Editor
KOMPAS.com - Berdoa merupakan salah satu bentuk ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam.
Ibadah ini tidak hanya dilakukan ketika seseorang sedang menghadapi kesulitan atau musibah, tetapi juga saat berada dalam keadaan sehat, lapang, dan penuh nikmat.
Rasulullah SAW menegaskan bahwa doa memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam Islam.
Baca juga: Doa Nabi Yunus Dibaca Saat Menghadapi Kesulitan, Lengkap Arab Latin Artinya
Beliau bersabda, "Do'a itu ibadah" dan "Tiada sesuatu yang paling mulia dalam pandangan Allah, selain dari berdo'a kepada-Nya, sedang kita dalam keadaan lapang."
Melalui doa, seorang Muslim memohon pertolongan, ampunan, dan berbagai kebaikan kepada Allah SWT sebagai wujud ketergantungan kepada-Nya.
Agar doa dipanjatkan dengan adab yang benar, Islam mengajarkan sejumlah tata cara yang sebaiknya diperhatikan sebelum dan saat berdoa.
Baca juga: 7 Doa Harian Rasulullah yang Pendek dan Mudah Dihafal, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Dalam buku Kumpulan Doa Sehari-hari (2013) yang disusun Subdit Publikasi Dakwah dan HBI Direktorat Penerangan Agama Islam Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Republik Indonesia, berikut adab atau tata cara berdoa:
Salah satu adab yang dianjurkan ketika berdoa adalah menghadap kiblat.
Anjuran ini didasarkan pada hadis yang menjelaskan kebiasaan Rasulullah SAW saat berdoa di Padang Arafah.
Disebutkan dalam hadis tersebut:
"Rasulullah datang ketempat wuquf di Arafah dan ia menghadap kiblat lalu terus menerus berdo'a sehingga tenggelam matahari."
Sebelum menyampaikan permohonan kepada Allah SWT, umat Islam dianjurkan mengawalinya dengan memuji Allah, membaca istighfar, dan bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW.
Hal ini sebagaimana diceritakan oleh salah seorang sahabat Nabi.
"Ketika Nabi Muhammad saw duduk dimesjid, tiba-tiba datang seorang laki-laki masuk, lalu ia shalat. Setelah selesai ia membaca doa,'Allahummaghfirlii warhamnii'. Maka waktu itu Rasulullah pun berkata, wahai kawan, engkau terburu-buru. Jika Engkau shalat, duduklah dahulu kemudian bacalah puji-pujian kepada Allah. Karena dia yang memiliki pujian itu, lalu Engkau baca shalawat kepadaku kemudian baru berdo'a. Kemudian datang seorang yang lain setelah shalat ia memuji Allah dan membaca shalawat untuk Nabi Muhammad saw. dan setelah itu Nabi bersabda, Berdo'alah akan dipenuhi."
Islam juga mengajarkan agar doa dipanjatkan dengan suara yang lembut disertai rasa takut dan penuh harapan kepada Allah SWT.
Hal tersebut dijelaskan dalam firman Allah SWT pada Surah Al-A'raf ayat 55-56:
"Berserulah (Berdo'a) kepada Tuhanmu dengan merendahkan diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah engkau berbuat kerusakan dibumi sesudah (Allah SWT ) memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak diterima) dan harap (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik." (Q.S. Al A'raf: 55-56)
Selain memperhatikan adab dalam berdoa, seorang Muslim juga dianjurkan memiliki keyakinan dan prasangka baik kepada Allah SWT.
Keyakinan tersebut menjadi bagian penting dalam memanjatkan doa agar dilakukan dengan penuh harap kepada-Nya.
Rasulullah SAW menyampaikan hadis qudsi yang berbunyi:
"Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla berfirman: Aku akan mengikuti prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Dan Aku selalu menyertainya apa bila ia berdoa kepada-Ku."
Dengan memperhatikan adab-adab tersebut, doa yang dipanjatkan tidak hanya menjadi permohonan kepada Allah SWT, tetapi juga menjadi bentuk ibadah yang dilakukan sesuai tuntunan Islam.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang