Editor
KOMPAS.com - Menjelang Hari Raya Idul Fitri, umat Islam mulai mengumandangkan takbir sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT.
Tradisi takbiran menjadi penanda berakhirnya bulan Ramadhan sekaligus menyambut hari kemenangan.
Takbir biasanya dilantunkan secara bersama-sama di masjid, mushala, hingga lingkungan masyarakat.
Selain sebagai syiar Islam, takbiran juga memperkuat suasana kebersamaan di malam Idul Fitri. Lalu, kapan sebenarnya takbiran Idul Fitri mulai dikumandangkan?
Baca juga: Bacaan Takbiran Idul Fitri Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Takbiran Idul Fitri dimulai sejak terbenamnya matahari pada akhir bulan Ramadhan atau malam 1 Syawal.
Waktu ini menandai berakhirnya kewajiban puasa dan dimulainya hari raya bagi umat Islam.
Takbir kemudian terus dikumandangkan hingga sebelum pelaksanaan sholat Idul Fitri.
Dalam rentang waktu tersebut, umat Islam dianjurkan memperbanyak takbir sebagai bentuk syukur atas nikmat Ramadhan.
Baca juga: Makan Sebelum Sholat Idul Fitri, Boleh atau Tidak? Berikut Penjelasan Hukumnya
Pada tahun 2026, takbiran Idul Fitri bagi masyarakat Muhammadiyah bisa dimulai pada Kamis, 19 Maret 2026 setelah waktu Maghrib.
Hal ini karena PP Muhammadiyah telah menetapkan 1 Syawal 1447 H atau Lebaran Idul Fitri 2026 jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.
Keputusan ini berdasarkan metode hisab Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang menetapkan Lebaran lebih awal dibandingkan perkiraan pemerintah.
Sementara, bagi masyarakat umum dan Nahdlatul Ulama bisa menunggu hasil keputusan rukyatul hilal dan sidang isbat yang akan berlangsung sore ini Kamis, 19 Maret 2026.
Apabila hilal tidak terlihat, maka 1 Syawal 1447 H atau Lebaran Idul Fitri 2026 jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Sehingga, takbiran Idul Fitri 2026 baru akan berlangsung pada Jumat, 20 Maret 2026 setelah waktu Maghrib.
Berikut bacaan takbiran Idul Fitri yang umum dilantunkan:
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِـيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا
لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُوْنَ،
لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ،
لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ،
اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
Latin:
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar.
La ilaha illallahu wallahu akbar. Allahu akbar wa lillahil hamdu.
Allahu akbar kabira, walhamdu lillahi katsira, wa subhanallahi bukratan wa ashila,
La ilaha illallahu wa la na'budu illa iyyahu. Mukhlishina lahud dina wa law karihal kafirun,
La ilaha illallahu wahdah, shadaqa wa'dah, wa nashara 'abdah, wa a'azza jundahu wa hazamal ahzaba wahdah,
La ilaha illallahu wallahu akbar.
Allahu akbar walillahil hamdu.
Artinya:
"Allah maha besar, Allah maha besar, Allah maha besar.
Tiada tuhan selain Allah. Allah maha besar. Segala puji bagi-Nya.
Allah maha besar. Segala puji yang banyak bagi Allah. Maha suci Allah pagi dan sore.
Tiada tuhan selain Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya, memurnikan bagi-Nya sebuah agama meski orang kafir tidak menyukainya.
Tiada tuhan selain Allah yang esa, yang menepati janji-Nya, membela hamba-Nya, dan sendiri memorak-porandakan pasukan musuh.
Tiada tuhan selain Allah. Allah maha besar.
Allah maha besar segala puji bagi-Nya."
Takbiran dapat dilakukan secara individu maupun berjamaah di berbagai tempat seperti masjid, mushala, rumah, maupun ruang publik. Tradisi ini juga kerap dilakukan dalam bentuk pawai takbiran di sejumlah daerah.
Bagi laki-laki dianjurkan mengeraskan suara saat bertakbir, sedangkan perempuan disarankan melafalkannya dengan suara lebih pelan.
Dikutip dari laman MUI SUlsel, H. M. Zakka Herry mengingatkan pentingnya membaca takbir dengan pelafalan yang tepat. Kesalahan tajwid dapat memengaruhi arti bacaan, terlebih jika dikumandangkan menggunakan pengeras suara.
"Orang ada yang bertakbir diakhir itu memakai kata "ilham" padahal yang benar itu "Hilhamd" ada qolqolah diujung bacaan" jelas Zakka
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang