Editor
KOMPAS.com - Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Buya Amirsyah Tambunan mengapresiasi langkah tegas Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto dalam menindaklanjuti polemik penggeledahan Pondok Pesantren Hamalatul Quran di Sukoharjo, Jawa Tengah.
Apresiasi tersebut disampaikan menyusul pencopotan Kapolres Sukoharjo AKBP Andika Dharma Sena dan tiga anggota Polres Sukoharjo yang terlibat dalam penanganan penggeledahan tersebut.
"Kami mengapresiasi gerak cepat dan tindakan tegas Kapolri dalam mengambil langkah pencopotan tersebut," ujar Buya Amirsyah dalam keterangannya kepada MUI Digital, Senin (2/11/2026).
Baca juga: PBNU Apresiasi Kapolri Copot Kapolres Sukoharjo Usai Polemik Penggeledahan Ponpes
Buya Amirsyah menilai keputusan Kapolri mencopot empat personel kepolisian tersebut merupakan langkah tepat untuk menjaga kepatuhan terhadap prosedur dan ketertiban dalam penegakan hukum.
Tiga anggota Polres Sukoharjo lain yang turut dicopot dalam perkara tersebut yakni Kasat Reskrim Iptu AS, Kanit Pidum Ipda FA, dan Kanit PPA Ipda RAP.
Baca juga: Imbas Penggeledahan Ponpes Hamalatul Quran, Polri Mutasi Kapolres Sukoharjo
Buya Amirsyah menjelaskan, apresiasi MUI didasarkan pada dua alasan utama. Pertama, tindakan oknum aparat dalam penggeledahan di lingkungan pesantren dinilai kurang mencerminkan nilai-nilai humanisme.
Kedua, kepolisian dan masyarakat merupakan bagian penting yang perlu bersinergi untuk mengayomi serta memberikan rasa aman dan nyaman kepada publik.
Menanggapi peristiwa tersebut, Buya Amirsyah mengajak seluruh lapisan masyarakat menjaga kekompakan dan tidak mudah terprovokasi oleh pihak mana pun.
Menurutnya, sikap tersebut diperlukan agar situasi di daerah tetap terkendali, aman, dan damai.
Selain mengimbau masyarakat, Sekjen MUI juga mengingatkan para pemangku kepentingan di bidang pendidikan, khususnya pesantren dan lembaga tahfidz Al Quran, agar menyelenggarakan pendidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Buya Amirsyah menekankan bahwa pendidikan pesantren perlu mengutamakan pembinaan etika, akhlak, dan adab sebagai bagian dari upaya membangun bangsa yang berperadaban.
"Penyelenggaraan pendidikan harus sejalan dengan muatan substansi pendidikan yang mengedepankan pembinaan etika, akhlak, dan adab untuk membangun bangsa yang berperadaban," kata dia.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.