Editor
KOMPAS.com - Menjelang sepuluh malam terakhir Ramadhan, banyak umat Islam mulai melakukan itikaf di masjid. Ibadah ini dilakukan dengan berdiam diri di masjid untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah.
Secara sederhana, itikaf adalah berdiam diri di masjid untuk beribadah kepada Allah dengan tata cara tertentu.
Rasulullah SAW sendiri dikenal selalu melakukan itikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan untuk mencari malam Lailatul Qadr.
Namun, masih banyak orang yang belum mengetahui amalan apa saja yang sebaiknya dilakukan saat itikaf.
Berikut beberapa amalan itikaf yang dianjurkan selama berada di masjid yang dikutip dari buku Fiqh Ringkas I'tikaf karya M Nur Ichwan Muslim.
Salah satu amalan utama saat itikaf adalah membaca Al-Qur’an.
Karena itikaf bertujuan untuk memusatkan hati kepada Allah dan menjauh dari kesibukan dunia, membaca Al-Qur’an menjadi cara terbaik untuk menghidupkan waktu selama berada di masjid.
Banyak orang menargetkan khatam Al-Qur’an selama 10 hari terakhir Ramadhan saat itikaf.
Amalan lain yang sangat dianjurkan adalah memperbanyak dzikir.
Dzikir dapat dilakukan kapan saja, baik setelah shalat maupun di sela-sela waktu istirahat.
Beberapa dzikir yang sering dibaca saat itikaf antara lain:
Dzikir membantu menenangkan hati dan membuat seseorang lebih fokus dalam ibadah.
Saat melakukan itikaf, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa.
Apalagi pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, terdapat kemungkinan datangnya malam Lailatul Qadr, malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Salah satu doa yang sering dianjurkan dibaca adalah:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Artinya:
"Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku."
Selama itikaf, umat Islam dianjurkan memperbanyak shalat sunnah.
Misalnya:
Ibadah ini menjadi kesempatan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah.
Itikaf juga menjadi waktu terbaik untuk melakukan muhasabah, yaitu merenungkan perjalanan hidup dan memperbaiki diri.
Dengan menjauh dari kesibukan dunia, seseorang dapat lebih fokus mengevaluasi diri dan memperbaiki hubungan dengan Allah.
Tujuan utama itikaf adalah memutus sementara kesibukan dunia dan fokus beribadah kepada Allah.
Karena itu, selama itikaf dianjurkan mengurangi aktivitas yang tidak bermanfaat seperti terlalu sering menggunakan ponsel, berbicara hal yang tidak perlu, dan aktivitas yang mengganggu kekhusyukan ibadah.
Baca juga: 10 Malam Terakhir Ramadhan 2026, Ribuan Jamaah Itikaf di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi
Tujuan utama itikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan adalah mencari malam Lailatul Qadr.
Malam ini memiliki keutamaan yang sangat besar karena nilainya lebih baik dari seribu bulan.
Itulah sebabnya Rasulullah SAW bersungguh-sungguh dalam beribadah pada malam-malam terakhir Ramadhan.
Itikaf bukan sekadar berdiam diri di masjid, tetapi kesempatan untuk memperbaiki hati, memperbanyak ibadah, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Dengan memahami amalan itikaf yang dianjurkan, umat Islam dapat memanfaatkan sepuluh malam terakhir Ramadhan dengan lebih maksimal.
Baca juga: Itikaf di Rumah Apakah Sah? Ini Pendapat Ulama dan Dalilnya
Semoga ibadah itikaf yang dilakukan menjadi jalan untuk mendapatkan ampunan Allah dan keberkahan Lailatul Qadr.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang