Penulis
KOMPAS.com - Ketika hujan lama tidak turun dan masyarakat mengalami kekeringan, umat Islam dianjurkan untuk memohon pertolongan kepada Allah SWT. Salah satu bentuk ikhtiar tersebut adalah shalat istisqa, yakni shalat yang dilakukan untuk meminta hujan kepada Allah.
Selain melalui shalat istisqa, umat Islam juga dapat memanjatkan doa meminta hujan. Dalam sejumlah hadis sahih, Rasulullah SAW dicontohkan berdoa agar Allah menurunkan hujan ketika masyarakat mengalami kekeringan.
Salah satu doa yang diriwayatkan dalam Shahih Bukhari adalah:
اللَّهُمَّ أَسْقِنَا، اللَّهُمَّ أَسْقِنَا، اللَّهُمَّ أَسْقِنَا
Latin:
Allahumma asqinaa, Allahumma asqinaa, Allahumma asqinaa.
Artinya:
“Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.”
Baca juga: Doa agar Hujan Berhenti: Arab, Latin, Arti, dan Adab Saat Hujan
Doa tersebut disampaikan Rasulullah SAW ketika seorang laki-laki meminta beliau memohon kepada Allah agar menurunkan hujan karena kekeringan. Dalam riwayat tersebut, setelah Rasulullah SAW berdoa, hujan kemudian turun.
Berikut hadis lengkapnya:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ، حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَخْطُبُ يَوْمَ جُمُعَةٍ، فَقَامَ النَّاسُ فَصَاحُوا فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَحَطَ الْمَطَرُ وَاحْمَرَّتِ الشَّجَرُ وَهَلَكَتِ الْبَهَائِمُ، فَادْعُ اللَّهَ يَسْقِينَا. فَقَالَ " اللَّهُمَّ اسْقِنَا ". مَرَّتَيْنِ، وَايْمُ اللَّهِ مَا نَرَى فِي السَّمَاءِ قَزَعَةً مِنْ سَحَابٍ، فَنَشَأَتْ سَحَابَةٌ وَأَمْطَرَتْ، وَنَزَلَ عَنِ الْمِنْبَرِ فَصَلَّى، فَلَمَّا انْصَرَفَ لَمْ تَزَلْ تُمْطِرُ إِلَى الْجُمُعَةِ الَّتِي تَلِيهَا، فَلَمَّا قَامَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَخْطُبُ صَاحُوا إِلَيْهِ تَهَدَّمَتِ الْبُيُوتُ وَانْقَطَعَتِ السُّبُلُ، فَادْعُ اللَّهَ يَحْبِسُهَا عَنَّا. فَتَبَسَّمَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ثُمَّ قَالَ " اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلاَ عَلَيْنَا ". فَكُشِطَتِ الْمَدِينَةُ، فَجَعَلَتْ تُمْطِرُ حَوْلَهَا وَلاَ تَمْطُرُ بِالْمَدِينَةِ قَطْرَةً، فَنَظَرْتُ إِلَى الْمَدِينَةِ وَإِنَّهَا لَفِي مِثْلِ الإِكْلِيلِ.
Artinya: Rasulullah SAW sedang menyampaikan khutbah pada hari Jumat. Tiba-tiba orang-orang berdiri, berteriak, dan berkata,
“Wahai Rasulullah SAW, hujan tidak turun sehingga terjadi kekeringan, pepohonan mengering, dan hewan-hewan ternak binasa. Maka berdoalah kepada Allah agar menurunkan hujan kepada kami.”
Rasulullah SAW kemudian berdoa dua kali:
“Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.”
Demi Allah, saat itu kami tidak melihat sedikit pun awan di langit. Tiba-tiba muncul awan, kemudian hujan pun turun. Rasulullah SAW turun dari mimbar dan melaksanakan shalat.
Setelah selesai shalat dan beliau kembali ke rumah, hujan masih terus turun hingga Jumat berikutnya.
Ketika Rasulullah SAW mulai menyampaikan khutbah Jumat, orang-orang kembali berteriak dan berkata kepada beliau,
“Rumah-rumah telah roboh dan jalan-jalan terputus. Maka berdoalah kepada Allah agar menghentikan hujan dari kami.”
Rasulullah SAW kemudian tersenyum dan berdoa:
“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami dan janganlah menimpakannya kepada kami.”
Setelah itu, langit di atas Madinah menjadi cerah, sementara hujan tetap turun di daerah-daerah sekitar Madinah. Tidak setetes pun hujan turun di Madinah.
Aku kemudian memandang ke arah langit Madinah, dan tampak begitu cerah dan bersih, seperti sebuah mahkota yang melingkarinya.
Memohon hujan dikenal dalam fikih sebagai istisqa. Praktik tersebut tidak hanya berupa doa secara pribadi, tetapi juga dapat dilakukan melalui shalat istisqa secara berjemaah.
Dalam hadis riwayat Bukhari, Rasulullah SAW pernah keluar bersama masyarakat untuk memohon hujan. Beliau berdoa kepada Allah, menghadap kiblat, kemudian melaksanakan shalat dua rakaat.
Kementerian Agama juga menjelaskan bahwa shalat istisqa menjadi salah satu ikhtiar bersama untuk memohon turunnya hujan, rahmat, dan keberkahan dari Allah SWT.
Berdasarkan hadis Shahih Bukhari, Rasulullah SAW pernah melaksanakan shalat istisqa sebanyak dua rakaat. Dalam pelaksanaannya, beliau menghadap kiblat dan berdoa memohon hujan.
Dalam riwayat lainnya, disebutkan bahwa Rasulullah SAW mengangkat kedua tangan ketika berdoa dalam istisqa.
Shalat istisqa ini sebagai bentuk ikhtiar bersama umat Islam ketika menghadapi kondisi yang membutuhkan turunnya hujan.
Berbeda dengan doa meminta hujan sebelum hujan turun, terdapat pula doa yang dibaca ketika seseorang melihat hujan.
Rasulullah SAW membaca:
اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا
Latin:
Allahumma shayyiban naafi'an.
Artinya:
“Ya Allah, jadikanlah hujan ini sebagai hujan yang bermanfaat.”
Doa tersebut diriwayatkan dari Aisyah RA dalam Shahih Bukhari.
Karena itu, doa ini tepat dibaca ketika hujan mulai turun, bukan sebagai doa utama untuk meminta hujan saat terjadi kekeringan.
Islam juga mengajarkan doa ketika hujan justru turun terlalu deras dan dikhawatirkan menimbulkan bahaya.
Rasulullah SAW pernah berdoa:
اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا
Latin:
Allahumma hawaalainaa wa laa 'alainaa.
Artinya:
“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami dan janganlah menimpakannya kepada kami.”
Doa tersebut terdapat dalam Shahih Bukhari. Dalam hadis tersebut, Rasulullah SAW memohon agar hujan dialihkan dari wilayah permukiman ketika hujan yang turun telah menyebabkan gangguan dan kerusakan.
Hujan merupakan bagian dari rahmat Allah SWT dan memiliki peran penting bagi kehidupan manusia, hewan, serta tumbuh-tumbuhan. Ketika hujan tidak turun dalam waktu lama, Islam mengajarkan umatnya untuk kembali memohon pertolongan kepada Allah.
Doa meminta hujan juga mengingatkan bahwa manusia memiliki keterbatasan. Ikhtiar secara lahiriah tetap dilakukan, tetapi hasil akhirnya diserahkan kepada Allah SWT.
Shalat istisqa menjadi salah satu bentuk ikhtiar tersebut. Dalam praktiknya, umat Islam berkumpul, berdoa, memohon ampun, dan meminta Allah menurunkan hujan yang membawa manfaat.
Dengan demikian, ketika menghadapi kekeringan, umat Islam dapat memperbanyak doa dan istighfar serta mengikuti tuntunan shalat istisqa sesuai tuntunan syariat.
Baca juga: Doa Meminta Hujan, Termasuk untuk Dibaca Saat Khutbah Shalat Istisqa
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.