Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Banjir Aceh Tak Hentikan Semangat, Dua Siswa Raih Juara Olimpiade PAI 2025 di Jakarta

Kompas.com, 3 Desember 2025, 15:44 WIB
Khairina

Editor

Sumber Kemenag

KOMPAS.com-Banjir besar yang melanda Aceh beberapa hari terakhir tidak hanya merendam rumah warga dan memutus akses transportasi, tetapi juga mengancam keikutsertaan siswa berprestasi Aceh di Grand Final Olimpiade Pendidikan Agama Islam (PAI) 2025.

Di tengah situasi itu, sejumlah peserta justru menunjukkan ketabahan dan berhasil mencatatkan prestasi nasional.

Khaidar Munarzi dari SMP IT Muhammadiyah Bireuen dan M Al-Walid dari SMAN 1 Kuta Makmur, Aceh Utara, meraih juara 1 dalam cabang pidato Olimpiade PAI 2025.

Baca juga: Kemenag Tekankan Kurikulum Cinta di Penutupan Olimpiade PAI 2025

Khaidar menjadi juara tingkat SMP, sementara Al-Walid menyabet juara pidato jenjang SMA.

Pengumuman pemenang disampaikan pada penutupan Grand Final PAI Fair 2025 di Jakarta, Selasa (2/12/2025).

Penutupan acara dihadiri Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Kamaruddin Amin.

Rangkaian Olimpiade PAI berlangsung sejak 30 November 2025 di Mercure Convention Center Ancol, Jakarta Utara, dan dibuka oleh Wakil Menteri Agama, Romo Muhammad Syafi’i.

Kontingen Aceh memperoleh satu juara 2 serta dua gelar juara 1 dalam empat kategori lomba, termasuk kemenangan Khaidar dan Al-Walid.

Rumah Kayu Diterjang Banjir

Khaidar berasal dari Krueng Mane, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, dan pulang ke rumah untuk bersiap ke Jakarta sebelum hujan ekstrem akibat siklon Senyar melanda wilayah tersebut.

Rumah kayu dua lantai miliknya miring diterjang banjir, bahkan ketinggian air mencapai leher sehingga Khaidar dan keluarganya harus mengungsi saat lingkungan sekitar sudah sepi.

Ia mengaku terkejut melihat lantai dua rumahnya ikut terendam karena biasanya area tersebut aman dari banjir meski hujan sangat lebat.

Baca juga: Terdampak Banjir, 7 Finalis Olimpiade PAI 2025 Gagal Hadir di Jakarta namun Tetap Diikutsertakan

Semangatnya sempat goyah ketika jembatan Kuta Blang dan sejumlah jembatan di sepanjang aliran Krueng Peusangan ambruk sehingga jalur menuju Banda Aceh terputus.

Tekadnya kembali menguat karena ingin tetap mewakili Aceh di ajang nasional.

Pada Minggu, 30 November, Khaidar dan ibunya menyeberangi Krueng Tingkeum menggunakan perahu yang disediakan warga dengan tarif 5.000 rupiah per orang.

Keduanya kemudian melanjutkan perjalanan ke Banda Aceh dan tiba di Jakarta keesokan harinya menggunakan maskapai Batik Air.

Kedatangan itu menjadi pengalaman pertama Khaidar menginjakkan kaki di Jakarta, dan hanya dua jam setelah check-in di Hotel Mercure Ancol ia langsung tampil di panggung perlombaan.

Khaidar mengaku gembira dapat hadir di Jakarta dan bangga bisa mewakili Aceh dalam ajang nasional.

Perjalanan Al-Walid tidak jauh berbeda karena ia juga harus menyeberangi sungai dan melewati jalur darat yang putus akibat banjir.

Tiket pesawat keduanya pada 30 November hangus karena terjebak di daerah terdampak, tetapi mereka tetap berhasil tiba di Jakarta dan bergabung dengan kontingen Aceh lainnya.

Baca juga: Kisah Intan dari Langkat Tembus Banjir Sejauh 4 Kilometer demi Lomba PAI di Jakarta

Kabid PAI Kanwil Kemenag Aceh, Aida Rina, mengatakan kondisi peserta sangat memprihatinkan karena bencana meluas di berbagai wilayah.

Dari 15 finalis Aceh, sebanyak 11 peserta berhasil tiba di Jakarta, dua mengikuti lomba secara daring, satu tertahan menuju Medan, dan satu lagi belum dapat dihubungi.

Salah satu peserta daring itu adalah Ayrakanz, finalis cover lagu dari Langsa, yang rumahnya terendam dan akses ke Banda Aceh maupun Medan terputus sehingga ia mengikuti lomba melalui Zoom sambil menangis.

Panitia tetap mendampinginya dengan penuh empati agar ia bisa menyelesaikan penampilan.

Safwina Tinambunan dari Aceh Singkil juga mengikuti lomba secara daring karena perjalanan lima jam menuju Banda Aceh terhambat banjir di Aceh Selatan dan tiket pesawatnya hangus.

Niswatul Husna, finalis MTQ dari Aceh Timur, hilang kontak selama dua hari dan baru mengabarkan bahwa ia sudah tiba di Medan meski tidak memungkinkan lagi melanjutkan perjalanan ke Jakarta.

Aida menyebut kondisi paling mengkhawatirkan dialami Baihaqi, finalis PAI asal Bireuen, yang hingga kini belum dapat dihubungi karena rumahnya terdampak parah.

Satu peserta lain, Intan Mataul Hayati, tetap berangkat ke Jakarta meskipun keluarganya tidak dapat dihubungi karena jaringan putus, dan ia bisa berangkat karena sedang menjalani kuliah Universitas Terbuka di Banda Aceh.

Aida menegaskan bahwa PAI Fair tahun ini menghadirkan kisah tentang keberanian, keteguhan, dan kecintaan pada pendidikan.

Anak-anak Aceh hadir tidak hanya untuk berprestasi, tetapi juga membawa harapan dari daerah yang masih dilanda banjir.

Mereka berdiri di panggung nasional ketika kampung halaman masih berkutat dengan air bah dan menunjukkan bahwa Aceh kuat, mampu, dan tidak menyerah.

Ulurkan tanganmu membantu korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di situasi seperti ini, sekecil apa pun bentuk dukungan dapat menjadi harapan baru bagi para korban. Salurkan donasi kamu sekarang dengan klik di sini



Terkini Lainnya
Putra Mahkota Dubai Pulihkan Tubuh Secara Esktrem: Terapi Es Minus 110 Derajat
Putra Mahkota Dubai Pulihkan Tubuh Secara Esktrem: Terapi Es Minus 110 Derajat
Aktual
Ramadhan Berapa Hari Lagi? Cek Hitung Mundur Ramadhan 2026 dan Persiapannya
Ramadhan Berapa Hari Lagi? Cek Hitung Mundur Ramadhan 2026 dan Persiapannya
Aktual
Kuota Haji NTB Bertambah 1.299 Orang, Daftar Tunggu Capai 26 Tahun
Kuota Haji NTB Bertambah 1.299 Orang, Daftar Tunggu Capai 26 Tahun
Aktual
Hitung Mundur Puasa Ramadhan 2026: Tinggal 28 Hari Lagi, Ini Prediksi Awal Versi Pemerintah dan Muhammadiyah
Hitung Mundur Puasa Ramadhan 2026: Tinggal 28 Hari Lagi, Ini Prediksi Awal Versi Pemerintah dan Muhammadiyah
Aktual
Hitung Mundur Puasa 2026: Berapa Hari Lagi Menuju Bulan Suci?
Hitung Mundur Puasa 2026: Berapa Hari Lagi Menuju Bulan Suci?
Aktual
Amalan Sebelum Tidur: Penenang Jiwa dan Penjaga Iman di Malam Hari
Amalan Sebelum Tidur: Penenang Jiwa dan Penjaga Iman di Malam Hari
Doa dan Niat
Panduan Lengkap Sholat Tahajud: Keutamaan, Waktu Terbaik, dan Bacaan Doanya
Panduan Lengkap Sholat Tahajud: Keutamaan, Waktu Terbaik, dan Bacaan Doanya
Doa dan Niat
Doa Setelah Sholat Tahajud: Melangitkan Doa Kala Pintu Doa Terbuka
Doa Setelah Sholat Tahajud: Melangitkan Doa Kala Pintu Doa Terbuka
Doa dan Niat
Apakah Tabur Bunga di Makam Berasal dari Islam? Simak Penjelasan Para Ulama
Apakah Tabur Bunga di Makam Berasal dari Islam? Simak Penjelasan Para Ulama
Doa dan Niat
Niat Puasa Syaban Sekaligus Qadha Ramadhan, Bolehkah Digabung?
Niat Puasa Syaban Sekaligus Qadha Ramadhan, Bolehkah Digabung?
Doa dan Niat
Video Viral, Ayah di Gaza Saring Reruntuhan Cari Tulang Istri dan Anak
Video Viral, Ayah di Gaza Saring Reruntuhan Cari Tulang Istri dan Anak
Aktual
Tradisi Sadranan di Bulan Sya’ban: Begini Pandangan Para Ulama
Tradisi Sadranan di Bulan Sya’ban: Begini Pandangan Para Ulama
Doa dan Niat
Puasa Syaban Tanggal Berapa? Ini Jadwal Lengkap 2026
Puasa Syaban Tanggal Berapa? Ini Jadwal Lengkap 2026
Aktual
Empat Dzikir Ringan Penghapus Dosa yang Dianjurkan Rasulullah SAW
Empat Dzikir Ringan Penghapus Dosa yang Dianjurkan Rasulullah SAW
Doa dan Niat
Sejarah Khulafaur Rasyidin: Empat Khalifah Dalam Naungan Nubuwah
Sejarah Khulafaur Rasyidin: Empat Khalifah Dalam Naungan Nubuwah
Doa dan Niat
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com