Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

7 Kampus Muhammadiyah Masuk Top 25 Dunia

Kompas.com, 29 Juli 2026, 12:20 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com - Tujuh Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah (PTMA) berhasil menorehkan prestasi di kancah internasional dengan masuk dalam daftar 25 universitas Islam terbaik di dunia versi pemeringkatan uniRank.

Capaian ini menunjukkan konsistensi Muhammadiyah dalam membangun sistem pendidikan tinggi yang unggul dan berkelanjutan.

Daftar Perguruan Tinggi Berprestasi

PTMA yang masuk dalam pemeringkatan tersebut meliputi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) di peringkat 1, Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSurabaya) di peringkat 5, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) di peringkat 7, dan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) di peringkat 8.

Selain itu, Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menempati peringkat 17, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di peringkat 19, serta Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) di peringkat 22.

Baca juga: Ketum Muhammadiyah Sebut Korupsi di Indonesia Sudah Gawat Darurat

Sistem Pengelolaan Pendidikan Berbasis Wakaf

Ketua Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Bambang Setiaji, menilai prestasi ini merupakan hasil dari proses panjang PTMA melalui sistem pengelolaan pendidikan berbasis wakaf atau nirlaba.

Sistem tersebut memungkinkan seluruh hasil usaha dikembalikan untuk pengembangan perguruan tinggi, terutama dalam meningkatkan kualitas sumber daya akademik.

“Karena pemupukan dana itu sangat penting untuk jangka panjang suatu universitas. Dana tersebut nantinya dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas tenaga akademisi,” ujarnya saat dihubungi pada Jumat (24/7).

Bambang menambahkan, sistem yang baik tidak hanya menghasilkan prestasi, tetapi juga membentuk kultur akademik yang sehat.

Kultur ini mendorong mahasiswa memiliki karakter mandiri, inovatif, adaptif, dan mampu menghadapi perubahan zaman.

Tantangan dan Prioritas Peningkatan Kualitas

Senada dengan Bambang Setiaji, Sekretaris Majlis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Ahmad Muttaqin, turut bangga dan mengapresiasi capaian reputasi global tujuh PTMA tersebut.

Namun, ia mengingatkan bahwa pemeringkatan uniRank lebih banyak didasarkan pada aspek popularitas, sehingga PTMA masih perlu memperkuat berbagai indikator akademik lainnya.

Menurut Muttaqin, peningkatan kualitas publikasi ilmiah, dampak riset, internasionalisasi, hingga reputasi akademik harus terus menjadi prioritas.

“Kita bersyukur dari 165 PTMA, 21 di antaranya sudah meraih peringkat unggul. Tapi itu belum cukup dan masih banyak hal yang perlu kita tingkatkan,” katanya.

Muttaqin juga menyoroti tantangan yang dihadapi lulusan perguruan tinggi di tengah menyusutnya lapangan kerja formal, yang menyebabkan banyak alumni bekerja di sektor nonformal karena keterbatasan peluang.

“Tanpa mengecilkan pekerjaan-pekerjaan tersebut, tetapi faktanya pekerjaan itu dijalani karena mereka tidak memiliki pilihan lain,” ujarnya.

Ia mendorong alumni PTMA untuk tidak hanya berorientasi menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan melalui kreativitas, inovasi, dan pemanfaatan talenta.

“Talenta para alumni itu bisa dimanfaatkan tidak harus di lapangan industri. Karena itu dibutuhkan kreativitas dan inovativitas agar dapat mencapainya,” imbuhnya.

Transformasi digital dan perkembangan kecerdasan artifisial (AI) justru membuka berbagai peluang profesi baru.

Muttaqin menyatakan PTMA terus menyesuaikan kurikulum agar lulusannya memiliki kemampuan adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Pembentukan Karakter dan Strategi Global

Bambang Setiaji menegaskan pendidikan di PTMA tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter melalui pendekatan bayani, irfani, dan burhani. Pendekatan ini diharapkan melahirkan lulusan yang memiliki kecerdasan intelektual sekaligus spiritual.

Mengenai langkah strategis ke depan, Muttaqin menjelaskan Muhammadiyah terus memperkuat integrasi antarsesama PTMA agar keunggulan masing-masing kampus dapat saling melengkapi dalam membangun reputasi global.

“Kami telah merundingkan apa yang bisa kita bawa ke reputasi global. Selanjutnya aspek mana yang akan kita sasar,” ungkapnya.

Peningkatan reputasi internasional dilakukan secara bertahap.

Baca juga: Perwakilan PBNU dan Muhammadiyah Bakal Ikut Delegasi Indonesia ke Pemakaman Ali Khamenei di Iran

PTMA yang belum meraih predikat unggul akan terus didampingi untuk meningkatkan mutu, sedangkan PTMA yang telah unggul didorong menembus berbagai pemeringkatan dunia.

“Hingga kemudian kami berharap akan ada PTMA yang berhasil masuk ke peringkat seratus dunia, bahkan menduduki peringkat pertama,” tuturnya.

Melalui strategi tersebut, PTMA diharapkan dapat terus memperkuat posisinya sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul, berdaya saing global, berdampak bagi masyarakat, serta berkontribusi dalam mencetak generasi bangsa yang berkemajuan.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Rabiul Akhir dalam Kalender Hijriah: Sejarah dan Peristiwa Pentingnya
Rabiul Akhir dalam Kalender Hijriah: Sejarah dan Peristiwa Pentingnya
Aktual
Berdoa dengan Bahasa Arab, Apakah Benar Lebih Utama? Ini Penjelasan Majelis Tarjih Muhammadiyah
Berdoa dengan Bahasa Arab, Apakah Benar Lebih Utama? Ini Penjelasan Majelis Tarjih Muhammadiyah
Aktual
Bolehkah Memegang Al-Qur’an Tanpa Wudhu? Ini Penjelasan Majelis Tarjih Muhammadiyah
Bolehkah Memegang Al-Qur’an Tanpa Wudhu? Ini Penjelasan Majelis Tarjih Muhammadiyah
Aktual
Malam Ini, 198.000 Warga Akan Nyanyikan Mars MTQ untuk Pecahkan Rekor MURI
Malam Ini, 198.000 Warga Akan Nyanyikan Mars MTQ untuk Pecahkan Rekor MURI
Aktual
Muhammadiyah Gelar Tanwir dan Milad ke-114 di Palu, Usung Tema Bersama Satukan Bangsa
Muhammadiyah Gelar Tanwir dan Milad ke-114 di Palu, Usung Tema Bersama Satukan Bangsa
Aktual
Sejak 1968, MTQ di Indonesia Digelar Berjenjang hingga Tingkat Nasional
Sejak 1968, MTQ di Indonesia Digelar Berjenjang hingga Tingkat Nasional
Aktual
Link Live Streaming Pembukaan MTQ Nasional XXXI, Sabtu 12 September 2026
Link Live Streaming Pembukaan MTQ Nasional XXXI, Sabtu 12 September 2026
Aktual
Tangis Haru dan Bangga Warga Semarang Saksikan Pawai Taaruf MTQ Nasional XXXI
Tangis Haru dan Bangga Warga Semarang Saksikan Pawai Taaruf MTQ Nasional XXXI
Aktual
 Sejarah Al-Qur’an, dari Turunnya Wahyu Pertama hingga Menjadi Pedoman Hidup
Sejarah Al-Qur’an, dari Turunnya Wahyu Pertama hingga Menjadi Pedoman Hidup
Aktual
Nasaruddin Umar: Al-Qur’an Jadi Sumber Inspirasi Pengembangan Ilmu Kedokteran
Nasaruddin Umar: Al-Qur’an Jadi Sumber Inspirasi Pengembangan Ilmu Kedokteran
Aktual
Menag Ungkap Rencana MTQ Nasional Digelar Setiap Tahun, Ini Alasannya
Menag Ungkap Rencana MTQ Nasional Digelar Setiap Tahun, Ini Alasannya
Aktual
Pawai Taaruf MTQ Nasional XXXI Semarakkan Kota Semarang
Pawai Taaruf MTQ Nasional XXXI Semarakkan Kota Semarang
Aktual
Jelang Pembukaan MTQ Nasional XXXI, Simpang Lima Semarang Dilengkapi Tempat Wudhu hingga Air Minum Gratis
Jelang Pembukaan MTQ Nasional XXXI, Simpang Lima Semarang Dilengkapi Tempat Wudhu hingga Air Minum Gratis
Aktual
Sejarah MTQ di Indonesia, dari Lomba Tilawah hingga Ajang Nasional
Sejarah MTQ di Indonesia, dari Lomba Tilawah hingga Ajang Nasional
Aktual
Dubes Arab Saudi Doakan Lima Wartawan Hilang Kontak di Selat Sunda
Dubes Arab Saudi Doakan Lima Wartawan Hilang Kontak di Selat Sunda
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar