Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

3 Contoh Khutbah Idul Fitri NU Menyentuh Hati dan Penuh Makna

Kompas.com, 17 Maret 2026, 18:48 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Khutbah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari rangkaian pelaksanaan sholat Idul Fitri, termasuk di kalangan warga Nahdlatul Ulama.

Dalam khutbah tersebut, umumnya disampaikan berbagai nasihat yang bertujuan memperkuat keimanan dan ketakwaan umat Islam.

Mengacu pada keterangan dari laman resmi NU, khutbah Idul Fitri juga menjadi momentum refleksi untuk memahami kembali makna kemenangan setelah menjalani ibadah puasa Ramadhan.

Melalui pesan-pesan yang disampaikan, jamaah diajak untuk mengingat kembali perjuangan spiritual selama sebulan penuh.

Penyampaian khutbah yang lugas, tulus, dan menyentuh sering kali mampu menggugah perasaan jamaah.

Bahkan, tidak jarang suasana menjadi haru karena pesan yang disampaikan begitu dekat dengan pengalaman batin umat.

Bagi yang mendapat amanah sebagai khatib dalam sholat Idul Fitri, menjadikan referensi khutbah dari Nahdlatul Ulama dapat menjadi pilihan yang tepat. Berikut contoh teks khutbah Idul Fitri yang sarat makna dan inspirasi bagi jamaah.

Dirangkum dari laman resmi NU, berikut 3 contoh teks khutbah Idul Fitri yang mampu menyentuh hati jemaah:

Baca juga: Khutbah Idul Fitri: Tanda Puasa Diterima, Apakah Kita Masih Istiqamah Setelah Ramadhan?

Contoh Khutbah Idul Fitri 1 - Kembali Suci dengan Ampunan Ilahi dan Silaturahmi

اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلاَّ إِيّاَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَرَّمَ الصِّياَمَ أَيّاَمَ الأَعْياَدِ ضِيَافَةً لِعِباَدِهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلٰهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ الَّذِيْ جَعَلَ الجَنَّةَ لِلْمُتَّقِيْنَ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلىَ الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّـدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنَ أَمَّا بَعْدُ، فَيَآ أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَاتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقاَتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قال الله تعالى : وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Jamaah Shalat Idul Fitri rahimakumullah

Pagi ini, cahaya matahari dan alunan takbir membelah langit yang tinggi. Mengiringi syukur yang mengalir deras dari dalam sanubari. Hari ini, alam semesta bertasbih. Menyaksikan wajah-wajah yang berseri nan bersih, setelah satu bulan berpuasa karena Allah, tanpa pamrih.

Setelah satu bulan penuh kita tempuh jalan kesabaran, kini tibalah saatnya kita merayakan kemenangan dan keberkahan.

Di pagi ini, hati-hati yang haus akan rahmat Allah dipenuhi keceriaan yang mendalam. Dibasuh lautan ampunan dari Allah, Tuhan semesta alam. Di bawah langit yang bertasbih atas izin ilahi, kita berkumpul dalam kemenangan sejati. Bukan hanya karena menuntaskan puasa di bulan yang suci, tetapi karena berhasil menundukkan hawa nafsu untuk menjadikan diri jiwa-jiwa yang suci.

Idul Fitri bukan sekadar hari perayaan. Idul Fitri bukan hanya tentang pakaian dan berbagai aneka hidangan. Idul Fitri bukan hanya pergi jalan-jalan menuruti keinginan. Idul Fitri ini adalah momentum menguatkan tekat baja, menjadi hamba Allah yang patuh pada perintahNya dan sekuat tenaga meninggalkan segala yang dilarang Allah SWT.

Idul Fitri adalah tentang hati yang kembali suci, tentang ruh yang bersujud dalam damai di hati. Merasakan kelembutan kasih sayang Allah yang Maha Abadi. Idul Fitri adalah tentang panggilan untuk kembali pada kesucian, memperkuat silaturahmi dan kebersamaan. Menanamkan kasih sayang pada mereka yang selama ini bersama dalam kehidupan. Semoga kebahagiaan ini tidak hanya berhenti di hari ini, tetapi terus menyala dalam setiap langkah kehidupan ini.

اللهُ أَكْبَرُ ٣× لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral muslimin wal muslimat, jama’ah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah

Untuk mewujudkan kesucian diri kita, ada dua hal yang perlu kita pahami dan tancapkan dalam hati dan sukma. Pertama adalah penguatan dimensi vertikal kepada Allah SWT, melalui penguatan ibadah dan meraih ampunan atas segala dosa. Kedua adalah penguatan dimensi horizontal kepada sesama manusia, melalui kepekaan sosial dan senantiasa menebar kebaikan dan cinta. Jika dua hal ini mampu diaplikasikan dalam kehidupan kita, maka insyaallah kehidupan kita akan dinaungi kebahagiaan sampai akhir masa.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ

Artinya: “Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (Surat Ali Imran ayat 133).

Dilanjutkan dengan:

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Surat Ali Imran ayat 134).

Dari ayat ini kita diingatkan cara untuk menyucikan jiwa. Langkah pertama untuk meraihnya adalah berdasarkan ayat Al-Imran 133. Kita diperintahkan untuk bersegera meraih ampunan dan surga-Nya. Seraya menyadari bahwa kuasa Allah begitu luas bagi kita. Seluas surga yang Ia sediakan bagi orang-orang yang bertakwa.

Bentuk ikhtiar meraih ampunan-Nya, telah kita lakukan selama satu bulan penuh. Berpuasa menjalankan perintah Allah dengan hati yang kukuh. Iman dan takwa juga terus kita semai untuk memastikan ibadah kita senantiasa utuh. Semoga semua ini berujung pada ampunan Allah sebagaimana hadits Rasulullah dari Abu Hurairah:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya, “Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan, dengan keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa masa lalunya.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

اللهُ أَكْبَرُ ٣× لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral muslimin wal muslimat, jama’ah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah

Langkah kedua untuk mensucikan diri sesuai dengan lanjutan ayat pada surat Ali Imran ayat 134 adalah kita harus menguatkan ibadah sosial dengan sedekah, infak, dan zakat. Ibadah ini tidak hanya dilakukan saat kita dalam kondisi finansial kuat, namun harus dilakukan saat kita merasa berat sebagai wujud taat kepada Allah sang pemberi nikmat.

Kita harus yakin bahwa berbagi tidaklah sama sekali akan mengurangi harta kita. Sebaliknya, dengan berbagi maka hakikatnya Allah sedang menambah apa yang kita punya. Zakat fitrah yang kita keluarkan di bulan puasa dan zakat mal untuk menyucikan jiwa kita, adalah wujud kesadaran jiwa, bahwa semua yang kita punya adalah milik Allah SWT dan akan kembali kepada-Nya.

Hal ini sekaligus menyadarkan kita bahwa ada hak orang lain di dalam harta kita, semua bukan milik kita dan tak akan di bawa saat kita meninggalkan dunia. Hanya dengan cara berbuat baik dengan harta yang disedekahkan kepada sesama, harta kita akan memberi manfaat saat kita sudah kembali kepada Allah SWT.

Ma’asyiral muslimin wal muslimat, jama’ah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah

Dalam surat Ali Imran ayat 134, Allah juga memerintahkan, agar kita senantiasa mengendalikan amarah dan suka memaafkan kesalahan. Karena Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. Ramadhan dan Idul Fitri menjadi momentum pembuktian.

Saat puasa, kita diwajibkan mengendalikan nafsu amarah yang sering kita lakukan. Kemudian di Hari Idul Fitri, kita diperintahkan untuk saling memaafkan. Mari semua itu kita lakukan dengan tulus tanpa kepalsuan. Perkuat silaturahmi untuk mengikat hati kita agar penuh kedamaian.

Mari jadikan Idul Fitri kali ini, Idul Fitri yang terbaik bagi kita. Mari kuatkan tekad untuk senantiasa mempertahankan kesucian ini bersama. Kita tidak tahu apakah kita akan bisa bertemu kembali dengan Idul Fitri-Idul Fitri di masa selanjutnya. Mari kita saling memaafkan atas segala dosa yang pernah kita perbuat pada sesama.

Terutama meminta maaf kepada kedua orang tua kita, yang telah melahirkan kita ke dunia. Beruntunglah yang masih memiliki kedua orang tua. Mereka adalah jimat yang harus terus kita jaga. Merekalah yang telah berjasa dalam kehidupan kita dan menghantarkan kita meraih kesuksesan kehidupan di dunia.

Saat ini usia orang tua kita terus bertambah. Fisik mereka pun semakin lemah. Raih kedua tangan mereka yang sudah mulai keriput namun penuh dengan berkah. Cium tangan mereka, peluk erat tubuhnya. Minta maaflah kepada mereka dengan setulus hati dan jiwa. Percayalah, sesukses apapun kiprah kita di dunia, tidak ada apa-apanya di hadapan mereka. Merekalah yang telah menjadikan kita mampu meraih ini semua.

Allah Berfirman:

وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا

Artinya, “Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada orang tua. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik." (Surat Al-Isra’ ayat 23).

Sebagai anak, kita wajib membalas kebaikan mereka, meskipun apa yang kita lakukan tidak akan pernah sebanding dengan pengorbanan yang telah mereka berikan dalam hidup kita.

Berbakti pada orang tua tidak hanya saat mereka hidup di dunia. Bagi orang tua yang sudah meninggal dunia, bukan berarti selesai bakti kita kepada mereka. Ziarahi makamnya. Berdoalah kepada Allah untuk mengampuni segala dosa dan menerima amal ibadahnya. Bukan harta, jabatan, dan materi dunia yang mereka harapkan dari anak-anaknya. Namun untaian doa dan kebaikan para penerusnya yang mereka nanti-nantikan di alam kuburnya.

Semoga Allah SWT menerima amal ibadahnya dan mengampuni dosa-dosanya. Semoga Allah menerima doa-doa kita untuk orang tua kita. Amin.

اللهُ أَكْبَرُ ٣× لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral muslimin wal muslimat, jama’ah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah

Demikianlah Khutbah Idul Fitri kali ini, semoga bisa kita resapi dan kita wujudkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Semoga Allah senantiasa mempertahankan kesucian kita di Hari Raya Idul Fitri seperti bayi yang terlahir kembali. Amin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ

Baca juga: Khutbah Idul Fitri: 9 Pelajaran dari “Madrasah Ramadan” agar Tetap Istiqamah Setelah Lebaran

Contoh Khutbah Idul Fitri 2 - Renungan Suci di Hari yang Fitri

اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلاَّ إِيّاَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَرَّمَ الصِّياَمَ أَيّاَمَ الأَعْياَدِ ضِيَافَةً لِعِباَدِهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلٰهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ الَّذِيْ جَعَلَ الجَنَّةَ لِلْمُتَّقِيْنَ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلىَ الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّـدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنَ أَمَّا بَعْدُ، فَيَآ أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَاتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقاَتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قال الله تعالى : وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Jamaah shalat Idul Fitri yang dirahmati Allah

Alhamdulillahirabbilalamin menjadi kalimat yang paling tepat kita ucapkan pada momentum mulia di pagi hari ini. Pasalnya, Allah masih terus mengalirkan nikmat yang tidak bisa kita hitung satu persatu di antaranya nikmat kesehatan sehingga kita bisa hadir dan menikmati kebahagiaan Idul Fitri bersama orang-orang yang kita cintai.

Jamaah shalat Idul Fitri yang dirahmati Allah

Pada kesempatan kali ini, mari kita juga terus menguatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT yang merupakan tujuan utama sekaligus buah dari perintah puasa di bulan Ramadhan. Sebagaimana ditegaskan dalam ayat Al-Qur’an yang sangat masyhur tentang perintah puasa yakni:

يٰٓاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah:183).

Sehingga bisa dikatakan bahwa hari ini, setelah kita melaksanakan ibadah puasa dengan iman dan kepasrahan diri kepada Allah, maka sikap-sikap ketakwaan sudah seharusnya bersemayam dalam diri kita. Sikap itu di antaranya adalah keteguhan hati untuk menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala yang dilarang-Nya.

Jamaah shalat Idul Fitri yang dirahmati Allah

Momentum Idul Fitri kali ini juga menjadi waktu yang tepat bagi kita untuk mengumandangkan takbir sebagai wujud mengagungkan Allah SWT. Allah lah dzat yang paling besar. Tidak ada yang lebih besar dari-Nya. Allah lah yang paling berhak atas segala apa yang terjadi di alam semesta, termasuk apapun yang terjadi pada diri kita.

Kita adalah makhluk-Nya yang lemah tiada daya. Makhluk yang diciptakan dari tanah yang proses penciptaannya memberikan pelajaran mendalam bagi kesadaran tentang siapa kita, di mana kita, dan akan kemana kita. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Mu’minun ayat 12:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ طِيْنٍ

Artinya: “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari sari pati (yang berasal) dari tanah.”

Kemudian dilanjutkan dengan ayat 13:

ثُمَّ جَعَلْنٰهُ نُطْفَةً فِيْ قَرَارٍ مَّكِيْنٍ

Artinya: “Kemudian, Kami menjadikannya air mani di dalam tempat yang kukuh (rahim).”

Selanjutnya Allah SWT menjelaskan keagungan dan kekuasaan-Nya memproses terbentuknya jasad dan ruh kita dalam ayat 14:

ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظٰمًا فَكَسَوْنَا الْعِظٰمَ لَحْمًا ثُمَّ اَنْشَأْنٰهُ خَلْقًا اٰخَرَۗ فَتَبَارَكَ اللّٰهُ اَحْسَنُ الْخٰلِقِيْنَۗ

Artinya: Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

Jamaah shalat Idul Fitri yang dirahmati Allah

Tiga (3) ayat ini menyadarkan kita untuk kembali merenungkan betapa agung-Nya Allah SWT dan betapa lemahnya kita. Jika kesadaran ini kita tanamkan dalam jiwa kita, maka bisa dipastikan kita akan senantiasa patuh dan takut karena cinta kepada Allah SWT.

Dari 3 ayat ini kita harus menyadari bahwa kita semua berasal dari Allah dan akan kembali kepadanya. Kita berawal dari kondisi yang lemah dan akan kembali menjadi lemah. Kita akan melewati sebuah siklus yang berasal dari tidak ada dan akan kembali kepada ketiadaan kembali.

Takbir, tahmid, dan tahlil yang kita kumandangkan dari lisan kita di hari yang fitri ini harus kita tancapkan juga dalam hati kita. Takbir yang membesarkan nama Allah, harus serta merta mengecilkan nafsu dan kesombongan kita.

Jamaah shalat Idul Fitri yang dirahmati Allah

Mari jadikan Idul Fitri kali ini sebagai renungan suci akan kebesaran Allah SWT sekaligus tekad untuk menjaga kesucian diri. Setelah melalui perjuangan dan pendidikan di bulan Ramadhan, kita harus mampu menjadi pribadi yang paripurna setelah gemblengan puasa satu bulan penuh.

Dalam puasa, kita diajarkan menahan diri untuk tidak makan dan minum, sehingga setelah puasa jangan lagi kita memakan yang bukan hak kita. Dalam puasa kita terbiasa dengan bibir kering karena kehausan, mata kita sayu karena keletihan, dan perut kita kosong menahan lapar, sehingga jangan sampai ke depan tangan-tangan kita kotor karena berbuat zalim kepada orang lain.

Pada Ramadhan kita bisa khusyuk dalam shalat, sehingga jangan lagi setelah Ramadhan kita juga khusyuk merampas hak orang lain. Pada Ramadhan, kita lihai membaca ayat-ayat Al-Qur’an, sehingga jangan sampai kita juga lihai menipu orang lain.

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا، وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ. ،وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلاً، وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

Artinya: ’Ya Allah, tampakkanlah kepadaku kebenaran sebagai kebenaran dan kuatkanlah aku untuk mengikutinya serta tampakkanlah kepadaku kesalahan sebagai kesalahan dan kuatkan pula untuk menyingkirkannya.’‘ (HR Imam Ahmad).

Mari jadikan Idul Fitri kali ini, Idul Fitri kita yang terbaik, karena kita tidak akan tahu apakah kita akan bisa bertemu dengan Idul Fitri di masa yang akan datang atau tidak. Mari kita saling memaafkan dengan sesama atas segala dosa yang telah kita lakukan untuk semakin menguatkan kesucian kita.

Jamaah shalat Idul Fitri yang dirahmati Allah

Demikian khutbah Idul Fitri yang mudah-mudahan bisa menjadi renungan suci kita di hari yang fitri ini. Semoga amal ibadah kita selama Ramadhan dan hari-hari selanjutnya akan senantiasa diterima oleh Allah SWT. Semoga kita dijadikan golongan orang-orang yang kembali suci dan meraih ketakwaan. Amin.

جَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ اْلعَائِدِيْنَ وَاْلفَائِزِيْنَ وَاْلمَقْبُوْلِيْنَ، وَاَدْخَلَنَا وَاِيَّاكُمْ فِى زُمْرَةِ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ، اَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَاسْتَغْفِرُ الله لِى وَلَكُمْ، وَلِوَالِدَيْنَا وَلِسَائِرِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرهُ اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Baca juga: Khutbah Idul Fitri: Menjaga Istiqamah Setelah Ramadhan dan Mempererat Silaturahim

Contoh Khutbah Idul Fitri 3 - Ramadhan, Sekolah Ilahi untuk Kebaikan Abadi

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ … اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ … اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ. كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا. لآ إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لآ إِلهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ. اَلْحَمْدُ لِلَّهِ. أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلهَ إلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيآ أَيُّهَا النَّاسُ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَدْ قَالَ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ، أُدْخُلُوهَا بِسَلَامٍ آمِنِينَ. (سورة الحجر: 45-46) صَدَقَ اللهُ الْعَظِيمُ. وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ المُؤْمِنَ لَيُدْركُ بِحُسنِ خُلُقِه درَجةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ. رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Alhamdulillah atas segala nikmat Ramadhan yang memberikan kita kesempatan untuk introspeksi dan mendekatkan diri kepada-Nya melalui ibadah dan taqwa.

Hari ini, dengan rasa syukur, kita merayakan Idul Fitri sebagai keberhasilan kita melalui atas bulan Ramadhan yang penuh hikmah itu. Bulan Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga pembelajaran dalam kesabaran, pengendalian diri, dan kepedulian.

Kita memohon agar Allah menerima ibadah kita dan mengampuni dosa-dosa kita. Selanjutnya, kini adalah waktu untuk merenungkan perjalanan spiritual selama Ramadhan kemarin dan merencanakan untuk mempertahankan semangat dan kebaikan, serta meningkatkan iman.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Ibadah dalam Islam bertujuan untuk mendekatkan manusia kepada Allah, membersihkan hati, dan membentuk karakter positif. Ritual seperti shalat, zakat, dan sedekah berperan dalam pembinaan kesalehan dan pembentukan kepribadian dalam kerangka iman.

Puasa, salah satu ibadah yang paling mencolok, mempengaruhi penyucian dan perbaikan diri seorang Muslim. Ramadhan memberikan kesempatan untuk introspeksi, memperbaiki akhlak, dan membangkitkan sisi spiritual. Rasulullah menggambarkan berkah Ramadhan sebagai waktu penuh berkah, di mana pintu surga terbuka, pintu neraka tertutup, dan setan terikat. Bulan ini menginspirasi untuk memanfaatkan waktu dengan baik dan mempertahankan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Allah telah menjelaskan tentang puasa Ramadhan dalam lima ayat di dalam surat Al-Baqarah (183-187). Lima ayat bicara mengenai ciri-ciri pendidikan dan penyucian yang terkandung dalam Ramadan. Ayat-ayat ini menyoroti pendidikan dan penyucian yang terkandung dalam Ramadhan, dengan taqwa sebagai pilar utama.

Ramadhan mengajarkan pentingnya taqwa, yang merupakan kesadaran akan pengawasan Allah dan memerlukan pembaruan yang terus-menerus. Taqwa tercermin dalam meninggalkan kemungkaran dan mematuhi perintah Allah. Meskipun menjalani puasa dan rutinitas ibadah selama Ramadhan, seseorang masih memerlukan taqwa untuk menghindari dosa dan kefasikan.

Orang-orang yang tidak memahami hakikat taqwa mungkin terjebak dalam dosa dan kesalahan. Di antara hal terbesar yang diajarkan oleh Islam melalui puasa adalah al-imsak, menahan diri atau kesabaran. Pentingnya kesabaran dalam puasa membawa kebaikan dalam semua aspek kehidupan. Penahanan diri dari makanan, pembicaraan yang tidak perlu, dan pemborosan merupakan ajaran yang ditekankan, khususnya selama Ramadhan.

Melalui latihan disiplin internal ini, seseorang dapat mencapai kesuksesan dan kebahagiaan sepanjang hidupnya. Allah menginginkan kemudahan bagi umat-Nya, dan iman adalah yang memudahkan segalanya, bahkan dalam menghadapi kesulitan. Ramadan mengajarkan bahwa kekuatan iman memungkinkan kita untuk mengatasi segala tantangan yang mungkin kita hadapi.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Pendidikan Ramadhan dan pembinaannya tidak dapat dicapai secara spontan. Ia membutuhkan kebiasaan dan pelatihan yang disengaja dan terus menerus. Pendidikan adalah hal terpenting yang dilakukan oleh seorang Muslim untuk dirinya sendiri dan keluarganya. Ini karena ajaran agama tidak akan masuk dalam kehidupan hariannya kecuali jika ia rutin melaksanakannya hingga menjadi kebiasaan. Itulah yang disebut dengan istiqamah.

Banyak sekali perbuatan baik yang terabaikan oleh umat Islam, bukan karena ketidaktahuan, tetapi karena tidak pernah dicoba dan dibiasakan. Umumnya, orang hanya peduli terhadap amal baik tersebut ketika menemukan diri mereka dalam kesulitan yang tidak dapat dihindari.

Cara terbaik untuk taat pada segala kebaikan adalah menjadikannya sebagai kebiasaan sehari-hari sehingga tidak dilupakan atau ditinggalkan. Ini sesuai dengan yang dikutip oleh Syekh Nurrudin Al-Haitsami dalam kitab Majma'uz Zawâ’id wa Manba’ul Fawâ’id dari perkataan Sayyidina Abdullah Ibnu Mas'ud:

عَوِّدُوْهُمْ الْخَيْرَ، فَإِنَّ الْخَيْرَ عَادَةٌ

Artinya, "Latihlah mereka dalam kebaikan, karena kebaikan adalah kebiasaan."

Kebaikan tidak akan berlanjut dan bertahan kecuali jika menjadi kebiasaan yang tidak membosankan bagi pemiliknya dan tidak ditinggalkan. Setiap kebaikan harus menjadi kebiasaan seorang Muslim. Begitu juga, setiap kebiasaan harus mengarahkan kebaikan agar tidak ada ruang bagi perbuatan tercela dan kejahatan dalam hidupnya.

Pendidikan yang diinginkan dalam Ramadhan juga dimulai dari banyaknya ibadah yang diidamkan oleh seorang Muslim untuk melakukannya di malam hari dan puasa di siang hari. Bulan ini adalah kumpulan amal baik dan ibadah, shalat, puasa, qiyamul lail, tilawah Quran, majelis dzikir, i'tikaf, zakat, dan sedekah.

Semuanya membuat hari-hari kita menjadi indah, berbunga, dan harum dengan aroma iman dan ketaatan. Semuanya amalan itu mampu mengokohkan langkah-langkah kita. Dengan itu semua, kita tidak akan tersandung dalam kehidupan.

Karena itu, dalam rangka memenjadikan Ramadhan sebagai sekolah kehidupan yang abadi, membekali diri kita hidup sepanjang tahun dengan bekal ketakwaan, maka saat inilah kita harus bisa memanen apa yang telah kita tanam di bulan Ramadhan kemarin.

Mari kita pilih minimal satu saja dari amaliah Ramadan yang telah berhasil kita rawat dengan baik selama satu bulan penuh untuk kemudian kita hidupkan hingga berbunga dan berbuah di bulan-bulan berikutnya. Satu saja, asalkan istiqamah, akan menghasilkan kekeramatan yang luar biasa dalam diri kita.

Jika kita kemarin berhasil menahan lidah dari omongan yang tidak berguna, maka tidak ada salahnya jika itu yang kita hidupkan. Jika kita kemarin berhasil merutinkan membaca Al-Quran, maka cukuplah kiranya satu amalan itu yang kita jadikan bekal untuk diistiqamahkan pada bulan-bulan berikutnya. Sekali lagi, satu saja, namun istiqamah.

Patut kiranya kita menjadikan dawuh guru kita di tanah air, yaitu KH M Arwani Amin dari Kudus Jawa Tengah. Beliau memiliki prinsip kuat berbunyi:

قَلِيْلٌ قَرَّ خَيْرٌ مِنْ كَثِيْرٍ فَرَّ

Artinya, “Sedikit namun membekas, itu lebih baik daripada banyak namun hilang semua.”

Ya, sedikit saja yang perlu kita ambil dari amaliah Ramadhan kita kemarin, namun kita pastikan membekas dalam diri, dalam hati dan pikiran kita. Itu akan menghasilkan karamah dan keajaiban-keajaiban serta kebaikan dari Allah. Ia akan menghasilkan cinta Allah yang begitu Istimewa bagi seorang hamba, sebagaimana sabda Rasulullah saw:

أَحَبُّ اْلأَعْمَالِ إِلَى اللهِ مَا دُوِّمَ وَإِنْ قَلَّ

Artinya, “Amal yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang dirutinkan/dilanggengkan, meskipun hanya sedikit jumlahnya.” (HR Al-Baihaqi).

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Syariat puasa bertujuan untuk membentuk ketakwaan (لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ). Sedangkan ketakwaan menjadi bekal dan tiket ke surga.

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ، أُدْخُلُوهَا بِسَلَامٍ آمِنِينَ

Artinya, "Sesungguhnya orang yang bertakwa itu berada dalam surga-surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air (yang mengalir). Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera dan aman. (QS Al-Hijr: 45-46).

Ketakwaan itu butuh kontinuitas. Ketakwaan itu adanya di dalam hati. Sesuatu yang sudah menyatu dalam hati pasti karena sudah dijadikan sebagai kebiasaan. Amalan yang sudah dibiasakan akan menjadi amalan yang kita cintai. Saat itulah amalan kita menjadi pelindung diri dari hal-hal yang merusak kita. Saat itulah amalan kita menjadi katakwaan sejati.

Ramadhan membentuk ketakwaan, sedangkan ketakwaan menghasilkan keindahan surga yang sempurna, kedamaian, keselamatan, dan kesejahteraan. Kemudian ketakwaan melahirkan akhlak yang baik. Hanya dengan akhlak yang baiklah seseorang bisa mencapai derajat orang yang puasa di siang hari dan beribadah malam hari secara tulus ikhlas.

Lantas, akhlak seperti apa yang dimaksud itu? Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Al-Wâbilus Shayyib menjelaskan bagaimana seorang Muslim dipengaruhi oleh puasanya dan bagaimana ia memperoleh kemampuan besar dari puasanya itu.

الصَّائِمُ هُوَ الَّذِيْ صَامَتَ جَوَارِحُهُ عَنِ الْآثَامِ، وَلِسَانُهُ عَنِ الْكَذِبِ وَالْفُحْشِ وَقَوْلِ الزُّوْرِ، وَبَطْنُهُ عَنِ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ وَفَرْجُهُ عَنِ الرَّفَثِ، فَإِنْ تَكَلَّمَ لَمْ يَتَكَلَّمْ بِمَا يُجْرِحُ صَوْمَهَ وَإِنْ فَعَلَ لَمْ يَفْعَلْ مَا يُفْسِدُ صَوْمَهُ

Artinya, "Orang yang berpuasa adalah orang yang menahan anggota tubuhnya dari dosa; menahan lidahnya dari kebohongan, kekasaran, dan kedustaan; menahan perutnya dari makanan dan minuman; menahan kemaluannya dari perbuatan keji. Jika berbicara, dia tidak akan mengucapkan kata-kata yang merusak puasanya. Jika bertindak, dia tidak akan melakukan apa pun yang merusak puasanya."

Ketakwaan dan kekhusyukan bisa ditunjukkan dalam semua ibadah, kecuali dalam puasa. Seseorang yang datang dengan perut penuh mampu meyakinkan kita secara visual bahwa dia berpuasa, namun hanya Allah yang mengetahui kebenaran yang ada dalam dirinya. Ini sesuai dengan firman Allah dalam seubah hadis qudsi bahwa "Puasa itu untuk-Ku ..."

Semua manfaat pendidikan dalam agama dan dunia tidaklah menjadikan ibadah sebagai jaminannya, kecuali puasa. Karena itu, Rasulullah saw ketika ditanya tentang amal yang akan membawanya ke surga, menjawab:

عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَا عِدْلَ لَهُ

Artinya, "Berpuasalah, karena itu tidak ada bandingannya." (HR An-Nasa’i).

Beliau juga menegaskan

إِنَّ المُؤْمِنَ لَيُدْركُ بِحُسنِ خُلُقِه درَجةَ الصائمِ القَائمِ

Artinya, "Sungguh, dengan akhlaknya yang baik, seorang mukmin itu benar-benar akan bisa mencapai derajat orang yang berpuasa dan berqiyamullail." (HR Abu Dawud).

Ya, tidak ada yang sebanding dengan puasa, dan itu membawa kita ke surga abadi sambil menjadikan dunia kita surga damai dan nyaman. Puasa membentuk akhlak yang baik. Dengan akhlak yang baik itulah kita kembali meraih derajat orang yang bepuasa lengkap dengan segenap amalan malamnya, meskipun ia tidak sedang berpuasa.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Sebagai ikhtisar dari semua itu, kita dapat mengambil sebuah pelajaran berharga dari puasa Ramadhan ini. Bahwa, jika kita tidak mampu melanggengkan amaliah-amaliah Ramadhan untuk dilakukan di bulan-bulan lainnya, maka cukuplah kita melanjutkan keberhasilan kita dalam meninggalkan hal-hal yang telah berhasil kita tinggalkan selama puasa.

Kita mungkin tidak punya banyak waktu untuk melanggengkan shalat malam, infak, sedekah, membaca Al-Quran, i’tikaf, dan kajian-kajian keislaman setelah Ramadhan ini. Itu tidak apa-apa, cukuplah Ramadhan sebagai waktu untuk menabung amal-amal tersebut. Namun, jangan sampai kita tidak mampu melanjutkan keberhasilan kita meninggalkan perkataan dan perbuatan yang tidak berfaidah dan yang buruk yang telah kita capai di bulan kemarin.

Dengan demikian, Ramadan berhasil membentuk karakter kita. Membentuk akhlak kita. Amalan yang telah kita lakukan secara istiqamahlah yang menjadi akhlak kita. Hanya dengan akhlak yang baiklah kita bisa mencapai derajat orang-orang yang berpuasa dan berqiyamullail di bulan Ramadhan, sebagaimana bunyi hadis yang telah kami bacakan di pembuka khutbah ini.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ

Semoga kita semua dimudahkan oleh Allah dalam mengabadikan keberhasilan tersebut di bulan-bulan berikutnya ini. Saat ini kita juga memohon bersama-sama kepada Allah semoga seluruh amali kita di bulan Ramadan ini diterima oleh Allah dan seluruh dosa dan kesalahan kita diampuni, dihapuskan, dan diganti dengan kebaikan-kebaikan dari-Nya. Amin ya Rabbal 'alamin.

‎جَعَلَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ وَالْمَقْبُوْلِيْنَ، كُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ. آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ. وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وارْحَم وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kota Solo Hari Ini 18 Maret 2026
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kota Solo Hari Ini 18 Maret 2026
Aktual
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kabupaten Sleman Hari Ini 18 Maret 2026
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kabupaten Sleman Hari Ini 18 Maret 2026
Aktual
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kota Yogyakarta Hari Ini 18 Maret 2026
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kota Yogyakarta Hari Ini 18 Maret 2026
Aktual
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kota Makassar Hari Ini 18 Maret 2026
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kota Makassar Hari Ini 18 Maret 2026
Aktual
Lebih dari 1 Juta Al-Quran Disediakan di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi Selama Ramadhan
Lebih dari 1 Juta Al-Quran Disediakan di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi Selama Ramadhan
Aktual
Iran Luncurkan Rudal Sejjil ke AS-Israel, Batu Neraka Pemusnah Abrahah
Iran Luncurkan Rudal Sejjil ke AS-Israel, Batu Neraka Pemusnah Abrahah
Aktual
Khutbah Idul Fitri Muhammadiyah: Dari Madrasah Ramadan Menuju Peradaban Unggul
Khutbah Idul Fitri Muhammadiyah: Dari Madrasah Ramadan Menuju Peradaban Unggul
Aktual
Jelang Malam 29 Ramadhan, Arab Saudi Siapkan Layanan Bagi Jemaah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi
Jelang Malam 29 Ramadhan, Arab Saudi Siapkan Layanan Bagi Jemaah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi
Aktual
Lokasi Sholat Idul Fitri Muhammadiyah 20 Maret 2026 di Tangerang
Lokasi Sholat Idul Fitri Muhammadiyah 20 Maret 2026 di Tangerang
Aktual
Prediksi Astronom Maroko: Idul Fitri 2026 Jatuh 21 Maret
Prediksi Astronom Maroko: Idul Fitri 2026 Jatuh 21 Maret
Aktual
Mengapa Muhammadiyah Tetapkan Lebaran 20 Maret 2026? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Mengapa Muhammadiyah Tetapkan Lebaran 20 Maret 2026? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Aktual
Lokasi Sholat Idul Fitri Muhammadiyah 20 Maret 2026 di Kota Semarang
Lokasi Sholat Idul Fitri Muhammadiyah 20 Maret 2026 di Kota Semarang
Aktual
Lebaran 2026 Jadi Momen Haru, 99 Napi di Jabar Langsung Bebas
Lebaran 2026 Jadi Momen Haru, 99 Napi di Jabar Langsung Bebas
Aktual
Ansor Blora Buka 5 Posko Mudik di Jalur Strategis, Pemudik Bisa Istirahat Gratis
Ansor Blora Buka 5 Posko Mudik di Jalur Strategis, Pemudik Bisa Istirahat Gratis
Aktual
Ribuan Warga Majene Shalat di Jalan demi Malam Lailatul Qadar, Tradisi Sejak 1964
Ribuan Warga Majene Shalat di Jalan demi Malam Lailatul Qadar, Tradisi Sejak 1964
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com