Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kelahiran Nabi Isa AS, Ujian Besar bagi Keteguhan Iman Maryam

Kompas.com, 23 Desember 2025, 17:16 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kisah Nabi Isa AS tidak dapat dilepaskan dari perjuangan ibundanya, Maryam, seorang perempuan suci yang namanya diabadikan dalam Al-Qur’an.

Maryam tumbuh dalam lingkungan ibadah dan pengabdian kepada Allah. Sejak kecil, ia dipersembahkan untuk berkhidmat di Baitul Maqdis, menjalani kehidupan yang penuh kesederhanaan, ketekunan, dan ketaatan.

Ujian terberat Maryam datang ketika Allah menakdirkannya mengandung tanpa seorang suami.

Dalam masyarakat yang menjunjung tinggi kehormatan nasab, kondisi itu menjadi beban sosial dan psikologis yang amat berat.

Maryam menghadapi rasa takut, kesedihan, dan kekhawatiran akan tuduhan kaumnya. Namun, di tengah keterasingan itu, Maryam memilih berserah diri sepenuhnya kepada kehendak Allah.

Keteguhan imannya menunjukkan bahwa kemuliaan seorang hamba tidak diukur dari pandangan manusia, melainkan dari ketulusan ketaatannya kepada Tuhan.

Baca juga: Kisah Nabi Shaleh AS: Unta Betina Awal Kehancuran Kaum Tsamud

Kelahiran Nabi Isa AS dan Pembelaan Ilahi

Dalam kesendirian, Maryam melahirkan Nabi Isa AS di bawah sebatang pohon kurma. Peristiwa ini menjadi awal dari rangkaian tanda-tanda kebesaran Allah.

Ketika Maryam kembali kepada kaumnya dengan menggendong sang bayi, tuduhan dan kecurigaan pun segera muncul.

Maryam memilih diam, sebagaimana diperintahkan Allah dan menunjuk kepada anak yang ada dalam gendongannya.

Di luar nalar manusia, Nabi Isa AS yang masih bayi kemudian berbicara. Ia memperkenalkan dirinya sebagai hamba Allah, menyatakan bahwa ia akan dianugerahi kitab dan diangkat sebagai nabi.

Mukjizat ini bukan sekadar keajaiban, tetapi pembelaan Ilahi yang tegas atas kehormatan Maryam.

Dalam satu peristiwa, kebenaran ditegakkan dan fitnah pun runtuh tanpa perlu perdebatan panjang.

Peristiwa ini juga menegaskan bahwa kenabian Nabi Isa AS telah ditandai sejak awal kehidupannya.

Allah memperlihatkan kekuasaan-Nya melalui sosok bayi untuk mengingatkan bahwa kebenaran tidak terikat oleh usia, status, maupun kekuatan manusia.

Baca juga: Kisah Nabi Nuh AS, Ketaatan di Tengah Ejekan dan Penolakan

Nabi Isa AS dan Misi Kenabian

Dikutip dari buku Kisah Para Nabi karya Ibnu Katsir, saat beranjak dewasa, Nabi Isa AS diutus kepada Bani Israil dengan membawa ajaran tauhid dan kitab Injil.

Ia menyeru kaumnya untuk kembali menyembah Allah semata, meluruskan penyimpangan, serta menegakkan nilai kasih sayang dan keadilan. Metode dakwahnya dikenal lembut, persuasif, dan penuh keteladanan.

Mukjizat-mukjizat yang menyertai Nabi Isa AS yaitu menyembuhkan orang buta, penderita kusta, hingga menghidupkan orang mati dengan izin Allah menjadi penguat risalah yang dibawanya.

Namun, mukjizat paling awal, yakni kemampuannya berbicara saat masih bayi, tetap menjadi simbol paling kuat tentang pembelaan Allah terhadap kebenaran dan kemuliaan seorang hamba yang taat.

Baca juga: Kisah Nabi Musa AS Menurut Al Quran yang Penuh Hikmah

Hikmah dari Kisah Nabi Isa

Kisah Maryam dan Nabi Isa AS menyampaikan pelajaran tentang iman yang teguh, kesabaran menghadapi stigma, serta keyakinan bahwa Allah selalu menolong hamba-Nya pada saat paling menentukan.

Mukjizat Nabi Isa berbicara saat bayi menjadi pengingat bahwa pertolongan Ilahi kerap hadir di luar dugaan manusia.

Dalam dunia yang kerap mengukur kebenaran dari kekuatan suara dan kuasa, kisah ini menegaskan satu hal: kebenaran sejati selalu memiliki cara sendiri untuk tampil, selama manusia bersedia berserah dan percaya kepada kehendak Allah.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar