Editor
KOMPAS.com-Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) resmi menetapkan nilai nisab zakat pendapatan dan jasa tahun 2026 sebesar 85 gram emas atau setara Rp 91.681.728 per tahun dan Rp 7.640.144 per bulan.
Ketetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Ketua BAZNAS Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2026 tentang Nilai Nisab Zakat Pendapatan dan Jasa Tahun 2026.
Keputusan ini diumumkan pada awal Maret 2026 sebagai pedoman bagi umat Islam dalam menghitung kewajiban zakat penghasilan.
Dalam keputusan tersebut, emas yang dijadikan acuan adalah emas 14 karat dengan kandungan 58,33–62,49 persen.
Baca juga: Menag Minta Maaf: Zakat Rukun Islam yang Wajib Ditunaikan
Penetapan nisab zakat penghasilan 2026 oleh BAZNAS mengacu pada standar 85 gram emas sebagaimana praktik yang berlaku dalam perhitungan zakat pendapatan dan jasa.
Nilai Rp 91.681.728 per tahun atau Rp 7.640.144 per bulan menjadi batas minimal penghasilan wajib zakat apabila telah mencapai nisab dalam satu tahun.
Penggunaan emas 14 karat sebagai acuan menjadi salah satu poin yang mendapat perhatian publik dan lembaga keagamaan.
Baca juga: Nisab Zakat Penghasilan 2026: Setara Rp 91 Juta per Tahun, Kini Pakai Emas 14 Karat
Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan masih mengkaji acuan kadar karat emas dalam nisab zakat penghasilan dan jasa.
Sekretaris Komisi Fatwa MUI, KH Miftahul Huda, menyampaikan bahwa MUI telah menerbitkan Fatwa Nomor 3 Tahun 2003 tentang Zakat Penghasilan.
Fatwa tersebut memuat empat diktum utama terkait ketentuan zakat penghasilan.
Pertama, ketentuan umum yang menjelaskan bahwa penghasilan adalah setiap pendapatan seperti gaji, honorarium, upah, jasa, dan lain-lain yang diperoleh secara halal.
Penghasilan tersebut dapat bersifat rutin seperti pejabat negara, pegawai, atau karyawan, maupun tidak rutin seperti dokter, pengacara, konsultan, dan pekerjaan bebas lainnya.
Baca juga: Perbedaan Zakat Fitrah dan Zakat Mal: Jangan Sampai Keliru, Ini Penjelasan Lengkapnya
Kedua, ketentuan hukum yang menyatakan seluruh penghasilan halal wajib dikeluarkan zakatnya apabila telah mencapai nisab dalam satu tahun, yakni senilai 85 gram emas.
Ketiga, waktu pembayaran zakat dapat dilakukan saat menerima penghasilan apabila sudah mencapai nisab.
Apabila belum mencapai nisab, penghasilan dikumpulkan selama satu tahun dan zakat dikeluarkan ketika penghasilan bersih telah memenuhi batas nisab.
Keempat, kadar zakat penghasilan ditetapkan sebesar 2,5 persen.
Komisi Fatwa MUI mengakui bahwa dalam Fatwa Nomor 3 Tahun 2003 belum disebutkan secara spesifik kadar karat emas yang dijadikan ukuran nilai emas dalam zakat penghasilan.
"Tetapi fatwa ini masih relevan. Keadaan harga emas yang semakin naik dan potensi berkurangnya muzaki belum menjadi illah yang kuat untuk mereview fatwa tentang zakat penghasilan," kata Miftah, Senin (2/3/2026) dilansir dari MUI.
Miftah menegaskan hingga saat ini MUI belum memberikan rekomendasi kepada pihak luar, termasuk BAZNAS, terkait kadar karat emas yang digunakan sebagai ukuran nilai zakat penghasilan.
"Secara internal MUI masih mengkaji apakah nilai karat emas itu 24, 22, 21, atau 14 sesuai dengan keputusan Baznas," kata Kiai Miftah.
Kajian internal tersebut dilakukan untuk memastikan kesesuaian antara ketentuan fikih, perkembangan harga emas, dan kebijakan lembaga pengelola zakat nasiona
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang