Editor
KOMPAS.com – Shalat merupakan kewajiban utama bagi umat Islam yang dilaksanakan lima kali dalam sehari semalam.
Dalam rentang 24 jam, umat Islam diwajibkan menunaikan shalat Subuh, Dzuhur, Asar, Maghrib, dan Isya dengan waktu serta jumlah rakaat yang telah ditentukan.
Ketentuan ini tidak bersifat sembarangan, melainkan memiliki makna dan hikmah tersendiri.
Setiap waktu shalat merepresentasikan peristiwa penting yang sarat makna syukur dan keteguhan iman.
Baca juga: Bacaan Dzikir Setelah Shalat Fardhu Lengkap dengan Urutannya
Nilai-nilai tersebut juga memperkuat hubungan manusia dengan Allah dalam setiap fase waktu kehidupan.
Dengan memahami hikmah ini, umat Islam diharapkan dapat menjalankan shalat dengan lebih khusyuk dan penuh kesadaran.
Baca juga: Mengapa Shalat Harus Menghadap Kiblat? Ini 7 Hikmah yang Perlu Diketahui Umat Islam
Dilansir dari laman Kemenag, penjelasan mengenai hal tersebut diuraikan oleh Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Sullam al-Munajah (Surabaya: Al-Haramain, tanpa tahun), halaman 12.
Menurut Syekh Nawawi Al-Bantani, penetapan waktu shalat dan jumlah rakaat berkaitan dengan peristiwa penting yang dialami para nabi terdahulu. Berikut hikmah di balik masing-masing waktu shalat fardhu:
Shalat Subuh pertama kali dikerjakan oleh Nabi Adam saat diturunkan dari surga ke bumi. Dalam kondisi gelap gulita, Nabi Adam diliputi rasa takut dan kekhawatiran karena tidak adanya cahaya.
Ketika fajar terbit dan menerangi bumi, rasa takut tersebut pun hilang. Nabi Adam kemudian melaksanakan shalat dua rakaat sebagai bentuk syukur.
Rakaat pertama sebagai ungkapan syukur karena diselamatkan dari kegelapan malam, dan rakaat kedua sebagai syukur atas terbitnya fajar yang membawa cahaya.
Shalat Dzuhur pertama kali dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim ketika matahari tergelincir. Peristiwa ini berkaitan dengan perintah Allah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail, yang kemudian diganti dengan seekor domba dari surga oleh malaikat Jibril.
Atas kejadian tersebut, Nabi Ibrahim menunaikan shalat empat rakaat. Rakaat pertama sebagai syukur atas penggantian Ismail dengan domba, rakaat kedua sebagai syukur atas hilangnya kesedihan, rakaat ketiga sebagai permohonan ridha kepada Allah, dan rakaat keempat sebagai syukur atas nikmat yang diberikan.
Shalat Asar pertama kali dikerjakan oleh Nabi Yunus setelah Allah menyelamatkannya dari perut ikan. Ia keluar pada waktu Asar dalam kondisi lemah seperti anak burung tanpa bulu.
Empat rakaat shalat yang dilakukan Nabi Yunus menjadi bentuk syukur atas keselamatan dari empat kegelapan, yaitu kegelapan dalam perut ikan, kegelapan di dalam laut, kegelapan malam, dan kegelapan di dalam perut ikan itu sendiri.
Shalat Maghrib pertama kali dilakukan oleh Nabi Isa ketika berhasil selamat dari kejaran kaumnya yang hendak membunuhnya saat matahari terbenam.
Ia kemudian menunaikan shalat tiga rakaat. Rakaat pertama sebagai peneguhan tauhid, rakaat kedua untuk menolak tuduhan kaumnya terhadap ibunya, Sayyidah Maryam, dan rakaat ketiga sebagai peneguhan bahwa semua yang terjadi merupakan ketetapan Allah.
Shalat Isya pertama kali dikerjakan oleh Nabi Musa saat mengalami kesedihan dalam perjalanan keluar dari Madyan. Ia merasa sedih karena berpisah dengan istri, saudaranya Nabi Harun, anaknya, serta menghadapi kezaliman Fir’aun.
Ketika Allah memberikan pertolongan dan menghilangkan kesedihan tersebut, Nabi Musa melaksanakan shalat empat rakaat sebagai bentuk syukur. Peristiwa ini terjadi pada waktu Isya.
Dengan demikian, penentuan waktu dan jumlah rakaat dalam shalat lima waktu tidak hanya menjadi bagian dari rukun Islam, tetapi juga mengandung hikmah yang berkaitan dengan sejarah para nabi serta nilai syukur dan keimanan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang