Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dari Madinah ke Gaza, MUI Serukan Perdamaian Dunia di Italia

Kompas.com, 29 Oktober 2026, 08:10 WIB
Farid Assifa

Penulis

KOMPAS.com – Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Marsudi Syuhud menyerukan perdamaian dunia dalam Pertemuan Internasional untuk Perdamaian ke-40 (International Meeting for Peace) yang digelar Komunitas Sant’Egidio di Assisi, Italia, pada 25–27 Oktober 2026.

Dalam forum bertema Unarmed and Disarming Peace, Marsudi mengajak para pemimpin agama dunia untuk mengambil peran nyata dalam mengakhiri konflik bersenjata dan membangun perdamaian melalui dialog, diplomasi, serta penghormatan terhadap keberagaman.

Seruan tersebut disampaikan dalam Forum 21 bertajuk Asia: Religions Seeking Peace in a World at War atau Asia: Agama-Agama Mencari Perdamaian di Dunia yang Dilanda Perang. Sesi ini berlangsung di Colle del Paradiso, Sala Stampa, Assisi.

Dalam paparannya berjudul "Agama-agama di Asia: Pencarian Perdamaian di Dunia yang Dilanda Perang (Sebuah Perspektif Islam)", Marsudi menyoroti berbagai konflik yang masih berlangsung di sejumlah kawasan, mulai dari Gaza, Palestina, Myanmar, dan Ukraina hingga Iran dan Yaman.

“Hari ini, kita hidup di dunia yang tengah berperang. Pertanyaannya, di manakah agama? Apakah agama bagian dari perang, atau bagian dari perdamaian?” ujar Marsudi di hadapan para pemuka agama dan akademisi internasional, dikutip dari keterangan tertulis, Kamis (29/10/2026).

Ia menegaskan, agama semestinya menjadi kekuatan moral yang mendorong penghentian kekerasan, bukan justifikasi bagi permusuhan dan peperangan.

Baca juga: Refleksi Sumpah Pemuda 2026, Sekjen MUI Ajak Generasi Muda Teguh dan Jaga Persatuan

Model Madinah sebagai Inspirasi Perdamaian Dunia

Marsudi mengangkat pengalaman sejarah Nabi Muhammad SAW dalam membangun masyarakat Madinah sebagai salah satu rujukan untuk mewujudkan perdamaian di tengah masyarakat yang majemuk.

Ia menjelaskan bahwa prinsip-prinsip yang terkandung dalam Piagam Madinah atau Sahifah Al-Madinah menunjukkan pentingnya kesepakatan bersama, tanggung jawab sosial, dan perlindungan terhadap kehidupan masyarakat yang beragam.

Menurut Marsudi, pengalaman Madinah memberikan pelajaran bahwa perbedaan agama dan identitas tidak harus menjadi sumber konflik. Sebaliknya, keberagaman dapat dikelola melalui aturan bersama, komitmen terhadap keadilan, dan penghormatan terhadap hak kelompok lain.

Dalam menjelaskan perspektif Islam mengenai perdamaian, Marsudi menggunakan empat pendekatan utama, yakni dalil Al-Qur’an dan hadis, keteladanan Nabi Muhammad SAW, pandangan para ulama, serta prinsip-prinsip fikih.

Ia kemudian mengajukan pertanyaan reflektif mengenai konflik yang masih terjadi hingga saat ini.

“Jika Madinah bisa hidup damai dengan berbagai agama 1.400 tahun yang lalu, mengapa Gaza, Ukraina, Iran, Yaman, Palestina, dan tempat-tempat lainnya tidak bisa hidup damai hari ini?” tegasnya.

Pertanyaan tersebut menjadi seruan agar para pemimpin dunia dan tokoh agama kembali menempatkan nilai kemanusiaan, dialog, serta penghormatan terhadap perbedaan sebagai dasar penyelesaian konflik.

Asia Diminta Menjadi Sumber Nilai Perdamaian

Marsudi juga menyoroti posisi Asia sebagai tempat lahir dan berkembangnya berbagai tradisi keagamaan dan pemikiran yang mengajarkan kehidupan damai.

Menurut dia, kekayaan tradisi tersebut dapat menjadi modal penting bagi Asia untuk berkontribusi dalam upaya perdamaian global.

Ia mengajak para pemimpin agama untuk mempertemukan nilai-nilai universal yang terkandung dalam ajaran masing-masing, seperti salam dalam Islam, Vasudhaiva Kutumbakam dalam tradisi Hindu, ahimsa dalam tradisi Buddha, keharmonisan dalam Konfusianisme, serta kasih sayang dalam ajaran Kristen.

Nilai-nilai tersebut, menurutnya, perlu diterjemahkan menjadi tindakan nyata untuk mendorong penyelesaian konflik tanpa kekerasan.

Marsudi menekankan bahwa perdamaian tidak cukup hanya menjadi wacana atau seruan moral. Upaya tersebut harus diwujudkan melalui dialog yang terbuka, diplomasi yang konsisten, negosiasi, dan kesediaan semua pihak untuk mencari jalan keluar yang adil.

Ia pun menyerukan agar Asia tidak menjadi sasaran penyebaran konflik, tetapi justru menjadi sumber inspirasi bagi dunia dalam membangun kehidupan yang lebih damai.

Pesan utamanya adalah dunia tidak seharusnya mengimpor perang ke Asia, melainkan menyebarkan nilai-nilai perdamaian dari Asia ke seluruh dunia.

Baca juga: Dugaan Penipuan Berkedok Agama di Bangkalan, MUI Minta Warga Tak Mudah Percaya

Dihadiri Tokoh Lintas Agama Internasional

Forum 21 dalam rangkaian International Meeting for Peace di Assisi tersebut dipimpin oleh sejarawan Italia dari Komunitas Sant’Egidio, Agostino Giovagnoli.

Sejumlah tokoh internasional turut hadir dalam forum yang membahas peran agama-agama di Asia dalam merespons konflik global itu.

Di antaranya adalah Hilde Kieboom dari Komunitas Sant’Egidio Belgia, Presiden Dewan Regional Umbria Stefania Proietti, orientalis dan ilmuwan politik asal Perancis Olivier Roy, serta aktivis Inisiatif Strategis untuk Perempuan Tanduk Afrika Hala Al-Karib.

Hadir pula Menteri Agama Republik Indonesia Nasaruddin Umar, Presiden Konferensi Episkopal Italia Matteo Zuppi, Rabi Agung Perancis Haim Korsia, dan pemimpin agama Buddha Jepang Gijun Sugitani.

Kehadiran para tokoh dari latar belakang agama, negara, dan bidang keahlian yang berbeda memperlihatkan pentingnya kerja sama lintas iman dalam merespons persoalan kemanusiaan.

Baca juga: Terima Menteri LH, MUI Ingatkan Haram Merusak Lingkungan

Pertemuan internasional yang berlangsung pada 25–27 Oktober 2026 itu menjadi ruang dialog bagi para pemimpin agama dan tokoh masyarakat untuk memperkuat komitmen bersama terhadap perdamaian.

Melalui forum tersebut, Marsudi membawa pesan bahwa agama memiliki tanggung jawab moral untuk memperjuangkan kehidupan yang bebas dari kekerasan.

Seruan perdamaian dari Assisi itu sekaligus mengingatkan bahwa mengakhiri perang membutuhkan lebih dari sekadar kesepakatan politik. Diperlukan keberanian untuk berdialog, kesediaan menghormati sesama, dan komitmen untuk menempatkan kemanusiaan di atas permusuhan.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Tokoh Agama Sasak TGH Lalu Nurudin Marzuki Wafat Saat Pimpin Doa
Tokoh Agama Sasak TGH Lalu Nurudin Marzuki Wafat Saat Pimpin Doa
Aktual
Mengapa Anak Disebut Perhiasan Dunia dalam Al-Quran? Ini Penjelasannya
Mengapa Anak Disebut Perhiasan Dunia dalam Al-Quran? Ini Penjelasannya
Aktual
6 Amalan Selama November 2026, dari Puasa Sunah hingga Sedekah
6 Amalan Selama November 2026, dari Puasa Sunah hingga Sedekah
Aktual
Mengenal Generasi Aiwa, Keturunan Indonesia di Arab Saudi yang Bantu Layanan Haji
Mengenal Generasi Aiwa, Keturunan Indonesia di Arab Saudi yang Bantu Layanan Haji
Aktual
Danantara Beli Hotel di Mekkah, Apa Dampaknya bagi Biaya Haji?
Danantara Beli Hotel di Mekkah, Apa Dampaknya bagi Biaya Haji?
Aktual
Cek Nama Jemaah Berhak Lunas Haji 2027, Ini Link Resmi Kemenhaj
Cek Nama Jemaah Berhak Lunas Haji 2027, Ini Link Resmi Kemenhaj
Aktual
Hadiri Forum di Italia, Menag Dorong Bahasa Agama Jadi Instrumen Diplomasi Global
Hadiri Forum di Italia, Menag Dorong Bahasa Agama Jadi Instrumen Diplomasi Global
Aktual
Kisah Umair bin Wahb, dari Penentang Islam Menjadi Sahabat Nabi
Kisah Umair bin Wahb, dari Penentang Islam Menjadi Sahabat Nabi
Aktual
Dari Madinah ke Gaza, MUI Serukan Perdamaian Dunia di Italia
Dari Madinah ke Gaza, MUI Serukan Perdamaian Dunia di Italia
Aktual
3 Pertanyaan Munkar dan Nakir di Alam Kubur, Apa Jawabannya Menurut Hadis?
3 Pertanyaan Munkar dan Nakir di Alam Kubur, Apa Jawabannya Menurut Hadis?
Aktual
Cegah Kecurangan, Kemenag Hubungkan Data Nikah dan Cerai pada 2027
Cegah Kecurangan, Kemenag Hubungkan Data Nikah dan Cerai pada 2027
Aktual
7 Kebiasaan Sederhana yang Dicintai Allah, Jangan Disepelekan
7 Kebiasaan Sederhana yang Dicintai Allah, Jangan Disepelekan
Aktual
Apakah Shalat Ostomate Tetap Sah jika Kantong Kolostomi Terisi Kotoran? Ini Penjelasannya
Apakah Shalat Ostomate Tetap Sah jika Kantong Kolostomi Terisi Kotoran? Ini Penjelasannya
Aktual
Hukum Jilbab Punuk Unta dalam Islam yang Dikaitkan dengan Penghuni Neraka, Bagaimana Penjelasannya?
Hukum Jilbab Punuk Unta dalam Islam yang Dikaitkan dengan Penghuni Neraka, Bagaimana Penjelasannya?
Aktual
Hukum “Saweran” untuk Streamer Menurut Islam, Ini Penjelasan Muhammadiyah
Hukum “Saweran” untuk Streamer Menurut Islam, Ini Penjelasan Muhammadiyah
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar