KOMPAS.com - Sungai Eufrat selama ribuan tahun menjadi salah satu sumber kehidupan paling penting di kawasan Timur Tengah.
Sungai ini mengalir melintasi Turki, Suriah, hingga Irak dan menjadi bagian dari sistem Sungai Tigris–Eufrat yang dikenal sebagai pusat lahirnya peradaban manusia di wilayah Mesopotamia.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, kondisi Sungai Eufrat semakin memprihatinkan. Penurunan debit air, kekeringan berkepanjangan, hingga perubahan iklim membuat banyak ilmuwan memperingatkan bahwa sungai tersebut berpotensi mengalami pengeringan serius dalam beberapa dekade mendatang.
Fenomena ini menarik perhatian publik, terutama karena dalam tradisi Islam terdapat hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa mengeringnya Sungai Eufrat merupakan salah satu tanda menjelang kiamat.
Lantas, apakah benar kondisi yang terjadi saat ini berkaitan dengan tanda akhir zaman tersebut?
Sungai Eufrat merupakan salah satu sungai terbesar di Asia Barat. Sungai ini berasal dari dataran tinggi di Turki bagian timur lalu mengalir sepanjang wilayah Suriah hingga Irak sebelum akhirnya bermuara di Teluk Persia bersama Sungai Tigris.
Dalam buku “The Tigris & Euphrates River” karya Shane Mountjoy, dijelaskan bahwa panjang Sungai Eufrat mencapai sekitar 1.739 mil atau lebih dari 2.700 kilometer, menjadikannya sungai terpanjang di kawasan tersebut.
Sungai ini terbentuk dari pertemuan dua anak sungai utama di Turki, yaitu Murat (Efrat Timur) yang mengalir dari wilayah Danau Van serta Karasu (Efrat Barat) yang berasal dari pegunungan di utara Erzurum.
Sejak ribuan tahun lalu, wilayah di sekitar Sungai Tigris dan Eufrat dikenal sebagai Mesopotamia, yang dalam bahasa Yunani berarti “tanah di antara dua sungai”.
Wilayah ini diyakini sebagai tempat berkembangnya sejumlah peradaban kuno, seperti Sumeria, Babilonia, dan Assyria.
Karena itu, perubahan kondisi sungai ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga kehidupan jutaan penduduk yang bergantung pada airnya untuk pertanian, konsumsi, hingga kebutuhan industri.
Baca juga: Hadis 70 Ribu Pengikut Dajjal Kembali Disorot, Kiamat Sudah Dekat?
Kekhawatiran mengenai masa depan Sungai Eufrat semakin meningkat setelah sejumlah laporan ilmiah menunjukkan penurunan cadangan air secara signifikan.
Satelit Gravity Recovery and Climate Experiment (GRACE) milik NASA pada 2013 menemukan bahwa cekungan Sungai Tigris–Eufrat telah kehilangan sekitar 144 kilometer kubik air tawar sejak 2003.
Penelitian tersebut dipimpin oleh Jay Famiglietti, ahli hidrologi dari University of California, Irvine.
Dalam penjelasannya, ia menyebut penurunan cadangan air di wilayah tersebut termasuk yang tercepat di dunia.
Menurut Famiglietti, penurunan ini semakin terlihat sejak kekeringan besar yang terjadi pada 2007.
Di sisi lain, kebutuhan air terus meningkat seiring pertumbuhan populasi dan aktivitas ekonomi di kawasan tersebut.
Selain faktor iklim, pembangunan bendungan di hulu sungai di Turki dan Suriah juga memengaruhi aliran air menuju Irak.
Kementerian Sumber Daya Air Irak bahkan memperingatkan bahwa Sungai Tigris dan Eufrat berisiko mengalami pengeringan serius pada sekitar tahun 2040 jika kondisi ini terus berlangsung tanpa pengelolaan air yang lebih baik.
Perubahan iklim turut memperburuk situasi. Di beberapa wilayah Suriah, suhu rata-rata dilaporkan meningkat sekitar satu derajat dalam satu abad terakhir, sementara curah hujan terus menurun.
Kondisi Sungai Eufrat yang semakin menurun mulai menimbulkan berbagai dampak sosial dan kesehatan.
Dalam laporan yang diterbitkan British Medical Journal (BMJ), krisis air di Irak memicu munculnya berbagai penyakit yang berkaitan dengan sanitasi buruk dan keterbatasan air bersih.
Aktivis lingkungan dari Asosiasi Pelindung Sungai Tigris, Naseer Baqar, mengatakan bahwa sejumlah penyakit seperti diare, tifus, kolera, hingga campak mulai meningkat di beberapa wilayah Irak akibat kesulitan memperoleh air bersih.
Selain masalah kesehatan, kekurangan air juga memicu ketegangan politik antarnegara di kawasan tersebut, terutama terkait pembagian sumber daya air lintas batas.
Baca juga: Tanda Kiamat Datang Beruntun? Ini Peringatan Nabi yang Mengejutkan
Fenomena mengeringnya Sungai Eufrat menjadi perhatian umat Islam karena disebutkan dalam beberapa hadis Nabi Muhammad SAW.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
“Kiamat tidak akan terjadi hingga Sungai Eufrat mengering lalu menyingkap gunung emas. Manusia akan saling berperang untuk memperebutkannya. Dari setiap seratus orang, sembilan puluh sembilan akan terbunuh.” (HR Muslim).
Hadis lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA juga menyebutkan:
“Hampir saja Sungai Eufrat membuka simpanan emas. Siapa yang menyaksikannya janganlah mengambil apa pun darinya.” (HR Tirmidzi).
Hadis-hadis ini kemudian sering dikaitkan dengan perubahan kondisi Sungai Eufrat yang terjadi pada masa sekarang.
Para ulama menjelaskan bahwa hadis tersebut tidak selalu harus dipahami secara harfiah.
Dalam kitab Syarah Shahih Muslim, Imam Nawawi menerangkan bahwa mengeringnya Sungai Eufrat berarti terbukanya dasar sungai akibat air yang surut atau berubah alirannya.
Pendapat ini juga disebutkan dalam buku “Nihayatul ‘Alam” karya Muhammad Al-Areifi, yang menjelaskan bahwa kemunculan “gunung emas” bisa saja terjadi karena perubahan kondisi alam yang menyingkap sesuatu yang sebelumnya tersembunyi di dasar sungai.
Sementara itu, sebagian ulama lain menafsirkan istilah “gunung emas” secara simbolis.
Dalam ta’liq terhadap kitab “An Nihayah fi Al-Fitan wa Al-Malahim” karya Ibnu Katsir, disebutkan bahwa gunung emas bisa saja merupakan kiasan bagi sumber daya alam bernilai tinggi seperti minyak bumi.
Pendapat ini muncul karena wilayah Timur Tengah memang dikenal memiliki cadangan energi terbesar di dunia.
Baca juga: Salju Turun di Arab Saudi: Benarkah Tanda Kiamat atau Hanya Perubahan Iklim Global?
Para ulama umumnya mengingatkan agar umat Islam tidak tergesa-gesa mengaitkan setiap peristiwa alam dengan tanda kiamat.
Dalam kajian eskatologi Islam, tanda kiamat memang dibagi menjadi dua kategori, yaitu tanda kecil (ashrath al-sa’ah al-sughra) dan tanda besar (kubra).
Beberapa tanda kecil diyakini sudah terjadi sejak masa awal Islam hingga sekarang, seperti meningkatnya konflik, perubahan moral sosial, hingga berbagai fenomena alam.
Namun waktu pasti terjadinya kiamat tetap menjadi rahasia Allah SWT.
Dalam buku “Al Jannah: Misteri Surga Terungkap di Akhir Zaman” karya Brilly El Rasheed, dijelaskan bahwa hadis tentang Sungai Eufrat lebih merupakan peringatan agar manusia tidak terjebak dalam perebutan kekayaan dunia yang dapat memicu pertumpahan darah.
Karena itu, pesan utama hadis tersebut adalah peringatan moral tentang bahaya keserakahan manusia.
Kondisi Sungai Eufrat yang terus menurun menunjukkan bahwa krisis lingkungan global semakin nyata.
Fenomena ini bukan hanya persoalan geopolitik dan perubahan iklim, tetapi juga menjadi pengingat tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam.
Bagi umat Islam, hadis tentang Sungai Eufrat sering dipahami sebagai pengingat spiritual bahwa manusia tidak boleh terjebak dalam perebutan kekayaan dunia yang berlebihan.
Apakah pengeringan Sungai Eufrat yang terjadi saat ini berkaitan langsung dengan tanda kiamat atau tidak, para ulama sepakat bahwa waktunya tetap menjadi rahasia Allah SWT.
Namun satu hal yang pasti, perubahan alam yang terjadi di berbagai belahan dunia seharusnya mendorong manusia untuk lebih bijak dalam mengelola sumber daya bumi serta memperkuat kesadaran spiritual dalam menghadapi masa depan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang