KOMPAS.com - Malam Ramadhan selalu menghadirkan suasana batin yang berbeda. Setelah shalat Isya dan Tarawih, umat Islam menutup rangkaian qiyamul lail dengan witir.
Pada momen inilah, terdapat dzikir yang diajarkan Rasulullah SAW dan terus diamalkan hingga kini, yaitu bacaan Subhanal Malikil Quddus.
Dzikir ini bukan sekadar lafaz pujian, melainkan pengakuan akan keagungan dan kesucian Allah SWT.
Keutamaannya bersandar pada dalil hadis serta praktik ibadah Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan para ulama hadis.
Baca juga: Doa Setelah Shalat Tarawih dan Dzikir Witir Lengkap dengan Artinya
Anjuran memperbanyak doa ditegaskan Allah SWT dalam Al-Qur’an, salah satunya Surah Al-Baqarah ayat 186:
وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ ١٨٦:
Wa idzā sa’alaka ‘ibādī ‘annī fa innī qarīb, ujību da‘watad-dā‘i idzā da‘ān, falyastajībū lī walyu’minū bī la‘allahum yarsyudūn.
Artinya: “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”
Ayat ini menjadi landasan teologis bahwa doa dan dzikir, termasuk setelah witir merupakan wujud kedekatan seorang hamba kepada Tuhannya.
Dalam buku Doa dan Wirid Penolak Bala; 100+ Doa dan Bacaan Ruqyah dalam Al-Qur’an dan Hadis karya Sulthan Adam, SQ dijelaskan bahwa ayat ini menunjukkan Allah SWT membuka ruang komunikasi langsung dengan hamba-Nya tanpa perantara.
Baca juga: Niat dan Tata Cara Sholat Tarawih serta Witir Lengkap dan Dalilnya
Bacaan ini bersumber dari praktik Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab Sunannya.
ورد في السنة العملية أنَّ الرسول الكريم كان (إذا سَلَّمَ فِيْ الوِترِ، قَالَ: سُبْحانَ المَلِكِ القُدُّوْسِ) رواه أبو داود
Artinya: “Telah datang dalam sunnah amaliyah bahwa Rasulullah apabila selesai salam shalat witir beliau mengucapkan: Subhanal Malikil Quddus.” (HR. Abu Dawud)
Hadis ini menegaskan bahwa dzikir tersebut adalah bagian dari sunnah yang dicontohkan langsung oleh Muhammad setelah menunaikan witir.
Berikut teks lengkap dzikir yang umum diamalkan setelah witir:
سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ (٣×)
سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّنَا وَرَبُّ المَلَائِكَةِ وَالرُّوْحِ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ
نَسْأَلُك رِضَاك وَالْجَنَّةَ وَنَعُوذُ بِك مِنْ سَخَطِك وَالنَّارِ
اللَّهُمَّ إنَّك عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا (٣×) يَا كَرِيْم
Subhānal malikil quddūs (3×)
Subbūhun quddūs, rabbunā wa rabbul malāikati warrūh.
Asyhadu allā ilāha illallāh, astaghfirullāh.
Nas-aluka ridhāka wal jannata wa na‘ūdzu bika min sakhathika wan nār.
Allāhumma innaka ‘afuwwun karīmun tuhibbul ‘afwa fa‘fu ‘annā (3×) yā karīm.
Artinya: “Maha Suci Raja Yang Maha Suci. Maha Suci Tuhan kami dan Tuhan para malaikat serta Jibril. Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan aku memohon ampun kepada-Nya. Kami memohon keridaan dan surga-Mu serta berlindung dari murka dan neraka-Mu. Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia, Engkau mencintai pemaafan, maka maafkanlah kami.”
Dalam kitab Al-Adzkar karya Imam Nawawi dijelaskan bahwa memperbanyak tasbih setelah shalat malam merupakan bentuk pengagungan kepada Allah dan pengakuan atas kelemahan diri.
Baca juga: Doa Kamilin Tarawih, Dzikir dan Doa Setelah Sholat Tarawih dan Witir
Setelah membaca dzikir di atas, umat Islam biasa melanjutkan dengan doa berikut:
أَللَّهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلَاتَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَتَخَشُعَنَا وَتَضَرُّعَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَنَا يَا أَللهُ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Allāhumma rabbanā taqabbal minnā ṣalātanā wa ṣiyāmanā wa qiyāmanā wa takhasysyu‘anā wa taḍarru‘anā wa ta‘abbudanā wa tammim taqṣīranā yā Allāh yā arhamar rāhimīn. Wa ṣallallāhu ‘alā khairi khalqihi sayyidinā Muḥammadin wa ‘alā ālihi wa aṣḥābihi ajma‘īn walhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn.
Artinya: “Ya Allah Tuhan kami, terimalah shalat kami, puasa kami, qiyam kami, kekhusyukan kami, kerendahan hati kami, dan ibadah kami. Sempurnakan kekurangan kami, wahai Allah Yang Maha Penyayang. Semoga rahmat tercurah kepada sebaik-baik makhluk-Mu, Nabi Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.”
Baca juga: Kapan Tarawih Pertama 2026? Cek Jadwal dan Niatnya
Secara makna, “Al-Malik” menegaskan kekuasaan mutlak Allah, sedangkan “Al-Quddus” menunjukkan kesucian-Nya dari segala kekurangan.
Kombinasi dua nama ini membangun kesadaran spiritual bahwa manusia adalah hamba yang lemah di hadapan Raja Yang Maha Sempurna.
Dalam buku Fikih Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa dzikir setelah witir menjadi penutup ibadah malam, memperkuat nilai tauhid dan harapan ampunan.
Mengamalkan Subhanal Malikil Quddus bukan hanya mengikuti sunnah, tetapi juga membangun ketenangan batin.
Di bulan Ramadhan, dzikir ini menjadi bagian penting dari rangkaian Shalat Tarawih dan Shalat Witir.
Dzikir Subhanal Malikil Quddus adalah warisan spiritual yang kaya makna. Ia bukan sekadar rangkaian kata, melainkan pengakuan atas kebesaran Allah, harapan akan ampunan, serta doa agar ibadah Ramadhan diterima.
Malam demi malam, ketika suara tasbih dilantunkan selepas witir, tersimpan harapan agar kita termasuk hamba yang diampuni dan dikumpulkan bersama orang-orang saleh dalam rahmat-Nya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang