Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Warga Muhammadiyah Palopo Rayakan Idul Fitri Lebih Awal, Ribuan Jemaah Padati Kampus Unismuh

Kompas.com, 20 Maret 2026, 13:15 WIB
Add on Google
Amran Amir,
Farid Assifa

Tim Redaksi

PALOPO, KOMPAS.com - Warga Muhammadiyah di Kota Palopo, Sulawesi Selatan, merayakan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah pada Jumat (20/3/2026) pagi.

Pelaksanaan shalat Id berlangsung di sejumlah titik, dengan salah satu lokasi terpusat di Kampus Universitas Muhammadiyah Palopo.

Sejak pagi, ribuan jemaah telah memadati area kampus.

Mereka datang dari berbagai penjuru kota, memenuhi ruang dalam gedung hingga meluber ke halaman masjid kampus.

Jemaah yang hadir pun beragam, mulai dari anak-anak hingga orang tua, menciptakan suasana khidmat dan penuh kebersamaan.

Baca juga: Ratusan Warga Muhammadiyah Shalat Id di Masjid Polres Labuan Bajo, Pilih Sederhana demi Jaga Toleransi

Meski terdapat perbedaan waktu pelaksanaan Idul Fitri dengan pemerintah, jalannya ibadah tetap berlangsung lancar dan tertib.

Usai pelaksanaan shalat, jemaah saling bersalaman dan bermaaf-maafan.

Momen ini menjadi simbol kemenangan setelah menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadhan.

Tokoh Muhammadiyah yang juga mantan Wakil Wali Kota Palopo periode 2018–2023, Rahmat Masri Bandaso, yang turut hadir dalam pelaksanaan shalat Id, mengajak masyarakat menjadikan perbedaan sebagai ruang untuk memperkuat persaudaraan.

“Idul Fitri tahun ini harus menjadi momentum untuk meningkatkan ukhuwah Islamiah. Meski ada perbedaan pelaksanaan, kita harus saling menghargai, menjaga kondusivitas, dan mempererat silaturahmi,” kata Rahmat, Jumat.

Rahmat juga menyampaikan bahwa tradisi open house tetap dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga hubungan sosial di tengah masyarakat.

“Kami tetap open house seperti biasa,” ucapnya.

Dalam khutbahnya, khatib Imam Pribadi mengingatkan pentingnya menjadikan Idul Fitri sebagai sarana introspeksi diri, sekaligus meningkatkan kepedulian sosial antar sesama.

Menurut Imam, Idul Fitri tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga hubungan antarsesama manusia.

“Momentum puasa dan Idul Fitri ini harus kita maknai sebagai upaya memperbaiki hubungan vertikal kepada Allah SWT dan hubungan horizontal kepada sesama manusia,” ujar Imam.

Imam juga menegaskan bahwa Kampus Universitas Muhammadiyah Palopo sejak awal berdiri telah menjadi pusat pelaksanaan shalat Id bagi warga Muhammadiyah di Kota Palopo.

“Tahun ini, jumlah jemaah yang hadir melebihi ekspektasi panitia, menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat,” tuturnya.

Selain di kampus, pelaksanaan shalat Idul Fitri Muhammadiyah di Palopo juga digelar di 10 titik yang tersebar di sejumlah kecamatan, seperti Bara, Wara Timur, Wara Selatan, dan Telluwanua.

Tetap Menjaga Persatuan

Imam Pribadi mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga persatuan di tengah adanya perbedaan penentuan hari raya.

“Perbedaan ini tidak boleh membuat kita terpecah. Justru harus menjadi penguat untuk tetap saling menghormati, terutama kepada saudara-saudara kita yang masih menjalankan ibadah puasa,” jelasnya.

Salah seorang jemaah, Naifah, mengaku bersyukur dapat merayakan Idul Fitri tahun ini dengan penuh kebahagiaan.

“Semoga silaturahmi yang sempat terputus bisa kembali terjalin. Kita saling memaafkan dan menjaga kebersamaan,” ungkap Naifah.

Naifah menambahkan, tradisi Lebaran di rumah tetap dijalankan seperti biasa, dengan hidangan khas umumnya masyarakat Kota Palopo.

Baca juga: PP Muhammadiyah: Perbedaan 1 Syawal 1447 H Jadi Momentum Saling Menghargai Perbedaan

“Seperti biasa ada ketupat, buras, serta opor ayam. Kalau Buras kan menjadi ciri khas masyarakat Palopo, jadi tetap ada,” imbuhnya.

Naifah juga mengingatkan masyarakat, khususnya yang melakukan perjalanan mudik, agar tetap berhati-hati di jalan serta menjaga sikap saling menghargai di tengah perbedaan waktu perayaan Idul Fitri.

“Walaupun kita berbeda dalam pelaksanaan, semoga kita tetap saling mendukung dan tidak menjadikan perbedaan sebagai pemecah persatuan,” ujar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Kemenhaj Perkuat Pengawasan Haji Nonprosedural dan Imbau Jemaah Jaga Kesehatan Jelang Puncak Haji 1447 H
Kemenhaj Perkuat Pengawasan Haji Nonprosedural dan Imbau Jemaah Jaga Kesehatan Jelang Puncak Haji 1447 H
Aktual
Kutim Luncurkan Beasiswa 1.000 Penghafal Al-Quran: Cetak Generasi Qurani
Kutim Luncurkan Beasiswa 1.000 Penghafal Al-Quran: Cetak Generasi Qurani
Aktual
Cukup Lihat Giginya! Begini Cara Memastikan Usia Hewan Kurban yang Sah Sesuai Syariat
Cukup Lihat Giginya! Begini Cara Memastikan Usia Hewan Kurban yang Sah Sesuai Syariat
Aktual
Fasilitas Baru di Armuzna untuk Kenyamanan Jemaah, Lantai Tebal dan Urinoir
Fasilitas Baru di Armuzna untuk Kenyamanan Jemaah, Lantai Tebal dan Urinoir
Aktual
Arab Saudi Gelar 23.000 Inspeksi Jelang Haji 2026, Awasi Harga dan Ketersediaan Pangan
Arab Saudi Gelar 23.000 Inspeksi Jelang Haji 2026, Awasi Harga dan Ketersediaan Pangan
Aktual
Jemaah Haji 2026 Hanya Boleh Bawa Satu Tas ke Mina, Tas Tambahan Dilarang
Jemaah Haji 2026 Hanya Boleh Bawa Satu Tas ke Mina, Tas Tambahan Dilarang
Aktual
Doa Setelah Sholat Fardhu Lengkap Arab, Latin dan Artinya
Doa Setelah Sholat Fardhu Lengkap Arab, Latin dan Artinya
Doa dan Niat
Band Metal Saudi “Dune” Bangkit Lagi, Scene Rock Riyadh Kini Makin Menggila
Band Metal Saudi “Dune” Bangkit Lagi, Scene Rock Riyadh Kini Makin Menggila
Aktual
“Ayo Ada Bubur Kacang Ijo!” Suasana Pasar Indonesia di Tengah Kota Mekkah
“Ayo Ada Bubur Kacang Ijo!” Suasana Pasar Indonesia di Tengah Kota Mekkah
Aktual
Wukuf 2026 Lebih Tertata, Tenda Arafah Kini Punya Identitas Lengkap Penghuni
Wukuf 2026 Lebih Tertata, Tenda Arafah Kini Punya Identitas Lengkap Penghuni
Aktual
Bupati Bandung Wacanakan Bangun Asrama Haji Mandiri, Tak Perlu Lagi ke Indramayu
Bupati Bandung Wacanakan Bangun Asrama Haji Mandiri, Tak Perlu Lagi ke Indramayu
Aktual
Tiga Jemaah Haji Asal Jatim Meninggal Dunia di Tanah Suci
Tiga Jemaah Haji Asal Jatim Meninggal Dunia di Tanah Suci
Aktual
Lirboyo, 'Pabrik' Pencetak Ulama yang Mengubah Indonesia
Lirboyo, "Pabrik" Pencetak Ulama yang Mengubah Indonesia
Aktual
Kisah Fransiska Mainake Saat Layani Jemaah Haji di Tanah Suci, Pernah Dampingi Jamaah yang Takut Tersesat
Kisah Fransiska Mainake Saat Layani Jemaah Haji di Tanah Suci, Pernah Dampingi Jamaah yang Takut Tersesat
Aktual
 Kemenhaj Temukan Jemaah Haji  di Jeddah Belum Patuhi Aturan Ihram, Gunakan Pakaian Dalam dan Bersepatu
Kemenhaj Temukan Jemaah Haji di Jeddah Belum Patuhi Aturan Ihram, Gunakan Pakaian Dalam dan Bersepatu
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com