Editor
KOMPAS.com — Mendengarkan aspirasi rakyat merupakan bagian dari tanggung jawab pemimpin dalam menjalankan amanah. Kritik perlu disikapi dengan keterbukaan, introspeksi, dan perbaikan kebijakan untuk kepentingan masyarakat.
Baca juga: Khutbah Jumat 30 Oktober 2026: Ibadah Bukan Transaksi, Sudahkah Kita Ikhlas?
Dikutip dari NU Online, naskah khutbah Jumat berikut membahas tiga alasan pemerintah wajib mendengarkan aspirasi rakyat dalam Islam, dengan merujuk pada pesan tentang nasihat, pelayanan, dan keadilan.
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ, فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًا ۢ بَصِيْرًا
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,
Segala puji dan syukur hanya milik Allah swt. Karena dengan berkat rahmat-Nya, saat ini kita masih bisa berkumpul untuk melaksanakan shalat Jumat berjamaah di masjid yang mulia ini.
Selanjutnya, shalawat beserta salam tak lupa semoga tercurahkan bersama kepada baginda kita, Nabi Muhammad saw, juga kepada para keluarganya, sahabatnya, dan semoga melimpah kepada kita semua selaku umatnya. Amin ya Rabbal ‘alamin.
Khatib juga tak lupa untuk memberikan wasiat dan mengajak pada jamaah sekalian sekaligus diri pribadi agar selalu meningkatkan takwa kepada Allah Swt dengan cara menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,
Pada 28 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, sejumlah anak muda dan masyarakat sipil menggelar demonstrasi di beberapa wilayah Indonesia. Dalam aksi tersebut, mereka menyampaikan lima tuntutan sebagai bentuk kritik terhadap kinerja pemerintah.
Beberapa di antaranya adalah mendesak pemerintah menetapkan status bencana nasional di sejumlah daerah terdampak, menggunakan APBN untuk kepentingan rakyat, serta menghentikan pemborosan anggaran untuk kepentingan politik. Selain itu, mereka juga menyuarakan berbagai tuntutan lain yang bertujuan mendorong perbaikan kebijakan pemerintah agar lebih berpihak kepada masyarakat.
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt, Lalu bagaimana seharusnya pemerintah menanggapi kritik? Sejatinya, dalam Islam, pemerintah yang memiliki kekuasaan wajib mendengarkan aspirasi rakyatnya. Pemerintah juga wajib menanggapinya dengan baik.
Terdapat setidaknya 3 argumentasi yang mewajibkan pemerintah mendengarkan aspirasi rakyat:
Pertama, Kritik Merupakan Bagian dari Koreksi Kekuasaan Bukan Kebencian
Kritik merupakan bagian dari koreksi atas kekuasaan yang dinilai tidak menjalankan amanat jabatan dengan baik. Oleh karenanya, saat pemerintah mendapatkan kritik itu bukan berarti rakyat membenci pemerintah. Melainkan menyampaikan koreksi atas ketidakadilan yang terjadi agar pemerintah melakukan introspeksi dan memperbaikinya.
Rasullah Saw bersabda: الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، قُلْنَا لِمَنْ؟، قَالَ صلى الله عليه وسلم: للهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ (رواه مسلم)
Artinya: “Agama memerintahkan nasihat (berbuat kebaikan),” ditanyakan kepada Nabi: kepada siapa?, Nabi menjawab: “Kebaikan kepada Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan kepada kaum muslimin secara umum (yang bukan pemimpin)”, (HR Muslim).
Hadis ini menunjukkan bahwa menasihati adalah bagian dari iman, termasuk dalam hal ini ialah menasihati pemimpin. Oleh karenanya dapat dipahami bahwa kritik bukan bentuk kebencian rakyat terhadap pemerintah. Melainkan koreksi atas kekuasaan yang sedang berlangsung.
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,
Alasan kedua, pemerintah harus mendengarkan kritik karena pemerintah menjalankan amanah dari rakyat. Karena itu, ketika masyarakat menyampaikan kritik, pemerintah seharusnya tidak mengabaikannya. Kritik perlu diterima dengan terbuka, dijadikan bahan introspeksi, dan ditindaklanjuti melalui perbaikan kebijakan demi kepentingan masyarakat.
Imam Al-Ghazali, dalam At-Tibr al-Masbuk fi Nashihat al-Muluk, halaman 27, menekankan pentingnya tanggung jawab penguasa dalam mengurus kepentingan rakyat.
Gagasan ini mengingatkan bahwa seorang pemimpin tidak boleh mengabaikan persoalan masyarakat hanya karena sibuk dengan urusan lain, bahkan jika urusan tersebut berkaitan dengan ibadah sunah yang bersifat pribadi.
Sebab, ketika kepentingan publik membutuhkan perhatian, pemimpin harus mendahulukan tanggung jawabnya dalam memenuhi amanah dan hak-hak rakyat. Simak penjelasan Al-Ghazali berikut:
أَنْ لَا تَحْتَقِرَ انْتِظَارَ أَرْبَابِ الْحَوَائِجِ وَوُقُوْفَهُمْ بِبَابِكَ وَاحْذَرْ مِنْ هَذَا الْخَطَرِ، وَمَتَى كَانَ لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ إِلَيْكَ حَاجَةُ فَلَا تَشْتَغِلْ عَنْ قَضَائِهَا بِنَوَافِلِ الْعِبَادَاتِ فَإِنَّ قَضَاءَ حَوَائِجِ الْمُسْلِمِيْنَ أَفْضَلُ مِنْ نَوَافِلِ الْعِبَادَاتِ
Artinya: “Bagi pejabat, hendaknya kalian tidak menghina rakyat dengan menunggu mereka membutuhkan bantuan hingga mereka sampai ke depan rumahmu. Hindarilah kebahayaan ini.
Jika salah satu dari umat Islam (rakyat) memiliki kebutuhan darimu maka jangan sampai hal lain yang bersifat sunnah menyibukkanmu dari memenuhi kebutuhan mereka. Sebab memenuhi kebutuhan umat Islam (rakyat) lebih utama dari ibadah sunnah”.
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,
Alasan ketiga, menanggapi kritik dengan introspeksi dan perbaikan adalah bagian dari amanat jabatan. Allah berfirman dalam surat An-Nisa ayat 58:
اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًا ۢ بَصِيْرًا
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada pemiliknya. Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu tetapkan secara adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang paling baik kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (Qs. An-Nisa: 58)
Imam Ibnu Katsir, dalam kitab Tafsirul Qur’anil Adzim juz 2, hal 298, menjelaskan bahwa amanat yang dimaksud pada ayat di atas mencakup segala bentuk amanat. Baik amanat yang menyangkut hak-hak Allah, maupun hak-hak yang menyangkut dengan hak-hak manusia.
Imam Ibnu Katsir berkata: وَهَذَا يَعُمُّ جَمِيعَ الْأَمَانَاتِ الْوَاجِبَةِ عَلَى الْإِنْسَانِ
Artinya: “Ayat ini mencakup seluruh amanat yang wajib dilaksanakan manusia.”
Dari penjelasan Imam Ibnu Katsir tersebut dapat dipahami bahwa amanat jabatan merupakan bagian dari hak sesama manusia. Oleh karenanya, pemerintah wajib mendengarkan aspirasi rakyat, melalukan koreksi dan perbaikan.
Demikian Khutbah Jumat tentang 3 alasan pemerintah wajib mendengarkan aspirasi rakyat dalam Islam. Semoga pemerintah dan para pejabat di dalamnya mendengarkan aspirasi dan kritik yang disuarakan rakyatnya. Juga melakukan introspeksi dan perbaikan kebijakan dengan baik. Aamiin
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ
الْحَمْدُ لِلَّهِ. الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَهَدَانَا إِلَى طَرِيقِهِ الْمُسْتَقِيمِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ . اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.