Editor
KOMPAS.com - Shalat Witir adalah salah satu ibadah sunnah yang sangat dianjurkan sebagai penyempurna ibadah malam dan memiliki keutamaan besar dalam mendekatkan diri kepada Allah.
Menurut pandangan Muhammadiyah, shalat witir disebut juga shalat lail sebagaimana juga shalat tahajjud, qiyamu lail dan qiyamu Ramadhan
Baca juga: Niat Sholat Witir 1 dan 3 Rakaat: Arab, Latin, Arti, dan Tata Caranya
Salah satu cara melaksanakan shalat Witir adalah tiga rakaat dalam satu salam. Pelaksanaan tersebut dikenal sebagai Witir secara sekaligus atau washal, selain terdapat pula cara dua rakaat kemudian dilanjutkan satu rakaat atau fashal.
Dilansir dari laman NU Online, Muhammadiyah, Baznas, dan sumber lainnya, berikut ulasan terkait sholat Witir.
Baca juga: Doa Setelah Sholat Witir Lengkap: Arab, Latin, dan Arti
Bacaan niat sholat Witir 3 rakaat dapat dibaca sebelum memulai shalat. Berikut bacaan niat dalam bahasa Arab:
أُصَلِّيْ سُنَّةً مِنَ الْوِتْرِ ثَلَاثَ رَكَعَاتٍ لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushallî sunnatan minal witri tsalâtsa raka‘âtin lillâhi ta‘âlâ.
Artinya: “Aku niat shalat sunnah witir tiga rakaat karena Allah ta’ala.”
Niat tersebut menunjukkan keinginan untuk melaksanakan shalat sunnah Witir sebanyak tiga rakaat karena Allah ta’ala.
Sholat Witir tiga rakaat dapat dilaksanakan dengan dua pola, yaitu tiga rakaat sekaligus dalam satu salam atau dua rakaat kemudian dilanjutkan satu rakaat. Kedua cara tersebut berbeda dalam pembagian rakaat dan salam yang dilakukan.
Sholat Witir tiga rakaat sekaligus atau washal dilakukan dalam satu rangkaian shalat. Tiga rakaat dikerjakan secara berurutan dan ditutup dengan satu kali salam pada akhir rakaat ketiga.
Dalam pola ini, shalat tidak dipisahkan dengan salam setelah rakaat kedua. Setelah menyelesaikan rakaat kedua, pelaksana langsung berdiri untuk mengerjakan rakaat ketiga.
Sholat Witir dengan pola fashal dilakukan dengan mengerjakan dua rakaat terlebih dahulu, kemudian salam. Setelah itu, shalat dilanjutkan dengan satu rakaat sebagai penutup.
Dengan pola tersebut, tiga rakaat Witir terbagi menjadi dua rangkaian shalat, yaitu dua rakaat dan satu rakaat. Masing-masing rangkaian diakhiri sesuai pelaksanaan shalatnya.
Perbedaan utama Witir washal dan fashal terletak pada pembagian rakaat dan salam. Witir washal dikerjakan tiga rakaat secara terus-menerus dan diakhiri satu salam, sedangkan fashal dikerjakan dua rakaat lalu salam dan dilanjutkan satu rakaat.
Keduanya sama-sama menghasilkan sholat Witir tiga rakaat. Perbedaan tersebut hanya berkaitan dengan pola pelaksanaannya.
Sholat Witir tiga rakaat sekaligus dilakukan dalam satu rangkaian hingga salam pada rakaat ketiga. Niat yang digunakan disesuaikan dengan pelaksanaan Witir sebanyak tiga rakaat.
Bacaan niat sholat Witir tiga rakaat sekaligus adalah:
أُصَلِّيْ سُنَّةً مِنَ الْوِتْرِ ثَلَاثَ رَكَعَاتٍ لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushallî sunnatan minal witri tsalâtsa raka‘âtin lillâhi ta‘âlâ.
Artinya: “Aku niat shalat sunnah witir tiga rakaat karena Allah ta’ala.”
Niat tersebut digunakan untuk menunjukkan kesengajaan melaksanakan shalat sunnah Witir sebanyak tiga rakaat karena Allah ta’ala.
Niat sholat Witir dibaca ketika hendak memulai shalat dan disertai dengan kesengajaan dalam hati untuk melaksanakan ibadah tersebut. Dalam pelaksanaannya, niat berkaitan dengan shalat yang akan dikerjakan, termasuk ketika Witir dilakukan sebanyak tiga rakaat sekaligus.
Sholat Witir tiga rakaat juga dapat dikerjakan dengan pola dua rakaat kemudian satu rakaat. Karena terbagi menjadi dua rangkaian shalat, niat disesuaikan dengan jumlah rakaat pada masing-masing pelaksanaan.
Untuk dua rakaat pertama, niat ditujukan untuk melaksanakan shalat sunnah Witir dua rakaat. Setelah dua rakaat selesai, shalat diakhiri dengan salam sebelum melanjutkan satu rakaat berikutnya.
Setelah salam dari dua rakaat pertama, shalat dilanjutkan dengan satu rakaat sebagai penutup Witir. Niat pada bagian ini ditujukan untuk melaksanakan shalat sunnah Witir satu rakaat.
Niat pada dua rakaat pertama bermakna menyengaja melaksanakan shalat sunnah Witir sebanyak dua rakaat karena Allah ta’ala. Sementara itu, niat satu rakaat berikutnya menunjukkan kesengajaan melaksanakan shalat sunnah Witir satu rakaat sebagai penutup.
Tata cara sholat Witir 3 rakaat sekaligus dilakukan dalam satu rangkaian dari rakaat pertama hingga rakaat ketiga. Setelah rakaat ketiga selesai, shalat diakhiri dengan tasyahud akhir dan satu kali salam.
Sholat dimulai dengan niat dan takbiratul ihram. Setelah itu, membaca Al-Fatihah dan bacaan Al-Quran, kemudian melaksanakan rukuk, i'tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua.
Setelah seluruh gerakan pada rakaat pertama selesai, pelaksana berdiri untuk melanjutkan rakaat kedua.
Pada rakaat kedua, membaca Al-Fatihah dan bacaan Al-Quran, kemudian dilanjutkan dengan rukuk, i'tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua. Setelah selesai, pelaksana langsung berdiri untuk mengerjakan rakaat ketiga.
Dalam pola tiga rakaat sekaligus, tidak dilakukan salam setelah rakaat kedua karena shalat masih berlanjut hingga rakaat ketiga.
Rakaat ketiga diawali dengan membaca Al-Fatihah dan bacaan Al-Quran. Selanjutnya dilakukan rukuk, i'tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua.
Setelah seluruh rangkaian rakaat ketiga selesai, pelaksana duduk untuk membaca tasyahud akhir. Shalat kemudian ditutup dengan salam.
Secara berurutan, sholat Witir tiga rakaat sekaligus dimulai dengan niat dan takbiratul ihram, dilanjutkan bacaan Al-Fatihah dan bacaan Al-Quran pada setiap rakaat. Setiap rakaat diikuti rukuk, i'tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua.
Setelah rakaat pertama selesai, pelaksana berdiri untuk rakaat kedua. Setelah rakaat kedua selesai, pelaksana kembali berdiri untuk rakaat ketiga tanpa salam.
Pada rakaat ketiga, seluruh rangkaian shalat diselesaikan hingga sujud kedua. Setelah itu, membaca tasyahud akhir dan menutup shalat dengan satu kali salam.
Tata cara sholat Witir 3 rakaat dengan pola 2+1 dilakukan dalam dua rangkaian. Dua rakaat pertama dikerjakan dan diakhiri salam, kemudian dilanjutkan satu rakaat sebagai penutup Witir.
Dua rakaat pertama dimulai dengan niat dan takbiratul ihram. Selanjutnya membaca Al-Fatihah dan bacaan Al-Quran, kemudian melakukan rukuk, i'tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua.
Pada rakaat kedua, rangkaian shalat kembali dilakukan hingga sujud kedua. Setelah itu, duduk untuk tasyahud akhir dan mengakhiri dua rakaat dengan salam.
Setelah menyelesaikan dua rakaat pertama, pelaksana membaca tasyahud akhir kemudian mengucapkan salam. Dengan salam tersebut, rangkaian dua rakaat pertama selesai.
Shalat Witir kemudian dilanjutkan dengan satu rakaat sebagai rakaat terakhir.
Satu rakaat terakhir dimulai dengan niat untuk melaksanakan shalat sunnah Witir satu rakaat, kemudian takbiratul ihram. Pelaksana membaca Al-Fatihah dan bacaan Al-Quran, lalu melakukan rukuk, i'tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua.
Setelah selesai, pelaksana duduk untuk membaca tasyahud akhir dan menutup shalat dengan salam. Dengan demikian, keseluruhan rangkaian Witir berjumlah tiga rakaat.
Sholat Witir tiga rakaat sekaligus dapat menjadi salah satu pola pelaksanaan Witir. Cara ini dilakukan dengan menyelesaikan tiga rakaat dalam satu rangkaian dan satu salam pada akhir shalat.
Witir tiga rakaat sekaligus dikerjakan secara berurutan dari rakaat pertama sampai rakaat ketiga. Setelah rakaat kedua, shalat tidak diakhiri dengan salam karena masih berlanjut ke rakaat berikutnya.
Salam dilakukan setelah rakaat ketiga selesai dan tasyahud akhir telah dibaca. Dengan demikian, tiga rakaat tersebut menjadi satu rangkaian shalat.
Meskipun sama-sama terdiri dari tiga rakaat, pelaksanaan Witir tiga rakaat sekaligus tidak disamakan begitu saja dengan sholat Maghrib. Pada pola Witir ini, tidak dilakukan tasyahud awal setelah rakaat kedua seperti dalam sholat Maghrib.
Setelah rakaat kedua selesai, pelaksana langsung berdiri untuk melanjutkan rakaat ketiga. Tasyahud dilakukan pada akhir rakaat ketiga sebelum salam.
Sholat Witir tiga rakaat dapat dikerjakan dengan pola sekaligus maupun dua rakaat kemudian satu rakaat. Dalam sumber yang menjadi rujukan artikel ini, sholat Witir tiga rakaat disebut lebih utama dilakukan dengan memisahkan dua rakaat pertama dan satu rakaat terakhir.
Pelaksana dapat menyesuaikan pola shalat dengan pelaksanaan ibadah malam yang dijalankan. Hal yang perlu diperhatikan adalah jumlah rakaat Witir tetap ganjil dan rangkaian shalat dilakukan sesuai ketentuan masing-masing pola.
Waktu sholat Witir berkaitan dengan waktu pelaksanaan shalat malam. Witir dapat dikerjakan setelah shalat Isya hingga menjelang masuk waktu Subuh dan dapat ditempatkan sebagai penutup rangkaian shalat malam.
Waktu mulai mengerjakan sholat Witir adalah setelah shalat Isya. Witir pada dasarnya menjadi shalat penutup rangkaian shalat malam, sehingga dapat dikerjakan setelah shalat sunnah malam lainnya.
Sholat Tahajud, Hajat, dan Istikharah termasuk shalat sunnah yang dapat dilakukan sebelum Witir. Dengan demikian, waktu Witir cukup panjang karena berlangsung sejak setelah Isya hingga menjelang Subuh.
Batas akhir sholat Witir adalah menjelang masuk waktu Subuh. Selama masih berada dalam rentang waktu malam tersebut, Witir dapat dikerjakan sebagai penutup rangkaian shalat malam.
Pada bulan Ramadhan, sholat Witir dapat dikerjakan setelah rangkaian sholat Tarawih selesai. Dalam pelaksanaan berjamaah, Witir menjadi bagian penutup shalat malam setelah Tarawih.
Jika seseorang mengerjakan sholat Tahajud pada akhir malam, Witir dapat dilaksanakan setelah Tahajud. Pola ini menempatkan Witir sebagai penutup rangkaian shalat malam yang dikerjakan sebelum waktu Subuh.
Bacaan surat dalam sholat Witir mengikuti bacaan shalat pada umumnya, yaitu membaca Al-Fatihah kemudian dilanjutkan dengan bacaan Al-Quran. Bacaan tersebut dilakukan pada setiap rakaat sesuai rangkaian shalat yang dikerjakan.
Pada rakaat pertama sholat Witir, setelah membaca Al-Fatihah dapat dilanjutkan dengan bacaan surat pendek dalam Al-Quran.
Salah satunya, disunnahkan untuk membaca Surat al-A’la setelah al-Fatihah pada rakaat pertama
Setelah itu, shalat diteruskan dengan rukuk dan rangkaian gerakan berikutnya hingga sujud kedua.
Pada rakaat kedua, pelaksana kembali membaca Al-Fatihah kemudian bacaan Al-Quran, yang disunnahkan membaca Surat al-Ikhlas dan Surat al-Kafirun.
Setelah membacanya, shalat kembali dilanjutkan dengan rukuk, i'tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua.
Pada rakaat ketiga, bacaan dimulai dengan Al-Fatihah dan dilanjutkan dengan bacaan Al-Quran , yang disunnahkan membaca al-Falaq dan an-Nas. Setelah itu, rangkaian shalat diselesaikan hingga tasyahud akhir dan salam.
Setelah menyelesaikan sholat Witir, umat Muslim dapat melanjutkan ibadah dengan membaca doa yang dianjurkan. Salah satu bacaan yang disebutkan setelah shalat Witir adalah doa berdasarkan hadis sahih riwayat Abu Dawud.
Sedangkan setelah shalat witir disunahkan membaca doa sesuai hadist sahih riwayat Abu Dawud:
سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ ×٣ اَللّٰهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لَا أُحْصِيْ ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ
Allahumma inni a'udzu biridhaka min sakhathika wa bi mu'afatika min 'uqubatika wa a'udzubika minka la uhshi tsana'an 'alaika anta kama atsnaita 'ala nafsika
Bacaan tersebut berisi permohonan perlindungan kepada Allah dari kemurkaan dan hukuman-Nya. Doa itu juga mengandung pengakuan bahwa manusia tidak mampu menghitung seluruh pujian kepada Allah dan bahwa Allah sebagaimana Dia memuji diri-Nya sendiri.
Selain doa, rangkaian ibadah setelah sholat Witir dapat dilanjutkan dengan dzikir. Salah satu bacaan yang disunahkan setelah Witir adalah Subhanal Malikil Quddus.
Salat witir disunahkan berdzikir dengan suara nyaring sebagai berikut:
سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ
“Maha suci Allah yang Maha Merajai dan yang Maha Bersih” (3x)
رَبِّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوحِ
“Yang menguasai para Malaikat dan Ruh/Jibril” (1x)
Setelah membaca Subhanal Malikil Quddus, dzikir dapat dilanjutkan dengan doa. Amalan tersebut menjadi bagian dari rangkaian ibadah setelah sholat Witir sebelum seseorang melanjutkan aktivitas lainnya.
Sholat Witir memiliki kedudukan sebagai shalat sunnah yang mengakhiri rangkaian shalat malam. Pelaksanaannya dapat menjadi bagian dari kebiasaan ibadah malam yang dilakukan secara rutin.
Sholat Witir berfungsi sebagai penutup rangkaian shalat malam. Karena itu, pelaksana dapat menempatkannya setelah shalat sunnah malam seperti Tahajud atau setelah rangkaian Tarawih pada bulan Ramadhan.
Melaksanakan sholat Witir menjadi salah satu bentuk upaya mengikuti amalan yang diajarkan Rasulullah SAW. Ibadah ini dapat dilakukan sebagai bagian dari shalat sunnah pada malam hari.
Membiasakan sholat Witir dapat membantu menjaga rutinitas ibadah sunnah pada malam hari. Jumlah rakaatnya dapat disesuaikan dengan bentuk pelaksanaan yang dipilih, termasuk tiga rakaat sekaligus maupun pola dua rakaat dan satu rakaat.
Pertanyaan tentang sholat Witir tiga rakaat umumnya berkaitan dengan bacaan niat, tata cara pelaksanaan, jumlah salam, serta waktu mengerjakannya. Berikut jawaban singkat mengenai beberapa hal yang sering ditanyakan.
Niat sholat Witir tiga rakaat adalah:
أُصَلِّيْ سُنَّةً مِنَ الْوِتْرِ ثَلَاثَ رَكَعَاتٍ لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushallî sunnatan minal witri tsalâtsa raka‘âtin lillâhi ta‘âlâ.
Artinya: “Aku niat shalat sunnah witir tiga rakaat karena Allah ta’ala.”
Sholat Witir tiga rakaat dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu tiga rakaat sekaligus dalam satu salam atau dua rakaat kemudian salam dan dilanjutkan satu rakaat. Pada pola tiga rakaat sekaligus, shalat dilakukan secara berurutan hingga rakaat ketiga dan ditutup dengan satu salam.
Boleh. Sholat Witir tiga rakaat dapat dikerjakan sekaligus dalam satu rangkaian dan diakhiri satu salam setelah rakaat ketiga.
Dalam sumber yang menjadi rujukan artikel ini, sholat Witir tiga rakaat disebut lebih utama dikerjakan dengan memisahkan dua rakaat pertama dan satu rakaat terakhir. Namun, Witir tiga rakaat sekaligus juga merupakan salah satu pola pelaksanaan yang dapat dilakukan.
Pada sholat Witir tiga rakaat sekaligus, tidak dilakukan tasyahud awal setelah rakaat kedua seperti pada sholat Maghrib. Setelah rakaat kedua selesai, pelaksana langsung berdiri untuk mengerjakan rakaat ketiga, kemudian membaca tasyahud akhir sebelum salam.
Pada bulan Ramadhan, Witir dapat dilakukan setelah sholat Tarawih sebagai penutup rangkaian shalat malam. Jika seseorang mengerjakan Tahajud, Witir dapat ditempatkan setelah Tahajud sebagai shalat penutup.
Sholat Witir merupakan sholat sunnah dengan jumlah rakaat ganjil yang dapat dikerjakan sebagai penutup rangkaian sholat malam
Sholat Witir merupakan sholat sunnah dengan jumlah rakaat ganjil yang dapat dikerjakan sebagai penutup rangkaian shalat malam.
Untuk tiga rakaat, pelaksana dapat memilih pola tiga rakaat sekaligus atau dua rakaat kemudian dilanjutkan satu rakaat.
Waktu pelaksanaan Witir dimulai setelah shalat Isya hingga menjelang Subuh dan dapat ditempatkan setelah Tarawih maupun Tahajud.
Dengan memahami niat, tata cara, bacaan, doa, dan dzikirnya, umat Muslim dapat melaksanakan sholat Witir tiga rakaat sesuai pola yang dipilih.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.