KOMPAS.com - Nabi Muhammad SAW tidak hanya mengabarkan bahwa kiamat pasti terjadi, tetapi juga memberikan peta peringatan berupa tanda-tanda yang akan muncul sebelum hari akhir tiba.
Menariknya, dalam beberapa riwayat sahih disebutkan bahwa sebagian tanda kiamat tidak datang secara terpisah, melainkan muncul beruntun, saling menguatkan, dan berlangsung dalam tempo yang cepat.
Fenomena ini menggambarkan fase akhir peradaban manusia, ketika kerusakan moral, krisis kepemimpinan, serta kekacauan sosial terjadi hampir bersamaan.
Ulama menyebut fase ini sebagai masa tanda-tanda wustha menuju kubra, yaitu tahap menjelang peristiwa besar kiamat.
Baca juga: Fenomena Emas di Sungai Eufrat: Tanda Kiamat atau Sekadar Mineral?
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam At-Tirmidzi, Rasulullah SAW menjelaskan rangkaian tanda akhir zaman yang akan muncul hampir bersamaan.
Hadits ini dihimpun oleh Syekh Mahir Ahmad Ash-Shuffi dalam kitab Asyratus Sa’ah al-Hasyr wa Qiyamus Sa’ah.
Rasulullah SAW bersabda bahwa tanda-tanda itu dimulai dari rusaknya amanah, ilmu yang dipelajari bukan untuk agama, zakat dianggap beban, pemimpin dipegang orang fasik, suara gaduh di masjid, hingga merebaknya minuman keras dan hiburan maksiat. Beliau kemudian menegaskan:
“Maka pada saat itu hendaklah mereka menantikan tanda-tanda kiamat yang datang susul-menyusul seperti untaian manik-manik yang terputus talinya.” (HR At-Tirmidzi)
Perumpamaan “manik-manik yang putus” menunjukkan bahwa tanda-tanda tersebut jatuh berturut-turut tanpa jeda panjang. Begitu satu tanda muncul, tanda lain segera menyusul.
Baca juga: Tanpa Disadari, 10 Tanda-Tanda Kiamat Kecil Ini Sudah Terjadi
Syekh Mahir Ahmad Ash-Shuffi menjelaskan bahwa tanda-tanda ini tidak berdiri sendiri. Dalam bukunya ia menerangkan, sebagian peristiwa akhir zaman akan saling menyebabkan dan mempercepat terjadinya tanda lain.
Sebagai contoh, bencana alam besar dapat memicu krisis ekonomi, lumpuhnya transportasi, kekacauan sosial, hingga meningkatnya kejahatan.
Dalam kondisi seperti ini, masyarakat hidup dalam ketakutan, kehilangan stabilitas, dan mudah terjerumus dalam fitnah.
Kondisi tersebut sejalan dengan penjelasan Imam Al-Qurthubi dalam At-Tadzkirah fi Ahwalil Mauta wal Akhirah, bahwa menjelang kiamat manusia akan mengalami fase ujian berat yang membuat dunia terasa sempit, penuh kecemasan, dan kehilangan rasa aman.
Salah satu tanda yang disebut Nabi SAW adalah munculnya kondisi psikologis ekstrem, di mana manusia berharap kematian karena beratnya kehidupan. Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak akan terjadi kiamat hingga seseorang melewati kuburan, lalu berkata: ‘Seandainya aku berada di tempatnya.’” (HR Bukhari dan Muslim)
Syekh Mahir Ahmad Ash-Shuffi menjelaskan bahwa hadits ini bukan menggambarkan kondisi normal, melainkan situasi ketika fitnah merajalela, kezaliman merata, dan kaum beriman tertekan. Keadaan ini membuat sebagian manusia kehilangan harapan terhadap dunia.
Fenomena ini juga ditegaskan oleh Ibnu Katsir dalam An-Nihayah fi al-Fitan wal Malahim, bahwa menjelang kiamat, tekanan hidup, konflik, dan ketidakadilan mencapai titik yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Baca juga: Salju Turun di Arab Saudi: Benarkah Tanda Kiamat atau Hanya Perubahan Iklim Global?
Alquran telah lebih dulu memberikan gambaran tentang fase kegoncangan besar menjelang hari akhir. Allah SWT berfirman:
“Idzā zulzilatil-arḍu zilzālahā.”
Artinya: “Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat.” (QS Az-Zalzalah: 1)
Ayat ini bukan sekadar berbicara tentang gempa fisik, tetapi juga keguncangan tatanan kehidupan manusia.
Para mufasir seperti Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa guncangan tersebut mencakup perubahan besar dalam struktur sosial dan moral umat manusia.
Dalam perspektif Islam, tanda-tanda kiamat bukan dimaksudkan untuk menakut-nakuti semata, melainkan sebagai peringatan agar manusia memperbaiki diri.
Syekh Yusuf Al-Qaradawi dalam bukunya Al-Iman wal Hayah menegaskan bahwa pembahasan akhir zaman harus melahirkan kesadaran spiritual, bukan sekadar rasa cemas.
Ketika tanda-tanda itu semakin nyata, pesan utamanya adalah agar umat Islam memperkuat iman, menjaga akhlak, dan tidak hanyut dalam arus kerusakan zaman.
Baca juga: Kiamat Menurut Islam: Antara Dalil Ilahi dan Prediksi Sains
Para ulama sepakat bahwa menghadapi fase akhir zaman, sikap terbaik adalah kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah.
Imam An-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin menekankan pentingnya menjaga ibadah, memperbanyak istighfar, serta menjauhi fitnah lisan dan perpecahan.
Rasulullah SAW sendiri memberikan nasihat:
“Beramallah kalian sebelum datang fitnah seperti malam yang gelap gulita.” (HR Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa masa depan akan penuh ujian yang datang bertubi-tubi. Amal saleh menjadi benteng utama agar umat Islam tetap teguh.
Tanda-tanda kiamat yang datang beruntun bukan sekadar narasi masa depan, melainkan realitas yang perlahan terlihat dalam kehidupan modern.
Krisis moral, ketidakadilan, bencana, dan kegelisahan manusia menjadi cerminan bahwa dunia sedang bergerak menuju fase akhir.
Di tengah situasi ini, Islam mengajarkan satu sikap utama, yaitu bersiap, bukan panik. Dengan memperkuat iman, memperbaiki akhlak, dan menjaga hubungan dengan Allah SWT, umat Islam diharapkan mampu menghadapi gelombang akhir zaman dengan keteguhan dan harapan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang