Editor
KOMPAS.com - Mengapa doa belum dikabulkan sering menjadi pertanyaan banyak umat Muslim.
Dalam ajaran Islam, doa adalah bentuk permohonan seorang hamba kepada Allah SWT yang dianjurkan untuk dilakukan setiap waktu.
Meski demikian, tidak semua doa langsung dikabulkan sesuai harapan. Kondisi ini kerap menimbulkan kegelisahan, terutama bagi mereka yang telah lama memanjatkan doa dengan sungguh-sungguh.
Baca juga: Doa Rasulullah untuk Mengusir Jin: Arab, Latin, dan Artinya, Dibaca Saat Terkena Gangguan Gaib
Allah SWT sendiri telah menjanjikan akan mengabulkan doa hamba-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an Surat Ghafir ayat 60:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ
Artinya: "Tuhanmu berfirman, 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan)."
Walau begitu, terkadang bentuk dan waktu pengabulannya bisa berbeda dari yang diharapkan manusia.
Baca juga: 4 Doa Memohon Diberikan Anak untuk Diamalkan Oleh Pejuang Garis Dua yang Berharap Keturunan
Dilansir dari laman Kemenag, dalam kitab Shaidul Khatir, Ibnul Jauzi menjelaskan sejumlah hikmah di balik doa yang belum dikabulkan.
Penjelasan ini menjadi pengingat agar umat Muslim tetap bersabar dan berprasangka baik kepada Allah SWT.
Doa yang belum dikabulkan menunjukkan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Sebagai pemilik seluruh alam, Allah berhak menentukan kapan dan bagaimana doa hamba-Nya dikabulkan. Pengabulan doa sepenuhnya merupakan bentuk kehendak dan kasih sayang-Nya.
Menurut Ibnul Jauzi, kondisi ini dapat diibaratkan seperti obat yang diberikan dokter kepada pasien.
Meski terasa pahit, obat tersebut justru membawa kesembuhan. Begitu pula doa yang tertunda, bisa jadi menjadi sarana penyembuhan jiwa dan perbaikan diri.
Doa yang belum dikabulkan bisa berarti Allah menyiapkan waktu terbaik. Seorang Muslim dianjurkan untuk tetap husnudzan, karena pengabulan doa bisa datang ketika seseorang sudah siap menerima apa yang dimintanya.
Penundaan doa juga menjadi momen untuk evaluasi diri. Bisa jadi terdapat penghalang seperti dosa yang belum ditobati, kelalaian dalam berdoa, atau hal lain yang perlu diperbaiki. Karena itu, introspeksi dan taubat menjadi langkah penting.
Tidak dikabulkannya doa bisa jadi merupakan bentuk kebaikan dari Allah SWT. Hal ini sebagaimana firman-Nya dalam Surat Al-Baqarah ayat 216:
وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
Artinya: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
Doa yang belum dikabulkan juga menjadi cara agar hamba terus mendekat kepada Allah.
Dengan terus berdoa, seseorang akan semakin bergantung dan memperkuat hubungannya dengan Sang Pencipta.
Hikmah di balik doa yang belum dikabulkan menjadi pengingat agar tidak mudah putus asa.
Terus berdoa, bersabar, dan memperbaiki diri, diharapkan seorang Muslim dapat memperkuat iman sekaligus memperoleh ketenangan dalam menjalani kehidupan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang