menimpa umatnya.

Hadis itu menggambarkan bahwa pada hari pembalasan, orang yang beramal karena pamer diperintahkan mencari balasan dari pihak-pihak yang dahulu mereka harapkan pujiannya di dunia.

Menurut Syifaul, peringatan tersebut mengajak umat Islam memeriksa kembali tujuan ketika melakukan kebaikan.

Amal yang dilakukan semata-mata untuk mendapatkan pujian manusia tidak memberikan pahala yang diharapkan di akhirat.

Ia menekankan pentingnya menjaga ketulusan hati, tidak mengungkit bantuan, serta menghormati perasaan penerima. Dengan demikian, sedekah dapat memberikan manfaat tanpa merendahkan orang yang dibantu.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar