Penulis
KOMPAS.com - Sumber utama hukum Islam ada dua, yaitu Al Quran dan Hadits. Al Quran adalah Firman Allah SWT sementara hadits adalah perkataan, persetujuan, dan perbuatan Rasulullah SAW.
Dalam Islam ada hadits khusus yang berbeda dari hadits pada umumnya, yaitu Hadits Qudsi. Hadits ini bersumber langsung dari Allah SWT, tetapi berdeda dengan Al Quran yang merupakan firman Allah SWT.
Baca juga: Kumpulan Hadits Tentang Sedekah dan Keutamaannya Menurut Islam
Hadits qudsi berasal dari kata hadits dan qudsi. Hadits artinya perkataan, persetujuan, dan perbuatan Nabi Muhammad SAW. Sedangkan Qudsi berasal dari Al Quddus yaitu salah satu nama Allah SWT yang artinya Maha Suci. Qudsi bisa diartikan sebagai hadits dari Allah SWT yang Maha Suci.
Secara istilah, Hadits Qudsi adalah hadits yang disampaikan Rasulullah SAW dari Allah Ta‘ala, di mana maknanya berasal dari Allah, sedangkan lafazhnya dari Rasulullah SAW.
Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ mengatakan hadits qudsi adalah apa yang dinukil Nabi SAW dari Rabb-nya, namun tidak termasuk Al-Qur’an.
Syaikh Muhammad Amin al-Kurdi dalam kitab Tanwir al-Qulub menyatakan bahwa hadits qudsi adalah wahyu yang di turunkan kepada Nabi Muhammad dengan tanpa perantara malaikat melainkan dengan ilham atau mimpi.
Ada kalanya hadis Qudsi itu turun berupa lafadz dan maknanya dan adakalanya lafadznya saja dan kemudian Nabi sendiri yang mengungkapkan dengan beberapa lafadz dari dirinya sendiri yang di nisbahkan kepada Allah dan membaca hadis Qudsi tersebut tidak di anggap ibadah dan jga tidak mengandung mukjizat.
Para ulama menjelaskan perbedaan ini secara rinci:
Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dalam Fathul Baari' menjelaskan perbedaan tentang Hadits Qudsi dan Al-Qur'an:
a. Al-Qur’an:
Baca juga: Hadits-hadits Lemah dan Palsu Seputar Puasa Rajab yang Populer di Masyarakat
b. Hadits Qudsi
Berikut ini perbedaan Hadits Qudsi dan hadits Nabawi
a. Hadits Nabawi lafazh dan makna dari Rasulullah SAW
b. Hadits Qudsi makna dari Allah, lafazh dari Rasulullah SAW
Keduanya sama-sama tidak dibaca sebagai ibadah khusus seperti halnya Al-Qur’an.
Hadits qudsi tetap menjadi hujjah kedua dalam Islam setelah Al-Qu'an selama sanadnya shahih atau hasan. Ia dapat digunakan untuk memhami dasar-dasar akidah, akhlak, fikih, dan tazkiyatun nafs.
Namun Imam As-Sakhawi dalam Al-Qaul Al-Badi’ menegaskan bahwa hadits qudsi tidak otomatis shahih.
Baca juga: Kumpulan Hadits Keutamaan Melaksanakan Shalat Jenazah
RasulullahSAW bersabda:
يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِى بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِى لاَ تُشْرِكُ بِى شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً
Artinya: “Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi kemudian engkau tidak berbuat syirik pada-Ku dengan sesuatu apa pun, maka Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi itu pula.” (HR. At Tirmidzi)
يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِى ، فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى
وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا
وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا ، وَإِنْ أَتَانِى يَمْشِى أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً
Artinya: “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Baca juga: Penjelasan Mengenai Enam Proses Penciptaan Bumi Berdasarkan Hadits
Hadits qudsi merupakan bentuk kasih sayang Allah yang disampaikan melalui lisan Rasulullah SAW. Ia memperlihatkan kedekatan Rabb dengan hamba-Nya, menumbuhkan harapan, dan membentuk akhlak yang lembut namun bertanggung jawab.
Memahami hadits qudsi secara benar, baik dari sisi makna maupun sumber kitabnya akan menjaga umat dari kesalahpahaman dan memperkuat hubungan spiritual dengan Allah Ta‘ala.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang