Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Abdullah bin Mubarak, Ulama Ahli Hadits yang Ibadah Hajinya Digantikan Malaikat

Kompas.com, 1 April 2026, 15:59 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com – Kisah haji Abdullah bin Mubarak menjadi salah satu cerita inspiratif tentang keutamaan sedekah dalam Islam.

Perjalanan haji ulama ahli hadis ini justru terhenti di tengah jalan karena sebuah peristiwa yang mengubah niatnya.

Pada masanya, Abdullah bin Mubarak dikenal sebagai ulama besar di bidang hadis dan fikih yang lahir di Marwa pada tahun 118 H.

Baca juga: Bolehkah Umrah Padahal Belum Pernah Haji? Ini Hukumnya Menurut Hadits dan Penjelasan Ulama

Beliau wafat di daerah Hait pada bulan Ramadan tahun 181 H setelah berperang melawan Romawi.

Salah satu kisah hidupnya menunjukkan bagaimana keikhlasan dan kepedulian sosial dapat menghadirkan pahala yang luar biasa.

Baca juga: Doa Nabi Ibrahim, Dibaca Jika Ingin Bisa Segera Berangkat Haji dan Umrah

Kisah Perjalanan Haji Abdullah bin Mubarak

Dilansir dari laman Kemenag, dalam kitab An-Nawadir karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah Al Qulyubi, diceritakan bahwa perjalanan haji Abdullah bin Mubarak sempat singgah di Kufah, Irak.

Saat berada di Kufah, Abdullah bin Mubarak melihat seorang perempuan yang sedang mencabuti bulu itik. Ia kemudian bertanya untuk memastikan status makanan tersebut.

"Ini bangkai atau hasil sembelihan yang halal?" tanya Abdullah memastikan.

"Bangkai, dan aku akan memakannya bersama keluargaku," ujar perempuan tersebut

Mendengar hal itu, Abdullah merasa heran karena bangkai menjadi santapan keluarga di wilayah tersebut.

Ia pun menasihati perempuan tersebut bahwa hal itu haram, namun nasihat tersebut sempat ditolak.

Abdullah tidak berhenti menasihati hingga akhirnya perempuan tersebut menjelaskan kondisi sebenarnya.

Ia mengaku terpaksa karena tidak memiliki makanan untuk keluarganya.

"Aku memiliki beberapa anak. Selama tiga hari ini aku tak mendapatkan makanan untuk menghidupi mereka."

Penjelasan ini membuat hati Abdullah tersentuh dan merasa iba terhadap kondisi perempuan tersebut.

Sebagai bentuk kepedulian, Abdullah segera kembali dengan membawa bantuan berupa makanan, pakaian, dan bekal lainnya.

"Ambilah keledai ini berikut barang-barang bawaannya. Semua untukmu."

Ia bahkan memberikan seluruh perbekalan yang seharusnya digunakan untuk perjalanan haji.

Akibatnya, Abdullah bin Mubarak tidak dapat melanjutkan perjalanan ke Makkah pada tahun tersebut.

Setelah musim haji berakhir, Abdullah kembali ke kampung halamannya. Namun, masyarakat justru menyambutnya sebagai orang yang telah menunaikan ibadah haji.

"Sungguh aku tidak menunaikan haji tahun ini," katanya meyakinkan para penyambutnya.

Namun, para jamaah lain mengaku melihatnya di berbagai tempat selama ibadah haji berlangsung.

Kebingungan tersebut akhirnya terjawab melalui sebuah mimpi. Dalam mimpinya, Abdullah mendengar penjelasan bahwa amalnya telah diterima oleh Allah SWT.

"Hai Abdullah, Allah telah menerima amal sedekahmu dan mengutus malaikat menyerupai sosokmu, menggantikanmu menunaikan ibadah haji, dan tentu saja pahalanya dilimpahkan kepadamu".

Peristiwa ini menjadi bukti bahwa keikhlasan dalam membantu sesama dapat mendatangkan balasan yang luar biasa dari Allah.

Kisah perjalanan haji Abdullah bin Mubarak ini mengajarkan bahwa ibadah tidak hanya terbatas pada ritual, tetapi juga mencakup kepedulian terhadap sesama.

Keikhlasan dalam bersedekah dapat menjadi jalan meraih pahala besar, bahkan melebihi amalan yang direncanakan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
PBNU Tetapkan 1 Muharram 1448 H Jatuh pada 17 Juni 2026, Ini Alasannya
PBNU Tetapkan 1 Muharram 1448 H Jatuh pada 17 Juni 2026, Ini Alasannya
Aktual
Sahabat Tuli Kini Punya Kosa Isyarat Keislaman, Kemenag Luncurkan KOSMIN
Sahabat Tuli Kini Punya Kosa Isyarat Keislaman, Kemenag Luncurkan KOSMIN
Aktual
Tahun Baru Hijriah 1448 H: Momentum Moralitas dan Kebangkitan Nilai
Tahun Baru Hijriah 1448 H: Momentum Moralitas dan Kebangkitan Nilai
Aktual
Jadwal Puasa Muharram 2026 Lengkap: Tasua, Asyura, Ayyamul Bidh, dan Senin-Kamis
Jadwal Puasa Muharram 2026 Lengkap: Tasua, Asyura, Ayyamul Bidh, dan Senin-Kamis
Aktual
Haji Pulang Diimbau Tak Langsung Keluyuran, Isolasi Mandiri 14 Hari
Haji Pulang Diimbau Tak Langsung Keluyuran, Isolasi Mandiri 14 Hari
Aktual
Arab Saudi Tetapkan 1 Muharram 1448 H Jatuh pada 16 Juni 2026
Arab Saudi Tetapkan 1 Muharram 1448 H Jatuh pada 16 Juni 2026
Aktual
Hilal Tak Terlihat, PBNU Tetapkan 1 Muharram Rabu 17 Juni 2026
Hilal Tak Terlihat, PBNU Tetapkan 1 Muharram Rabu 17 Juni 2026
Aktual
Presiden Jerman Terharu Lihat Istiqlal-Katedral, Menag: Sulit Ditemukan di Belahan Dunia Lain
Presiden Jerman Terharu Lihat Istiqlal-Katedral, Menag: Sulit Ditemukan di Belahan Dunia Lain
Aktual
Tahun Baru Islam 1448 H Dimulai, Kiswah Kabah Resmi Diganti 1 Muharram
Tahun Baru Islam 1448 H Dimulai, Kiswah Kabah Resmi Diganti 1 Muharram
Aktual
Tahun Baru Islam: Doa Akhir Tahun dan Doa Awal Tahun Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Tahun Baru Islam: Doa Akhir Tahun dan Doa Awal Tahun Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Doa dan Niat
Muharam 1448 H Tiba, Ini Keutamaan dan Amalan Sunnahnya
Muharam 1448 H Tiba, Ini Keutamaan dan Amalan Sunnahnya
Aktual
Pentingnya Shalat dalam Islam: Kunci Kesuksesan Abadi di Akhirat
Pentingnya Shalat dalam Islam: Kunci Kesuksesan Abadi di Akhirat
Aktual
Pemulangan Haji Gelombang I Berakhir, 95.178 Jemaah Diterbangkan
Pemulangan Haji Gelombang I Berakhir, 95.178 Jemaah Diterbangkan
Aktual
Sedekah Kolektif ASN Banyuwangi di Peringatan 1 Muharram, Wujud Ta’awun untuk Sesama
Sedekah Kolektif ASN Banyuwangi di Peringatan 1 Muharram, Wujud Ta’awun untuk Sesama
Aktual
Menangis Haru, Penjual Sayur Asal Kebumen: Orang seperti Saya Kok Bisa Berhaji
Menangis Haru, Penjual Sayur Asal Kebumen: Orang seperti Saya Kok Bisa Berhaji
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com