KOMPAS.com- Bacaan tahlil NU menjadi salah satu amalan yang lekat dengan tradisi keagamaan warga Nahdlatul Ulama (NU). Tahlil biasanya dibaca secara bersama-sama dalam berbagai kesempatan, seperti ziarah kubur, haul, pengajian, hingga kegiatan keagamaan masyarakat.
Di tengah pelaksanaan Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, tradisi pembacaan tahlil juga tidak terlepas dari kehidupan warga NU.
Sebelumnya, kegiatan keagamaan di lingkungan Tambakberas juga diisi dengan pembacaan tahlil dan doa sebagai bagian dari rangkaian kegiatan untuk mendoakan para ulama dan tokoh yang telah wafat.
Bagi warga NU, tahlil bukan sekadar membaca kalimat la ilaha illallah. Tahlilan merupakan rangkaian bacaan yang terdiri atas ayat Al-Qur'an, zikir, selawat, dan doa yang kemudian ditujukan untuk memohon rahmat serta ampunan Allah SWT.
Baca juga: Doa Khususon Ila Ruhi (Tahlil) untuk Orang Tua & Keluarga
Tahlil berasal dari kalimat la ilaha illallah yang berarti tidak ada Tuhan selain Allah.
Dalam praktik masyarakat Indonesia, istilah tahlil juga digunakan untuk menyebut rangkaian bacaan yang dibaca bersama-sama dalam suatu majelis.
Dikutip dari NU Online, bacaan tahlil ketika ziarah kubur memiliki landasan dari penjelasan sejumlah ulama.
Imam Nawawi, misalnya, mengutip pendapat Qadhi Abut Thayyib mengenai manfaat doa orang yang masih hidup bagi orang yang telah meninggal.
Karena itu, tahlilan biasanya diakhiri dengan doa untuk orang yang telah meninggal, baik keluarga, guru, ulama, maupun seluruh umat Islam yang telah wafat.
Susunan bacaan tahlil dapat berbeda-beda sesuai kebiasaan masyarakat dan majelis yang melaksanakannya.
Secara umum, rangkaiannya meliputi:
Susunan tersebut kemudian ditutup dengan doa yang berisi permohonan agar Allah SWT menerima amal, memberikan rahmat, serta menyampaikan pahala bacaan kepada pihak yang didoakan.
Salah satu bacaan utama dalam tahlil adalah:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ
Lā ilāha illallāh
Artinya: “Tiada Tuhan selain Allah.”
Kalimat tersebut merupakan inti dari tahlil.
Kalimat la ilaha illallah juga dibaca berulang kali setelah rangkaian ayat dan zikir sebelumnya.
Selain tahlil, terdapat pula bacaan selawat, istighfar, dan doa.
Salah satu bacaan selawat yang terdapat dalam susunan tersebut adalah:
اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Allahumma shalli 'ala sayyidina Muhammad
Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad.”
Bacaan kemudian dilanjutkan dengan doa yang memohon agar Allah menerima bacaan Al-Qur'an, tahlil, tasbih, istighfar, dan selawat yang telah dibaca serta memberikan manfaat dan keberkahan bagi orang yang telah meninggal.
Baca juga: Bacaan Tawasul Lengkap & Silsilah Doa Tahlil (Arab/Latin)
Salah satu tujuan utama tahlilan dalam tradisi masyarakat NU adalah mendoakan orang yang telah meninggal.
Karena itu, nama orang yang hendak didoakan biasanya disebutkan dalam rangkaian pembacaan.
Mengutip dari NU Online, doa orang yang masih hidup dapat memberikan manfaat bagi orang yang telah meninggal.
Dalam penjelasan yang mengutip Imam Nawawi, membaca Al-Qur'an di makam dan berdoa setelahnya juga dibahas sebagai bentuk memohon rahmat dan keberkahan bagi orang yang telah wafat.
Dengan demikian, tahlilan tidak hanya menjadi kegiatan berkumpul, tetapi juga menjadi sarana bagi keluarga dan masyarakat untuk bersama-sama mengingat kematian serta mendoakan orang yang telah mendahului mereka.
Pembacaan tahlil telah menjadi salah satu amaliah yang dikenal luas di kalangan warga NU.
Kegiatan tersebut dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, mulai dari tahlilan keluarga, ziarah kubur, haul ulama, hingga kegiatan keagamaan di lingkungan masyarakat.
Di Jombang, misalnya, pembacaan tahlil dan doa juga dilakukan oleh belasan ribu santri di kawasan makam KH Abdul Wahab Chasbullah dalam rangka Haul ke-55 Mbah Wahab pada Mei 2026.
Kegiatan tersebut menunjukkan bagaimana tahlil menjadi bagian dari tradisi penghormatan dan doa bagi ulama yang telah wafat.
Menjelang Muktamar ke-35 NU, kegiatan keagamaan di Jombang juga diisi dengan rangkaian istighotsah, tahlil, dan selawat sebagai ikhtiar mendoakan kelancaran pelaksanaan forum tersebut.
Karena itu, bacaan tahlil NU tidak hanya dapat ditemui dalam acara setelah seseorang meninggal dunia.
Tahlil juga hadir dalam tradisi ziarah kubur, haul, pengajian, dan berbagai kegiatan keagamaan masyarakat.
Bagi warga NU, rangkaian tersebut menjadi salah satu bentuk doa, zikir, dan penghormatan kepada orang-orang yang telah wafat sekaligus pengingat bagi umat Islam untuk senantiasa mengingat Allah SWT dan kehidupan setelah kematian.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT