Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Fenomena Artis Hijrah di Instagram, Bagaimana Kesalehan Dibentuk di Media Sosial?

Kompas.com, 24 Agustus 2026, 14:03 WIB
Reni Susanti

Editor


BANDUNG, KOMPAS.com - Fenomena hijrah di kalangan artis tidak hanya mengubah cara figur publik menampilkan kehidupan pribadi dan keberagamaannya.

Kehadiran media sosial juga membuat kesalehan menjadi sesuatu yang ditampilkan, dimaknai, hingga diperbincangkan bersama para pengikut.

Fenomena tersebut diteliti Femi Fauziah Alamsyah, dosen Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, dalam penelitian doktornya mengenai identitas kesalehan populer artis hijrah di Instagram.

Baca juga: Dewan Muslim Inggris Puji Muhammadiyah: Tak Hanya Bangun Sekolah, tapi Juga Manusia

Femi meneliti akun Instagram empat figur publik, yakni Shireen Sungkar, Larissa Chou, Ricky Harun, dan Arie Untung.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas kesalehan di media sosial tidak hanya dibangun melalui penggunaan simbol-simbol keagamaan.

Cerita kehidupan sehari-hari, tampilan visual, hingga interaksi dengan pengikut turut membentuk bagaimana kesalehan ditampilkan dan dimaknai di ruang digital.

"Dalam konteks tersebut, simbol-simbol Islam tidak berdiri sendiri. Ketika ditampilkan melalui media sosial, simbol tersebut memperoleh nilai tertentu atau sign value yang kemudian dipahami, dibicarakan, dan dinegosiasikan oleh para pengikut," ujar Femi.

Temuan tersebut merupakan bagian dari disertasi Femi berjudul "Identitas Kesalehan Populer Artis Hijrah di Media Sosial (Studi Netnografi pada Akun Instagram @shireensungkar, @larissachou, @rickyharun, dan @ariekuntung)".

Disertasi itu dipertahankan dalam sidang terbuka promosi doktor di Aula Selatan Gedung Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Sabtu (22/8/2026).

Femi menempuh Program Doktor Studi Agama-Agama dengan konsentrasi Agama dan Media.

Baca juga: Tata Cara Shalat Jenazah Lengkap: Niat, Rukun, hingga Shalat Gaib

Kesalehan Artis Hijrah di Instagram

Menurut Femi, perkembangan media sosial telah mengubah cara praktik keberagamaan ditampilkan sekaligus dimaknai masyarakat.

Artis hijrah memiliki posisi menarik dalam fenomena tersebut karena mereka merupakan figur publik dengan jumlah pengikut yang besar. Pengalaman keberagamaan yang mereka bagikan dapat menjadi bagian dari percakapan keagamaan di ruang digital.

Dalam penelitiannya, Femi mengamati 40 konten Instagram dari akun Shireen Sungkar, Larissa Chou, Ricky Harun, dan Arie Untung. Konten tersebut meliputi foto, video, keterangan atau caption, serta komentar pengikut.

Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode netnografi untuk melihat proses sosial dan budaya dalam pembentukan identitas kesalehan di ruang digital.

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kesalehan populer tidak hanya muncul melalui simbol-simbol keagamaan yang ditampilkan figur publik.

Estetika visual, cerita kehidupan sehari-hari, serta unsur emosional turut membuat pesan keagamaan terasa dekat dengan pengalaman pengikut.

Interaksi pengikut pun tidak berhenti pada aktivitas melihat atau menyukai sebuah unggahan.

Kolom komentar dan percakapan yang muncul di media sosial dapat berkembang menjadi ruang untuk memberikan validasi sosial, berbagi pengalaman, hingga menegosiasikan pemaknaan terhadap keberagamaan.

Dengan demikian, media sosial bukan sekadar tempat figur publik menunjukkan identitas keagamaannya. Identitas tersebut juga dibentuk melalui interaksi antara figur publik dan pengikutnya.

Muncul Konsep "Kesalehan Sirkulatif"

Salah satu temuan utama dalam penelitian Femi adalah konsep kesalehan sirkulatif atau circulative piety.

Konsep tersebut menjelaskan bahwa kesalehan di ruang digital tidak berhenti pada individu yang membuat dan mengunggah sebuah konten.

Kesalehan dapat bergerak melalui konten, simbol, cerita, interaksi, hingga respons pengguna media sosial.

Sebuah unggahan bernuansa keagamaan, misalnya, tidak berhenti ketika dipublikasikan oleh figur publik.

Unggahan tersebut dilihat dan dimaknai pengikut, mendapatkan berbagai respons, memunculkan percakapan, kemudian dapat kembali beredar melalui interaksi di ruang digital.

Penelitian Femi kemudian menghasilkan model sirkulasi kesalehan populer di media sosial.

Model tersebut menggambarkan proses ketika simbol dan narasi keagamaan diproduksi melalui estetika tertentu, direpresentasikan kepada audiens, mendapatkan pengakuan dan pemaknaan sosial, kemudian kembali disirkulasikan melalui interaksi digital.

Proses itulah yang membuat identitas kesalehan di media sosial bersifat dinamis dan tidak sepenuhnya ditentukan oleh orang yang pertama kali membuat konten.

Simbol Agama Tidak Terputus dari Kehidupan Nyata

Penelitian Femi juga melihat bagaimana simbol-simbol keagamaan memperoleh makna ketika hadir di media sosial.

Untuk membaca fenomena tersebut, Femi antara lain menggunakan perspektif Digital Religion dari Heidi A Campbell, Visual Culture of Religion dari Birgit Meyer, teori representasi Stuart Hall, serta Political Economy of the Sign dari Jean Baudrillard.

Dari penelitian tersebut, Femi menemukan bahwa tanda dan simbol keagamaan di media digital tidak semata-mata menjadi representasi yang terputus dari kehidupan nyata.

Simbol-simbol tersebut juga dapat berperan dalam membentuk pengalaman religius, pengakuan sosial, serta proses negosiasi makna yang tetap berhubungan dengan kehidupan sehari-hari penggunanya.

Temuan ini menunjukkan bahwa praktik keberagamaan di media sosial merupakan proses yang terus bergerak.

Kesalehan populer dapat berubah dan berkembang seiring dengan bagaimana simbol, cerita, dan pengalaman keagamaan diproduksi, ditampilkan, ditanggapi, serta dikonsumsi pengguna media sosial.

Media Sosial Jadi Ruang Baru Komunikasi Agama

Fenomena tersebut, menurut Femi, juga penting dilihat dalam kajian Komunikasi dan Penyiaran Islam.

Media sosial telah berkembang menjadi salah satu ruang komunikasi keagamaan. Pesan agama yang sebelumnya banyak disampaikan secara satu arah kini dapat langsung mendapatkan respons dari audiens.

"Bagi kajian Komunikasi dan Penyiaran Islam, penelitian ini juga menunjukkan semakin pentingnya memahami media sosial sebagai ruang baru dalam komunikasi keagamaan. Pesan agama tidak lagi hanya disampaikan secara satu arah, tetapi berkembang melalui percakapan, respons, dan partisipasi pengguna," kata Femi.

Dengan kondisi tersebut, pengguna media sosial tidak hanya menjadi penerima pesan. Mereka dapat ikut memberikan tanggapan, membagikan pengalaman, serta membentuk pemaknaan terhadap pesan keagamaan yang mereka temui.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar