Editor
KOMPAS.com – Siapa sangka, salah satu perusahaan tertua di dunia ternyata sudah berdiri sejak masa kecil Nabi Muhammad SAW. Namun, perusahaan ini bukan berasal dari Arab, melainkan dari Jepang.
Perusahaan tersebut adalah Kongo Gumi, sebuah perusahaan konstruksi yang berdiri lebih dari 1.400 tahun lalu dan dikenal sebagai perusahaan tertua di dunia yang masih bertahan hingga era modern.
Dilansir dari situs resmi perusahaan, kongogumi.co.jp, Kongo Gumi didirikan sekitar tahun 578 Masehi oleh seorang tukang kayu bernama KongÅ Shigemitsu. Masa ini berdekatan dengan periode kelahiran Nabi Muhammad SAW yang lahir pada tahun 571 M.
Artinya, ketika Rasulullah masih kecil di Mekkah, perusahaan ini sudah mulai beroperasi—meski berada jauh di Jepang.
Baca juga: Iran Buka Jalur Bantuan Kemanusiaan di Selat Hormuz
Kongo Gumi bermula dari proyek pembangunan kuil Buddha pertama di Jepang, yaitu Shitennoji Temple di Osaka.
Pembangunan ini dilakukan atas perintah Pangeran Shotoku yang mengundang para pengrajin dari Baekje (Korea kuno).
Sejak awal berdiri, Kongo Gumi fokus pada pembangunan dan perawatan kuil-kuil Buddha. Keahlian tersebut diwariskan dari generasi ke generasi selama lebih dari 40 generasi keluarga.
Meski berkali-kali menghadapi bencana seperti kebakaran, perang, hingga gempa, perusahaan ini tetap bertahan.
Bahkan, kuil Shitennoji yang mereka bangun berulang kali direkonstruksi menggunakan teknik tradisional keluarga tersebut.
Pada masa perang hingga era modern, Kongo Gumi juga mengalami masa sulit, termasuk krisis keuangan dan perubahan kebijakan pemerintah.
Namun, perusahaan ini terus beradaptasi, termasuk mulai menggunakan teknologi konstruksi modern tanpa meninggalkan nilai tradisional.
Kantor pusat Kongo Gumi, perusahaan tertua di dunia yang masih beroperasi hingga saat ini.Salah satu kekuatan Kongo Gumi adalah prinsip kerja yang diwariskan turun-temurun. Dalam wasiat keluarga, terdapat ajaran penting bagi para pengrajin, seperti:
Nilai-nilai ini membuat perusahaan tidak hanya bertahan secara bisnis, tetapi juga sebagai penjaga warisan budaya Jepang.
Memasuki abad ke-20, Kongo Gumi mulai bertransformasi menjadi perusahaan konstruksi modern. Pada 1955, perusahaan ini resmi menjadi korporasi dan memperluas bidang usahanya.
Mereka bahkan mengembangkan teknik unik yang menggabungkan beton modern dengan estetika arsitektur tradisional Jepang, sehingga tetap mempertahankan nuansa klasik.
Kini, Kongo Gumi menjadi bagian dari grup konstruksi besar Jepang, namun tetap menjaga identitasnya sebagai perusahaan warisan budaya.
Menariknya, keberadaan Kongo Gumi menjadi bukti bahwa peradaban dunia berkembang secara paralel.
Saat Rasulullah SAW tumbuh sebagai anak yatim di Mekkah dan kelak membawa risalah Islam, di belahan dunia lain, Jepang juga membangun fondasi budaya melalui karya arsitektur.
Kisah ini menunjukkan bahwa sejarah manusia saling terhubung dalam waktu, meski berbeda tempat dan budaya.
Baca juga: Ketum PBNU Gus Yahya Temui Dubes Iran, Sampaikan Dukungan Moral
Kongo Gumi bukan hanya perusahaan konstruksi, tetapi simbol ketekunan, tradisi, dan kemampuan beradaptasi lintas zaman.
Dari era kuno hingga modern, perusahaan ini membuktikan bahwa nilai, keahlian, dan konsistensi mampu membuat sesuatu bertahan lebih dari satu milenium.
Sebuah pengingat bahwa warisan terbaik bukan hanya bangunan fisik, tetapi juga nilai yang terus hidup dari generasi ke generasi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang