Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengapa Hati Terasa Gelisah? Ini Doa yang Dianjurkan Rasulullah

Kompas.com, 17 Januari 2026, 19:00 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com - Ada kalanya hati terasa gelisah tanpa sebab yang jelas. Tidak sedang kekurangan, tidak pula tertimpa musibah besar, tetapi dada terasa sempit dan pikiran tak tenang. Dalam Islam, kegelisahan batin dipahami sebagai bagian dari ujian hidup manusia.

Rasulullah SAW mengajarkan doa khusus ketika hati diliputi kecemasan dan kesedihan. Doa ini diriwayatkan dalam hadits shahih dan kerap dibaca Nabi saat menghadapi tekanan batin.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

Artinya:

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan kikir, dari lilitan utang, serta dari tekanan manusia.”
(HR. Al-Bukhari)

Ulama menjelaskan, doa ini mencakup perlindungan dari beban batin, tekanan sosial, hingga kecemasan masa depan.

Baca juga: 5 Doa Sedekah Subuh agar Rezeki Lancar dan Penuh Keberkahan

Membacanya secara rutin, terutama di pagi dan sore hari, menjadi cara Nabi menjaga ketenangan jiwa.

Di tengah kehidupan modern yang penuh distraksi dan tekanan, doa ini relevan sebagai pengingat bahwa ketenangan sejati tidak lahir dari kendali penuh atas hidup, melainkan dari berserah diri kepada Allah.

Kegelisahan batin sering kali muncul bukan karena satu peristiwa besar, melainkan akumulasi hal-hal kecil yang menumpuk tanpa disadari.

Tekanan pekerjaan, tuntutan sosial, perbandingan hidup di media sosial, hingga kekhawatiran tentang masa depan dapat membentuk beban psikologis yang pelan-pelan menggerogoti ketenangan hati.

Islam memandang kondisi ini sebagai sinyal bahwa manusia perlu kembali menata relasi dengan Tuhannya.

Menariknya, doa yang diajarkan Rasulullah SAW tersebut tidak hanya menyebut “kegelisahan” dan “kesedihan”, tetapi juga menyandingkannya dengan sifat-sifat lain seperti kelemahan, kemalasan, ketakutan, dan lilitan utang.

Para ulama menilai, hal ini menunjukkan bahwa kegelisahan batin sering berkaitan dengan kondisi mental, fisik, dan sosial secara bersamaan. Ketika satu sisi rapuh, sisi lain ikut terdampak.

Dalam konteks ini, doa bukan sekadar rangkaian kata, melainkan proses kesadaran. Saat seseorang melafalkan doa tersebut, ia diajak untuk mengenali sumber kegelisahannya: apakah berasal dari rasa takut, kelelahan, tekanan ekonomi, atau beban relasi dengan sesama manusia. Dengan demikian, doa menjadi pintu awal untuk berdamai dengan diri sendiri.

Rasulullah SAW dikenal sebagai pribadi yang paling dekat dengan Allah, namun beliau juga manusia yang merasakan sedih, cemas, dan tertekan.

Fakta bahwa Nabi membaca doa ini menunjukkan bahwa kegelisahan bukan tanda lemahnya iman.

Justru, cara menyikapinya yang menentukan kualitas keimanan seseorang. Nabi tidak memendam kegelisahan, tetapi membawanya dalam doa.

Di era modern, banyak orang mencari ketenangan melalui berbagai cara: hiburan, perjalanan, hingga jeda dari kesibukan. Semua itu bisa membantu, tetapi sering bersifat sementara.

Islam menawarkan pendekatan yang lebih mendasar—menguatkan batin dengan mengingat bahwa hidup tidak sepenuhnya berada dalam kendali manusia. Ada Zat Maha Mengatur yang mengetahui apa yang tidak sanggup dipahami oleh akal.

Membaca doa ini secara rutin, terutama pada waktu pagi dan sore, menjadi latihan spiritual yang sederhana namun berdampak.

Ia membantu seseorang memulai hari dengan kesadaran bahwa segala kemungkinan telah diserahkan kepada Allah, dan menutup hari dengan rasa aman karena telah berlindung kepada-Nya.

Banyak ulama menyarankan agar doa ini dibaca dengan perlahan, disertai penghayatan maknanya, bukan sekadar diucapkan di bibir.

Ketenangan yang lahir dari doa bukan berarti hidup menjadi tanpa masalah. Namun, hati menjadi lebih lapang dalam menghadapi masalah tersebut.

Baca juga: Doa Malam Isra Miraj: Mustajab Mengabulkan Hajat

Ada jarak emosional yang sehat antara diri dan beban hidup, sehingga seseorang tidak mudah tenggelam dalam kecemasan berlebihan.

Pada akhirnya, doa yang diajarkan Rasulullah SAW ini mengingatkan bahwa kegelisahan adalah bagian dari perjalanan manusia.

Ia bukan musuh yang harus dilawan dengan keras, melainkan isyarat untuk berhenti sejenak, menunduk, dan mengadu kepada Allah. Di situlah ketenangan sejati mulai tumbuh—bukan karena masalah menghilang, tetapi karena hati menemukan tempat bersandar.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com