Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Manfaat Puasa Nisfu Syaban: Rahasia Bersih Hati Jelang Ramadhan

Kompas.com, 3 Februari 2026, 10:04 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Bulan Sya’ban sering disebut sebagai jembatan spiritual menuju Ramadhan. Di tengah arus aktivitas umat Islam, terdapat satu momentum yang selalu dinanti, yaitu malam pertengahan Sya’ban atau Nisfu Sya’ban.

Pada fase inilah banyak ulama mendorong umat Islam untuk memperbanyak ibadah, termasuk puasa sunnah, sebagai bentuk persiapan ruhani dan moral sebelum memasuki bulan suci.

Puasa Nisfu Sya’ban bukan sekadar amalan rutin, melainkan praktik spiritual yang sarat makna.

Ibadah ini menyentuh dimensi teologis, psikologis, hingga sosial, sehingga memiliki relevansi kuat dalam membentuk kesalehan personal dan kolektif umat Islam.

Sya’ban dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadis

Secara normatif, keutamaan Sya’ban tidak terlepas dari semangat Al-Qur’an yang mendorong umat Islam untuk mempersiapkan diri secara spiritual. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

Yā ayyuhalladzīna āmanūttaqullāha wal tanzhur nafsum mā qaddamat lighad

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS. Al-Hasyr: 18)

Ayat ini sering dijadikan landasan reflektif bahwa masa sebelum Ramadhan, termasuk Sya’ban, merupakan waktu strategis untuk melakukan evaluasi diri.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Usamah bin Zaid, Rasulullah SAW menjelaskan keistimewaan Sya’ban:

“Itulah bulan yang sering dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan. Pada bulan itu amal-amal diangkat kepada Rabb semesta alam, dan aku ingin amalanku diangkat dalam keadaan berpuasa.” (HR. An-Nasa’i)

Keterangan ini menunjukkan bahwa puasa di bulan Sya’ban, termasuk sekitar Nisfu Sya’ban, memiliki nilai spiritual yang tinggi karena berkaitan dengan momentum pengangkatan amal.

Baca juga: Nisfu Syaban 3 Februari 2026 Bertepatan Ayyamul Bidh, Ini Dalil Puasa dan Doa Berbukanya

Puasa Nisfu Sya’ban sebagai Sarana Pembersihan Spiritual

Dalam perspektif tasawuf, puasa sunnah memiliki fungsi tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa puasa tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga mengendalikan hawa nafsu dan membersihkan hati dari sifat-sifat tercela.

Menurutnya, “Puasa adalah pintu menuju ketenangan jiwa, karena ia melemahkan dorongan syahwat yang menjadi sumber banyak dosa.”

Puasa Nisfu Sya’ban dapat dipahami sebagai latihan spiritual sebelum Ramadhan. Dengan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, seorang Muslim belajar mengatur emosi, menumbuhkan kesabaran, dan meningkatkan kesadaran akan kehadiran Allah SWT dalam setiap aktivitas.

Menguatkan Kesadaran Taubat dan Introspeksi Diri

Malam Nisfu Sya’ban sering dikaitkan dengan momentum pengampunan dosa. Dalam kitab Latha’if al-Ma’arif, karya Ibnu Rajab Al-Hanbali, dijelaskan bahwa sebagian ulama salaf memaknai pertengahan Sya’ban sebagai waktu untuk memperbanyak istighfar dan muhasabah.

Mereka memanfaatkan momen ini untuk memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia.

Puasa pada hari berikutnya menjadi kelanjutan dari proses batin tersebut. Setelah bermunajat di malam hari, umat Islam diajak untuk menjaga kesucian jiwa di siang harinya melalui ibadah puasa.

Pola ini membentuk kesinambungan antara ibadah malam dan siang, yang berdampak pada penguatan kesadaran spiritual.

Baca juga: Keutamaan Puasa Nisfu Syaban, Amalan Sunnah dengan Keistimewaan Ampunan Allah

Dimensi Sosial: Menumbuhkan Empati dan Kepedulian

Selain berdimensi personal, puasa Nisfu Sya’ban juga memiliki dampak sosial. Dalam buku Fiqh as-Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa puasa sunnah, sebagaimana puasa wajib, mengajarkan umat Islam untuk merasakan penderitaan orang-orang yang kekurangan.

Rasa lapar yang dialami saat berpuasa membuka ruang empati dan mendorong munculnya kepedulian sosial.

Hal ini sejalan dengan tujuan besar syariat Islam yang menekankan keseimbangan antara ibadah ritual dan tanggung jawab sosial.

Dengan demikian, puasa Nisfu Sya’ban bukan hanya ibadah individual, tetapi juga sarana membangun solidaritas dan kepekaan terhadap problem kemanusiaan.

Dampak Psikologis dan Kesehatan Tubuh

Dari sisi psikologis, puasa sunnah dapat membantu membentuk kontrol diri dan kestabilan emosi.

Dalam kajian kesehatan modern, puasa juga diketahui memberi manfaat bagi metabolisme tubuh, membantu proses detoksifikasi alami, serta meningkatkan sensitivitas insulin.

Meski tujuan utama puasa adalah ibadah, manfaat kesehatan ini menjadi nilai tambah yang relevan dengan gaya hidup masyarakat modern.

Puasa Nisfu Sya’ban dapat menjadi titik awal pembiasaan pola hidup sehat menjelang Ramadhan, ketika intensitas ibadah dan pengaturan pola makan semakin meningkat.

Persiapan Strategis Menyambut Ramadhan

Banyak ulama memandang Sya’ban sebagai fase pemanasan menuju Ramadhan. Syekh Yusuf Al-Qaradawi dalam bukunya Kaifa Nastaqbil Ramadhan menegaskan bahwa persiapan Ramadhan tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga spiritual.

Puasa sunnah di bulan Sya’ban, termasuk sekitar Nisfu Sya’ban, membantu umat Islam beradaptasi secara fisik dan mental sebelum menjalani puasa wajib sebulan penuh.

Dengan terbiasa berpuasa, tubuh tidak mengalami “kejutan” saat Ramadhan tiba. Secara mental, seorang Muslim juga lebih siap menghadapi tuntutan ibadah yang lebih intens, seperti tarawih, tadarus Al-Qur’an, dan sedekah.

Baca juga: Doa- doa Malam Nisfu Syaban 2026 yang Dianjurkan Sesuai Sunnah

Menghidupkan Tradisi Sunnah Rasulullah SAW

Meneladani Rasulullah SAW merupakan tujuan utama dalam menjalankan puasa sunnah. Aisyah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW sering memperbanyak puasa di bulan Sya’ban hingga hampir menyerupai puasa sebulan penuh (HR. Bukhari dan Muslim).

Fakta ini memperkuat argumen bahwa puasa di bulan Sya’ban, termasuk pada momentum Nisfu Sya’ban, memiliki legitimasi kuat dalam tradisi Islam.

Dengan menghidupkan sunnah ini, umat Islam tidak hanya mendapatkan pahala, tetapi juga membangun koneksi historis dengan praktik ibadah Nabi Muhammad SAW.

Refleksi: Menjadikan Nisfu Sya’ban sebagai Titik Balik Spiritual

Puasa Nisfu Sya’ban sejatinya bukan tujuan akhir, melainkan pintu masuk menuju perubahan diri yang lebih baik.

Ibadah ini mengajarkan pentingnya evaluasi diri, memperbaiki hubungan dengan Allah, memperkuat empati sosial, dan menyiapkan mental menyambut Ramadhan.

Di tengah dinamika kehidupan modern yang serba cepat, momentum Nisfu Sya’ban dapat menjadi ruang jeda untuk merenung, memperlambat langkah, dan kembali menata orientasi hidup.

Dengan menjadikan puasa Nisfu Sya’ban sebagai tradisi spiritual tahunan, umat Islam memiliki kesempatan untuk memperbarui komitmen keimanan dan memperkuat kualitas ibadah.

Jika dimaknai secara mendalam, puasa Nisfu Sya’ban bukan hanya ritual sunnah, tetapi strategi spiritual untuk membangun kesalehan yang berkelanjutan.

Dari sinilah Ramadhan seharusnya dimulai, bukan dari lapar semata, melainkan dari hati yang telah dipersiapkan dengan kesadaran, keikhlasan, dan harapan akan ampunan Allah SWT.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com