KOMPAS.com – Kisah penyeberangan laut oleh Nabi Musa AS dan tenggelamnya Fir’aun merupakan salah satu narasi paling dramatis dalam tradisi Islam.
Peristiwa ini tidak hanya tercatat dalam Al-Qur’an, tetapi juga menjadi bahan kajian panjang dalam sejarah, arkeologi, dan ilmu pengetahuan modern.
Pertanyaan yang terus mengemuka hingga kini adalah siapa sebenarnya Fir’aun yang mengejar Nabi Musa AS hingga akhirnya ditelan laut? Apakah ia Ramses II atau justru putranya, Merneptah?
Di antara teks suci, temuan ilmiah, dan interpretasi sejarah, jawaban atas pertanyaan ini tidaklah sederhana. Namun justru di situlah letak daya tariknya.
Peristiwa penyeberangan laut dijelaskan secara tegas dalam Al-Qur’an, salah satunya pada Surat Al-Baqarah ayat 50:
“Dan (ingatlah) ketika Kami membelah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir’aun dan pengikutnya), sedang kamu menyaksikan.”
Dalam tafsir klasik seperti karya Wahbah az-Zuhayli dalam Tafsir Al-Munir, dijelaskan bahwa pembelahan laut merupakan mukjizat besar Nabi Musa AS, sekaligus bentuk pertolongan Allah kepada Bani Israil. Sementara Fir’aun dan pasukannya ditenggelamkan ketika berada di tengah laut.
Senada dengan itu, tafsir Ibnu Katsir menyebut bahwa peristiwa ini menjadi bukti nyata kekuasaan Allah, di mana laut terbelah menjadi jalan kering yang bisa dilalui manusia.
Namun Al-Qur’an tidak menyebutkan nama Fir’aun tersebut secara spesifik. Di sinilah ruang interpretasi sejarah mulai terbuka.
Baca juga: Kisah Musa dan Harun, Dakwah Lembut di Hadapan Penguasa Zalim
Dalam kajian sejarah Mesir Kuno, para peneliti umumnya mengerucut pada dua tokoh utama:
Ramses II adalah salah satu firaun paling terkenal dalam sejarah Mesir. Ia memerintah sekitar 1279–1213 SM dan dikenal sebagai pemimpin besar yang membawa Mesir pada puncak kejayaannya.
Banyak sejarawan mengaitkan Ramses II dengan kisah Nabi Musa karena:
Dalam buku Biblical History and Israel’s Past karya Megan Bishop Moore dan Brad Kelle, Ramses II sering dikaitkan dengan kisah penindasan terhadap Bani Israil.
Namun ada satu masalah besar, secara ilmiah, Ramses II diketahui wafat pada usia lanjut (sekitar 90 tahun) akibat penyakit degeneratif, bukan karena tenggelam.
Teori kedua menyebut Merneptah sebagai Fir’aun yang tenggelam.
Merneptah adalah putra Ramses II yang naik takhta setelah ayahnya wafat, sekitar 1213–1203 SM. Ia dianggap sebagai kandidat kuat karena:
Dalam buku Arkeologi Al-Qur’an karya Ali Akbar, disebutkan bahwa sangat mungkin Nabi Musa AS hidup pada masa transisi antara Ramses II dan Merneptah.
Ramses II diduga sebagai penguasa yang membesarkan Musa di istana, sementara Merneptah adalah Fir’aun yang mengejarnya.
Baca juga: 9 Mukjizat Nabi Musa Lengkap: Dari Tongkat Hingga Laut Terbelah
Nama Maurice Bucaille menjadi sangat penting dalam diskusi ini.
Dalam bukunya Mummies of the Pharaohs: Modern Medical Investigations, Bucaille melakukan penelitian radiologi terhadap mumi Merneptah. Ia menemukan:
Temuan ini memunculkan hipotesis bahwa Merneptah mungkin meninggal akibat tenggelam atau peristiwa air besar.
Bucaille kemudian mengaitkan temuannya dengan ayat Al-Qur’an (QS Yunus: 92) yang menyebut bahwa jasad Fir’aun akan diselamatkan sebagai pelajaran bagi generasi setelahnya.
Namun, kesimpulan ini tidak sepenuhnya diterima oleh semua ilmuwan.
Sejumlah ahli modern, termasuk Zahi Hawass dan Sahar Saleem, menyatakan bahwa:
Dalam buku Scanning the Pharaohs, Sahar Saleem menegaskan bahwa interpretasi ilmiah harus berhati-hati dan tidak langsung disimpulkan sebagai bukti peristiwa religius.
Dengan kata lain, sains belum mampu memastikan secara pasti siapa Fir’aun dalam kisah Nabi Musa.
Baca juga: Kisah Nabi Musa AS Menurut Al Quran yang Penuh Hikmah
Dalam tradisi Islam, fokus utama bukanlah identitas Fir’aun, melainkan pelajaran dari peristiwa tersebut.
Dalam Ihya Ulumuddin, Al-Ghazali menjelaskan bahwa kisah-kisah dalam Al-Qur’an mengandung hikmah moral dan spiritual, bukan sekadar detail historis.
Fir’aun menjadi simbol:
Sementara Nabi Musa AS melambangkan:
Menariknya, perkembangan teknologi juga membawa kisah ini ke ranah visual. Wajah Ramses II berhasil direkonstruksi melalui teknik CT scan dan CGI oleh tim ilmuwan internasional.
Penelitian ini dipimpin oleh ahli seperti Caroline Wilkinson dan Sahar Saleem, yang mencoba menggambarkan wajah Ramses II di masa jayanya.
Hasilnya menunjukkan sosok pemimpin yang karismatik, sesuatu yang memperkuat citranya sebagai tokoh besar dalam sejarah.
Namun sekali lagi, apakah ia Fir’aun dalam kisah Nabi Musa? Jawabannya tetap terbuka.
Dari berbagai sumber, dapat ditarik satu kesimpulan penting:
Yang paling penting adalah pesan yang dibawa, bahwa kekuasaan sebesar apa pun tidak akan mampu melawan kebenaran jika ia dibangun di atas kesombongan.
Dan mungkin, seperti yang tercermin dalam ayat-ayat Al-Qur’an, kisah Fir’aun bukan untuk menjawab “siapa”, melainkan untuk menjawab “mengapa”, mengapa kesombongan selalu berujung pada kehancuran.
Di situlah kisah ini tetap hidup, melampaui zaman, menjadi pelajaran bagi siapa saja yang mau merenungkan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang