KOMPAS.com – Jauh sebelum peta digital hadir di genggaman, bahkan sebelum dunia Barat mengenal konsep pemetaan modern, seorang ilmuwan Muslim telah lebih dahulu menggambar wajah bumi dengan ketelitian yang mengagumkan.
Di tengah keterbatasan teknologi dan minimnya alat ukur, ia mengandalkan satu hal yang kini sering dilupakan, ketekunan dalam mencari ilmu.
Dialah Muhammad al-Idrisi, sosok yang namanya mungkin tak sepopuler ilmuwan modern, tetapi jejak karyanya menjadi fondasi penting dalam sejarah peradaban manusia.
Lewat peta monumental yang dikenal sebagai Tabula Rogeriana, ia tidak hanya menggambar wilayah geografis, tetapi juga membuka cara pandang baru tentang dunia.
Baca juga: Jarang Disorot, 5 Ilmuwan Perempuan Muslim Pionir Sains Dunia
Muhammad al-Idrisi lahir sekitar tahun 1100 M di wilayah Ceuta, Afrika Utara, yang saat ini berada di perbatasan Maroko dan Spanyol.
Ia berasal dari keluarga bangsawan yang memiliki garis keturunan dengan Nabi Muhammad SAW, sebuah latar belakang yang memberinya akses terhadap pendidikan yang baik sejak usia dini.
Namun, yang membedakan Al-Idrisi bukan sekadar asal-usulnya, melainkan rasa ingin tahunya yang tak pernah padam. Ia tidak puas hanya belajar dari buku. Ia memilih jalan panjang, menjelajah dunia.
Dalam berbagai catatan sejarah, Al-Idrisi diketahui melakukan perjalanan ke wilayah Andalusia, Prancis, hingga kawasan Timur Tengah.
Perjalanan ini bukan sekadar petualangan, melainkan proses pengumpulan data yang kelak menjadi dasar bagi karya besarnya.
Dalam buku Islamic Science and the Making of the European Renaissance karya George Saliba, dijelaskan bahwa tradisi ilmiah dalam Islam pada masa itu sangat menekankan observasi langsung.
Apa yang dilakukan Al-Idrisi menjadi contoh nyata bagaimana ilmu pengetahuan dibangun dari pengalaman empiris, bukan sekadar spekulasi.
Perjalanan intelektual Al-Idrisi mencapai titik penting ketika ia tiba di Sisilia, sebuah wilayah yang pada abad ke-12 menjadi pusat pertemuan budaya Islam dan Eropa.
Di sana, ia bertemu dengan Roger II of Sicily, seorang raja yang memiliki visi besar tentang pengetahuan.
Roger II dikenal sebagai penguasa yang terbuka terhadap ilmu pengetahuan dari berbagai peradaban.
Ia tidak hanya mengumpulkan ilmuwan dari Eropa, tetapi juga dari dunia Islam. Dalam buku The Ornament of the World karya Maria Rosa Menocal, dijelaskan bahwa Sisilia pada masa itu menjadi “jembatan peradaban” yang menghubungkan Timur dan Barat.
Di tangan Roger II, ambisi besar pun lahir, memahami dunia secara menyeluruh tanpa harus menjelajahinya secara langsung. Tugas itu kemudian dipercayakan kepada Al-Idrisi.
Baca juga: 10 Ilmuwan Islam Berpengaruh: Penemu Kamera, Aljabar, dan Peta Dunia
Selama kurang lebih 15 tahun, Muhammad al-Idrisi mengerjakan proyek besar yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
Ia mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, pedagang, pelaut, penjelajah, hingga catatan ilmuwan terdahulu.
Namun yang membuatnya berbeda adalah pendekatannya. Ia tidak serta-merta menerima informasi. Ia membandingkan, menguji, dan memverifikasi setiap data yang diperoleh.
Dalam buku A History of Cartography karya J.B. Harley dan David Woodward, disebutkan bahwa metode Al-Idrisi tergolong sangat maju untuk zamannya.
Ia menggunakan pendekatan kritis terhadap sumber informasi, sesuatu yang baru berkembang di Eropa berabad-abad kemudian.
Hasil dari kerja panjang ini adalah sebuah karya monumental, Tabula Rogeriana, yang selesai pada tahun 1154.
Peta karya Al-Idrisi bukan sekadar representasi geografis. Ia adalah ensiklopedia visual tentang dunia.
Dalam Tabula Rogeriana, tergambar wilayah Asia, Afrika, dan Eropa dengan detail yang luar biasa.
Tidak hanya itu, peta ini juga memuat informasi tentang jalur perdagangan, kondisi iklim, hingga karakteristik budaya masyarakat di berbagai wilayah.
Yang menarik, peta ini digambar dengan orientasi selatan di bagian atas, berbeda dengan peta modern yang menempatkan utara di atas. Hal ini menunjukkan bahwa standar kartografi saat itu masih sangat beragam.
Menurut penelitian dalam The Book of Roger yang merupakan terjemahan karya asli Al-Idrisi, akurasi peta ini bahkan mampu bertahan hingga berabad-abad. Banyak penjelajah Eropa yang kemudian menggunakan karya ini sebagai referensi.
Apa yang dilakukan Al-Idrisi tidak bisa dilepaskan dari konteks peradaban Islam saat itu. Dalam Islam, ilmu pengetahuan bukanlah sesuatu yang terpisah dari keimanan, melainkan bagian dari ibadah.
Al-Qur’an sendiri mendorong umatnya untuk berpikir, mengamati, dan memahami alam semesta.
Salah satu ayat yang relevan adalah dalam Surah Az-Zumar ayat 9 yang menegaskan perbedaan antara orang yang berilmu dan yang tidak.
Dalam buku The Reconstruction of Religious Thought in Islam karya Muhammad Iqbal, dijelaskan bahwa tradisi intelektual Islam selalu menempatkan pencarian ilmu sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan.
Al-Idrisi adalah representasi nyata dari semangat tersebut. Ia tidak hanya mencari pengetahuan untuk kepentingan duniawi, tetapi juga sebagai bentuk pengenalan terhadap ciptaan Allah SWT.
Baca juga: 7 Ilmuwan Muslim yang Mengubah Dunia: Dari Aljabar hingga Sosiologi
Meski hidup hampir seribu tahun lalu, pengaruh Muhammad al-Idrisi masih terasa hingga kini. Karyanya menjadi salah satu referensi penting dalam perkembangan ilmu geografi dan kartografi.
Dalam buku Lost Islamic History karya Firas Alkhateeb, disebutkan bahwa kontribusi ilmuwan Muslim seperti Al-Idrisi sering kali tidak mendapatkan pengakuan yang layak dalam narasi sejarah Barat, meski perannya sangat besar.
Padahal, tanpa karya-karya seperti Tabula Rogeriana, perkembangan pemetaan dunia mungkin akan berjalan jauh lebih lambat.
Kisah Al-Idrisi bukan sekadar cerita sejarah. Ia adalah cermin bagi generasi hari ini.
Di era ketika informasi begitu mudah diakses, tantangan terbesar bukan lagi mencari data, tetapi bagaimana mengolahnya menjadi pengetahuan yang bermakna.
Al-Idrisi telah menunjukkan bahwa ilmu tidak cukup hanya dikumpulkan, tetapi harus diuji dan dipahami.
Lebih dari itu, ia juga mengajarkan bahwa perjalanan, baik secara fisik maupun intelektual—adalah bagian penting dari proses belajar.
Hari ini, kita hidup di dunia yang sudah tergambar dengan sangat detail. Dengan satu klik, kita bisa melihat hampir seluruh permukaan bumi.
Namun, di balik kemudahan itu, ada pertanyaan yang lebih dalam, apakah kita sudah memahami arah perjalanan hidup kita sendiri?
Jika Al-Idrisi menggambar peta dunia dengan penuh ketelitian, maka setiap manusia sejatinya juga sedang menggambar “peta kehidupannya”.
Dan mungkin, seperti yang diajarkan oleh sejarah, peta terbaik bukan hanya yang menunjukkan jalan di dunia, tetapi juga yang menuntun menuju tujuan akhir yang lebih abadi.
Sebab pada akhirnya, ilmu bukan hanya tentang mengetahui, tetapi tentang memahami ke mana arah kita melangkah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang