KOMPAS.com – Di antara deretan kisah epik dalam sejarah penaklukan Persia, nama Hormuz kerap muncul sebagai sosok yang tidak hanya kuat secara militer, tetapi juga dikenal dengan karakter keras dan tak kenal kompromi.
Ia adalah panglima kepercayaan Kekaisaran Persia yang berhadapan langsung dengan Khalid bin Walid dalam sebuah pertempuran besar yang dikenal sebagai Perang Dzatus Salasil.
Pertemuan dua tokoh ini bukan sekadar bentrokan dua pasukan, tetapi juga simbol pertemuan dua kekuatan besar dengan latar belakang, strategi, dan keyakinan yang berbeda.
Baca juga: Kisah Usamah bin Zaid: Panglima Perang Termuda dalam Sejarah Islam
Dalam literatur sejarah Islam klasik, Hormuz digambarkan sebagai pemimpin militer yang berpengaruh di bawah kekuasaan Kisra.
Ia bukan sekadar prajurit, tetapi juga bagian dari elit kekuasaan Persia yang memiliki kedudukan tinggi.
Dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah, karya Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa Hormuz merupakan sosok yang tegas, keras, bahkan cenderung bengis dalam menghadapi musuh.
Namun di sisi lain, ia juga dikenal sebagai bangsawan yang memiliki kehormatan dalam struktur kerajaan Persia.
Karakter ini menjadikannya figur yang disegani, tetapi sekaligus menimbulkan ketakutan di medan perang.
Baca juga: Iran Buka Jalur Bantuan Kemanusiaan di Selat Hormuz
Konflik antara pasukan Islam dan Persia bermula dari ekspansi wilayah yang dilakukan kaum muslimin ke arah timur.
Saat itu, Khalid bin Walid memimpin ekspedisi menuju wilayah kekuasaan Persia sebagai bagian dari strategi militer yang lebih luas.
Dalam buku Sejarah Lengkap Perang-Perang Rasulullah karya Ali Muhammad Ash-Shallabi, disebutkan bahwa Khalid terlebih dahulu mengirimkan surat kepada penguasa Persia sebagai bentuk diplomasi.
Namun, respons yang datang justru berupa mobilisasi pasukan besar di bawah komando Hormuz.
Hormuz kemudian mengerahkan tentaranya menuju wilayah Kazhimah, sebuah titik strategis yang menjadi lokasi pertempuran.
Salah satu hal yang paling mencolok dari pasukan Hormuz adalah penggunaan rantai untuk mengikat sebagian tentaranya.
Strategi ini dimaksudkan agar pasukan tidak mundur atau melarikan diri saat perang berlangsung.
Karena itulah, pertempuran ini dikenal sebagai Perang Dzatus Salasil, yang secara harfiah berarti “perang rantai”.
Namun, strategi ini juga menjadi bumerang. Dalam buku Tarikh al-Tabari karya Al-Tabari, disebutkan bahwa keterikatan fisik tersebut justru membuat pasukan Persia sulit bergerak fleksibel ketika situasi berubah di medan perang.
Di sisi lain, pasukan Muslim yang dipimpin Khalid bin Walid mengandalkan mobilitas dan ketahanan mental yang tinggi.
Baca juga: Jejak Kota Ubullah: Pelabuhan Persia yang Ditaklukkan Khalid bin Walid, Kini Tinggal Nama
Salah satu momen penting dalam pertempuran ini adalah ketika pasukan Muslim mengalami krisis air. Dalam kondisi genting tersebut, Khalid memotivasi pasukannya untuk tetap bertahan.
Menurut riwayat yang dinukil dalam berbagai kitab sejarah, Allah kemudian menurunkan hujan deras yang memberikan suplai air bagi pasukan Muslim.
Peristiwa ini tidak hanya menjadi solusi logistik, tetapi juga meningkatkan moral pasukan secara signifikan.
Perubahan kondisi alam ini menjadi titik balik yang memperkuat posisi pasukan Muslim sebelum bentrokan besar terjadi.
Di tengah memanasnya pertempuran, Hormuz mengambil langkah berani dengan menantang duel satu lawan satu. Tantangan ini diterima oleh Khalid bin Walid tanpa ragu.
Pertarungan keduanya berlangsung sengit. Dua panglima dengan kemampuan tempur tinggi saling berhadapan dalam duel yang menentukan arah pertempuran.
Dalam riwayat yang disebutkan Ibnu Katsir, Khalid berhasil mengalahkan Hormuz dalam duel tersebut. Kemenangan ini langsung berdampak besar terhadap mental pasukan Persia.
Melihat panglimanya tumbang, barisan mereka mulai kacau. Dalam situasi itu, pasukan Muslim melancarkan serangan lanjutan yang membuat pasukan Persia tercerai-berai.
Baca juga: Khalid bin Walid, Dari Lawan Tangguh Menjadi Pedang Allah
Kekalahan Hormuz bukan hanya kekalahan individu, tetapi juga menjadi simbol runtuhnya kekuatan Persia di wilayah tersebut.
Pasukan yang sebelumnya terikat rantai justru tidak mampu bertahan dan akhirnya melarikan diri.
Dalam catatan sejarah, pasukan Muslim berhasil menguasai logistik perang yang sangat besar, termasuk harta rampasan yang mencapai ribuan muatan.
Peristiwa ini menjadi salah satu kemenangan awal penting dalam ekspansi Islam ke wilayah Persia, yang kemudian berlanjut ke pertempuran-pertempuran berikutnya.
Meski dikenal sebagai sosok bengis, Hormuz tetap menjadi bagian penting dalam narasi sejarah.
Ia merepresentasikan kekuatan besar Persia yang saat itu menjadi salah satu imperium terkuat di dunia.
Kisahnya juga menunjukkan bahwa kekuatan militer semata tidak selalu menentukan kemenangan. Faktor strategi, ketahanan mental, dan keyakinan memainkan peran yang tidak kalah penting.
Kisah pertemuan antara Hormuz dan Khalid bin Walid menyimpan banyak pelajaran. Bukan hanya tentang keberanian di medan perang, tetapi juga tentang bagaimana kepemimpinan diuji dalam situasi sulit.
Dalam perspektif sejarah Islam, kemenangan tidak semata dilihat dari jumlah pasukan, tetapi dari kualitas iman, strategi, dan kesabaran.
Perang Dzatus Salasil menjadi bukti bahwa dalam kondisi paling terdesak sekalipun, harapan tetap ada bagi mereka yang mampu bertahan dan percaya.
Dan mungkin, di situlah letak daya tarik kisah ini, sebuah pertempuran yang bukan hanya soal pedang dan strategi, tetapi juga tentang keyakinan yang mengubah jalannya sejarah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang