Editor
KOMPAS.com — Memasuki bulan Sya’ban, banyak umat Islam mulai bertanya-tanya: bolehkah puasa setelah Nisfu Syaban, terutama bagi yang masih memiliki utang puasa Ramadan?
Pertanyaan ini muncul karena adanya hadis yang sering dikutip:
“Jika Sya’ban sudah pertengahan maka janganlah berpuasa.” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah)
Namun, Ustadz Abdul Somad (UAS) mengingatkan agar hadis tersebut tidak dipahami secara mentah tanpa melihat konteks penjelasan para ulama.
Baca juga: Doa Malam Nisfu Syaban: Amalan di Waktu Penuh Ampunan
Menurut UAS, larangan dalam hadis tersebut bukan berlaku untuk semua orang.
“Jangan dibaca hadis itu bulat-bulat. Yang tidak dibolehkan puasa adalah orang yang baru memulai puasa sunnah setelah Nisfu Syaban,” jelas UAS dalam sebuah kajian yang dikutip dari kanal YouTube FANS USTADZ.
Artinya, larangan itu ditujukan bagi mereka yang sebelumnya tidak pernah berpuasa sunnah di bulan Sya’ban atau bulan sebelumnya, lalu tiba-tiba memulai puasa sunnah setelah tanggal 15 Sya’ban.
UAS menegaskan, berbeda hukumnya bagi orang yang memang sudah memiliki kebiasaan berpuasa, seperti:
Jika kebiasaan tersebut berlanjut hingga tanggal 17 Sya’ban dan seterusnya, maka hukumnya boleh dan sah.
Ini yang paling penting. Bagi yang masih memiliki utang puasa Ramadan, UAS menegaskan bahwa puasa qadha tetap boleh dan bahkan dianjurkan, meskipun sudah melewati Nisfu Syaban.
Sebab, qadha puasa adalah kewajiban yang harus ditunaikan sebelum Ramadan berikutnya tiba.
“Bagi yang ingin mengganti utang puasa Ramadan, tetap boleh. Bahkan sebaiknya segera dituntaskan sebelum masuk Ramadan,” tegas UAS.
Selain untuk melunasi kewajiban, memperbanyak puasa di bulan Sya’ban juga menjadi bentuk “pemanasan” fisik dan mental sebelum memasuki Ramadan.
Menurut UAS, orang yang sudah terbiasa berpuasa di Sya’ban akan lebih tenang saat Ramadan tiba.
“Orang yang sudah biasa puasa di bulan Sya’ban akan lebih menikmati puasa di bulan Ramadan,” ujarnya.
Baca juga: Kapan Malam Nisfu Syaban 2026? Catat Tanggalnya dan Amalan yang Dianjurkan
Bagi yang masih memiliki utang puasa tahun lalu, bulan Sya’ban adalah kesempatan terakhir untuk menunaikannya.
Jadi, puasa setelah Nisfu Syaban bukanlah hal yang terlarang, selama tujuannya adalah qadha atau melanjutkan kebiasaan puasa sunnah yang sudah rutin dilakukan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang