KOMPAS.com - Di tengah kesibukan masyarakat modern, kebutuhan akan panduan ibadah yang ringkas namun tetap bermakna semakin meningkat.
Salah satunya adalah tahlil singkat, rangkaian zikir yang kerap dibaca dalam berbagai momentum keagamaan, mulai dari doa bersama, tahlilan keluarga, hingga peringatan hari-hari besar Islam.
Meski dibaca secara ringkas, tahlil tetap memuat pesan tauhid yang mendalam dan memiliki nilai spiritual yang besar bagi umat Muslim.
Lantas, apa sebenarnya tahlil singkat, bagaimana susunan bacaannya, serta apa makna dan keutamaannya dalam ajaran Islam?
Baca juga: Santri Nihadlul Qulub Zikir di Atas Awan, Taklukkan Puncak Gunung Slamet
Secara bahasa, tahlil berasal dari kata hallala–yuhallilu yang berarti mengucapkan kalimat lā ilāha illallāh (tiada Tuhan selain Allah).
Dalam konteks praktik keagamaan di Indonesia, tahlil berkembang menjadi rangkaian bacaan zikir, doa, dan ayat Al-Qur’an yang dibaca bersama-sama.
Dalam kitab Fiqhul Islami wa Adillatuhu karya Dr. Wahbah az-Zuhaily, dijelaskan bahwa tahlil merupakan bagian dari dzikir lisan yang dianjurkan syariat karena mengandung penguatan akidah tauhid dan pengingat hubungan manusia dengan Allah SWT.
Tradisi tahlilan sendiri tidak hanya dikenal sebagai doa untuk orang yang telah wafat, tetapi juga menjadi sarana mempererat ukhuwah dan menumbuhkan suasana spiritual di tengah masyarakat.
Baca juga: Bacaan Tahlil Lengkap dengan Doa: Arab, Latin, dan Artinya
Di berbagai kesempatan, tidak semua orang memiliki waktu untuk membaca tahlil panjang. Karena itu, tahlil singkat menjadi alternatif yang praktis namun tetap sah dan bernilai ibadah.
Menurut KH. Ali Mustafa Yaqub dalam buku Kajian Hadits, inti dari tahlil terletak pada pengucapan kalimat tauhid dan zikir utama, bukan pada panjang atau pendeknya rangkaian bacaan. Selama substansi dzikir tetap terjaga, tahlil tetap bernilai ibadah.
Berikut susunan tahlil singkat yang umum digunakan di masyarakat:
Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.
Astaghfirullāhal ‘aẓīm alladzī lā ilāha illā huwa al-ḥayyul qayyūm wa atūbu ilaih.
Artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung, tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup dan Maha Mengurus makhluk-Nya, dan aku bertobat kepada-Nya.”
Allāhumma ṣalli ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā āli Sayyidinā Muḥammad.
Lā ilāha illallāh.
Subḥānallāh, Alḥamdulillāh, Allāhu Akbar.
Allāhumma’ghfir lanā wa liwālidīnā wa lil-mu’minīna wal-mu’mināt.
Artinya: “Ya Allah, ampunilah kami, kedua orang tua kami, dan seluruh kaum mukmin laki-laki dan perempuan.”
Perintah memperbanyak dzikir ditegaskan dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 41:
Yā ayyuhalladzīna āmanudzkurullāha dzikran katsīrā.
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya.”
Ayat ini menjadi dasar kuat bahwa dzikir, termasuk tahlil merupakan amalan utama dalam menjaga kedekatan spiritual seorang hamba kepada Tuhannya.
Baca juga: Bacaan Dzikir dan Tahlil Singkat: Arab, Latin, dan Artinya
Rasulullah SAW menegaskan keutamaan kalimat tauhid dalam banyak hadis. Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan:
“Dzikir yang paling utama adalah Lā ilāha illallāh.”
Dalam kitab Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawi dijelaskan bahwa tahlil memiliki keutamaan besar karena menjadi inti ajaran Islam dan pondasi seluruh amal ibadah.
Lebih dari sekadar bacaan ritual, tahlil memiliki fungsi edukatif. Menurut Prof. Quraish Shihab dalam buku Membumikan Al-Qur’an, dzikir yang dilakukan secara rutin mampu membentuk kesadaran spiritual, melatih ketenangan jiwa, dan menumbuhkan sikap tawakal dalam kehidupan sehari-hari.
Tahlil juga menjadi media pembelajaran tauhid bagi generasi muda, terutama ketika dibaca secara berjamaah di lingkungan keluarga atau masyarakat.
Tidak ada batasan waktu khusus untuk membaca tahlil. Namun, para ulama menganjurkan membacanya pada waktu-waktu utama seperti:
Dalam buku Rahasia Zikir dan Doa karya Imam Al-Ghazali, disebutkan bahwa konsistensi dzikir lebih utama daripada jumlah bacaan yang banyak tetapi tidak berkelanjutan.
Baca juga: Bacaan Tasbih, Tahmid, Takbir, dan Tahlil: Arab, Latin, Artinya
Di era serba cepat, tahlil singkat menjadi solusi bagi umat Islam yang ingin tetap menjaga rutinitas ibadah di sela aktivitas padat.
Praktik ini menunjukkan bahwa Islam memberikan kemudahan dalam beribadah tanpa mengurangi substansi nilai spiritualnya.
Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 185:
Yurīdullāhu bikumul-yusr wa lā yurīdu bikumul-‘usr.
Artinya: “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.”
Para ulama mengingatkan agar tahlil tidak sekadar menjadi kebiasaan lisan, tetapi harus diiringi penghayatan makna.
Kalimat Lā ilāha illallāh bukan hanya ucapan, melainkan komitmen hidup untuk menempatkan Allah sebagai pusat orientasi dalam setiap aspek kehidupan.
Dengan memahami makna dan keutamaannya, tahlil singkat dapat menjadi pintu pembuka untuk memperkuat iman, menenangkan hati, serta memperdalam hubungan spiritual seorang Muslim dengan Sang Pencipta.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang