Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PPIH Ungkap Kisah Saifuddin, Jamaah Haji Tunanetra Asal Sinjai yang Sentuh Hati Pemerintah Saudi

Kompas.com, 17 Mei 2026, 09:19 WIB
Add on Google
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Seorang jemaah haji tunanetra asal Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Arab Saudi.

Jemaah bernama Saifuddin HM Abd Muin Saideng yang tergabung dalam Kloter 17 Embarkasi Makassar itu disebut menginspirasi banyak pihak karena semangatnya berhaji di tengah keterbatasan penglihatan.

Kisah perjuangannya diketahui langsung oleh tim Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi yang kemudian mendatanginya di Tanah Suci.

Baca juga: 292 Jamaah Haji Maros Pilih Haji Ifrad, Kenakan Ihram Lebih Lama Dibanding Haji Tamattu

Bahkan, muncul rencana untuk mewakafkan nama Saifuddin sebagai nama salah satu masjid yang akan dibangun di Arab Saudi.

Ketua PPIH Embarkasi Makassar Ikbal Ismail mengatakan Saifuddin mendapat perhatian khusus setelah kisah perjuangannya diketahui Pemerintah Saudi.

Menurut dia, tim Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi mendatangi langsung Saifuddin untuk melihat kondisinya.

Baca juga: Perbedaan Fatwa Lokasi Dam Haji, Musyrif Diny: Pilih yang Sesuai Keyakinan

“Kami dapat info dari pembimbing ibadahnya Kabupaten Sinjai bahwa kemarin ada tim Kementerian Haji dan Umrah Pemerintah Saudi mendatangi jemaah atas nama Saifuddin yang tunanetra dan melihat langsung kondisinya,” katanya di Asrama Haji Sudiang Makassar, Sabtu (16/5/2026).

Saifuddin Diberi Hadiah Oleh Pemerintah Arab sAudi

Ikbal mengatakan Pemerintah Saudi juga memberikan hadiah kepada Saifuddin sebagai bentuk apresiasi atas semangatnya menunaikan ibadah haji.

“Kami menyaksikan, ada di foto, Pemerintah Saudi memberikan hadiah kepada tunanetra tersebut karena semangat beliau begitu besar," ungkapnya.

"Dengan kondisi tunanetra, tetapi beliau masih ingin melaksanakan ibadah haji setelah beberapa tahun menabung,” tambah dia.

Menurut Ikbal, kisah Saifuddin membuat banyak pihak terharu karena tekadnya tetap kuat untuk berangkat ke Tanah Suci meski memiliki keterbatasan fisik.

Namanya Direncanakan Jadi Nama Masjid

Ia menyebut Pemerintah Saudi bahkan berencana membangun masjid yang akan menggunakan nama Saifuddin.

“Dari latar belakang itulah sehingga Pemerintah Saudi, informasi dari pembimbing ibadahnya, berencana akan dibangunkan masjid di Arab Saudi atas nama Haji Saifuddin,” ungkapnya.

Meski demikian, Ikbal mengatakan pihaknya masih menunggu realisasi rencana tersebut.

“Kita tinggal menunggu apakah janji tersebut akan terealisasi atau tidak,” jelasnya.

Saifuddin Menabung Lebih dari 20 Tahun untuk Berangkat Haji

Sebelumnya, Saifuddin mengaku telah mendaftar haji sejak 2014 dan bersyukur akhirnya mendapat kesempatan berangkat ke Tanah Suci tahun ini.

“Tahun 2014 sudah mendaftar. Alhamdulillah," katanya kepada Tribun Timur saat ditemui di Aula Arafah Asrama Haji Sudiang Makassar, Sabtu (2/5/2026).

Di kampung halamannya, Saifuddin dikenal sebagai imam masjid. Meski kini mengalami tunanetra, ia tetap menjalankan aktivitas keagamaan dengan mengandalkan hafalan dan ingatan.

“Saya imam masjid di kampung. Saya bisa hafal (berangkat ke masjid) saat bisa melihat dulu,” ungkapnya.

Dalam perjalanan hajinya, Saifuddin berangkat bersama empat anggota keluarga termasuk seorang sepupu.

"Alhamdulillah masih kuat jalan,” ujarnya.

Perjalanan menuju Tanah Suci bukan hal mudah bagi Saifuddin. Ia harus menabung lebih dari 20 tahun dari hasil berjualan bahan campuran dan honor sebagai imam masjid yang terbatas.

“20 tahun lebih menabung. Jualan bahan campuran. Honor dari imam masjid Rp200 ribu,” kata dia.

Saifuddin Masih Berharap Penglihatannya Kembali Pulih

Di balik keterbatasannya, Saifuddin masih menyimpan harapan agar penglihatannya dapat kembali pulih.

Ia mengaku pernah menjalani pengobatan mata sejak lama sebelum akhirnya kehilangan penglihatan secara total saat masih duduk di bangku SMP.

“Doanya Berharap mata (sembuh). Sudah pernah berobat. Tahun 85, tidak langsung kabur (penglihatan). Waktu itu berobat ke dokter mata di Makassar," jelasnya.

"Buta saat SMP, awalnya sakit. awalnya mata terasa sakit seperti tertusuk jarum. Bengkak," tambahnya.

Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul "Jemaah Haji Tunanetra Asal Sinjai Dikabarkan Akan Dibangunkan Masjid di Arab Saudi"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Rahasia Air Zamzam di Masjid Nabawi Tetap Aman Diminum Meski Jauh dari Sumbernya
Rahasia Air Zamzam di Masjid Nabawi Tetap Aman Diminum Meski Jauh dari Sumbernya
Aktual
PPIH Ungkap Kisah Saifuddin, Jamaah Haji Tunanetra Asal Sinjai yang Sentuh Hati Pemerintah Saudi
PPIH Ungkap Kisah Saifuddin, Jamaah Haji Tunanetra Asal Sinjai yang Sentuh Hati Pemerintah Saudi
Aktual
Kedatangan Jamaah Haji Indonesia Hampir Rampung, Petugas Mulai Bersiap Hadapi Fase Armuzna
Kedatangan Jamaah Haji Indonesia Hampir Rampung, Petugas Mulai Bersiap Hadapi Fase Armuzna
Aktual
Perbedaan Fatwa Lokasi Dam Haji, Musyrif Diny: Pilih yang Sesuai Keyakinan
Perbedaan Fatwa Lokasi Dam Haji, Musyrif Diny: Pilih yang Sesuai Keyakinan
Aktual
Arab Saudi Deportasi 11.272 Warga Asing Ilegal dalam Sepekan
Arab Saudi Deportasi 11.272 Warga Asing Ilegal dalam Sepekan
Aktual
Menag Ajak Hidupkan Spirit KH Wahab Hasbullah untuk Perkuat Moderasi dan Kebangsaan
Menag Ajak Hidupkan Spirit KH Wahab Hasbullah untuk Perkuat Moderasi dan Kebangsaan
Aktual
Skema Murur untuk Lansia Saat Puncak Haji 2026: Usai Wukuf, Jemaah Langsung ke Mina
Skema Murur untuk Lansia Saat Puncak Haji 2026: Usai Wukuf, Jemaah Langsung ke Mina
Aktual
Bacaan Doa saat Melempar Jumrah Ula, Wustho, dan Aqabah dalam Ibadah Haji
Bacaan Doa saat Melempar Jumrah Ula, Wustho, dan Aqabah dalam Ibadah Haji
Doa dan Niat
Doa tawaf Wada’, Doa Perpisahan dengan Baitullah yang Sering Membuat Jamaah Menangis
Doa tawaf Wada’, Doa Perpisahan dengan Baitullah yang Sering Membuat Jamaah Menangis
Doa dan Niat
6 Macam Tawaf dalam Ibadah Haji dan Umroh Lengkap dengan Penjelasannya
6 Macam Tawaf dalam Ibadah Haji dan Umroh Lengkap dengan Penjelasannya
Aktual
 Operasional Haji Gelombang Pertama di Madinah Resmi Berakhir, 3 Kloter Terakhir Diberangkatkan ke Makkah
Operasional Haji Gelombang Pertama di Madinah Resmi Berakhir, 3 Kloter Terakhir Diberangkatkan ke Makkah
Aktual
Sidang Isbat Idul Adha 2026 Digelar Minggu 17 Mei, Kemenag Minta Masyarakat Tunggu Keputusan Resmi
Sidang Isbat Idul Adha 2026 Digelar Minggu 17 Mei, Kemenag Minta Masyarakat Tunggu Keputusan Resmi
Aktual
Tugas dan Nama Musyrif Diny Penyelenggaraan Ibadah Haji 2026
Tugas dan Nama Musyrif Diny Penyelenggaraan Ibadah Haji 2026
Aktual
Arab Saudi Siapkan 33.000 Bus dan 5.000 Taksi untuk Layani Jemaah Haji 2026
Arab Saudi Siapkan 33.000 Bus dan 5.000 Taksi untuk Layani Jemaah Haji 2026
Aktual
Skema Murur Haji 2026: Jamaah Wajib Lewati Tengah Malam di Muzdalifah
Skema Murur Haji 2026: Jamaah Wajib Lewati Tengah Malam di Muzdalifah
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com