Editor
KOMPAS.com - Puasa Ramadhan merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang memenuhi syarat.
Namun, masih ada sebagian orang yang dengan sengaja meninggalkan puasa tanpa alasan yang dibenarkan syariat. Lalu bagaimana hukum tidak berpuasa Ramadhan tanpa uzur (halangan syar'i atau alasan sah) menurut ulama?
Dalam Islam, puasa di bulan Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan bentuk ketaatan kepada Allah dan sarana penyucian jiwa.
Baca juga: Hukum Menelan Ludah Saat Puasa, Batal atau Tidak? Ini Kata Ulama
Kewajiban ini juga tercantum dalam Al-Quran, yaitu surat Al Baqarah ayat 182 yang berbunyi:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ١٨٣
yâ ayyuhalladzîna âmanû kutiba ‘alaikumush-shiyâmu kamâ kutiba ‘alalladzîna ming qablikum la‘allakum tattaqûn
Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Al Baqarah:182)
Kewajiban ini memiliki aturan yang jelas dalam syariat, sehingga, bagi mereka yang meninggalkannya tanpa uzur syar’i dinilai mengabaikan perintah Allah.
Dilansir dari Antara, para ulama menjelaskan, seseorang yang sengaja tidak berpuasa tanpa alasan yang sah telah melakukan pelanggaran serius dalam agama.
Ia wajib bertaubat dengan sungguh-sungguh, menyesali perbuatannya, serta bertekad tidak mengulanginya.
Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan:
"Jika seseorang tidak berpuasa di bulan Ramadhan karena menganggapnya halal, padahal ia mengetahui bahwa puasa adalah kewajiban, maka ia telah melakukan kesalahan besar dan harus bertaubat serta mengganti puasanya." (Al-Fatawa Al-Kubra, 2/473)
Penjelasan ini menegaskan bahwa meremehkan kewajiban puasa Ramadhan tanpa alasan yang dibenarkan termasuk perbuatan yang serius dalam pandangan syariat.
Sejumlah ulama mengategorikan meninggalkan puasa Ramadhan tanpa uzur sebagai dosa besar. Ibnu Hajar Al-Haitsami rahimahullah menyatakan:
"Dosa besar adalah meninggalkan puasa satu hari di bulan Ramadan tanpa uzur yang dibenarkan, seperti sakit atau bepergian." (Az-Zawajir, 1/323)
Ulama Lajnah Daimah lil Ifta’ juga menegaskan:
"Seseorang yang dengan sengaja merusak puasanya di bulan Ramadan tanpa alasan yang dibenarkan telah melakukan dosa besar." (Fatawa Lajnah Daimah, 10/357)
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa hukum sengaja tidak berpuasa Ramadhan tanpa sebab syar’i berada dalam kategori pelanggaran berat menurut banyak ulama.
Meski demikian, Islam tetap memberikan jalan taubat bagi yang telah melakukan pelanggaran.
Orang yang meninggalkan puasa tanpa alasan wajib bertaubat dan mengganti puasa yang ditinggalkan.
Abdul Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan:
"Barang siapa yang meninggalkan puasa satu hari di bulan Ramadhan tanpa uzur syar’i, maka ia telah melakukan kesalahan besar. Namun, jika ia bertaubat dengan tulus, menyesali perbuatannya, dan bertekad untuk tidak mengulanginya, maka Allah akan menerima taubatnya. Ia juga wajib mengganti puasa yang ditinggalkan."
Hal senada ditegaskan Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah:
"Membatalkan puasa di bulan Ramadhan tanpa uzur adalah pelanggaran serius. Orang yang melakukannya wajib bertaubat serta mengganti puasa yang ditinggalkannya."
Dengan demikian, hukum sengaja tidak berpuasa Ramadhan tanpa uzur syar’i menurut para ulama adalah dosa besar yang mewajibkan taubat dan qadha puasa sebagai bentuk tanggung jawab atas kewajiban yang ditinggalkan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang