Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tabula Rogeriana, Peta Dunia Karya Ilmuwan Muslim yang Mengubah Peradaban

Kompas.com, 8 April 2026, 20:42 WIB
Add on Google
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Jauh sebelum peta digital hadir di genggaman, bahkan sebelum dunia Barat mengenal konsep pemetaan modern, seorang ilmuwan Muslim telah lebih dahulu menggambar wajah bumi dengan ketelitian yang mengagumkan.

Di tengah keterbatasan teknologi dan minimnya alat ukur, ia mengandalkan satu hal yang kini sering dilupakan, ketekunan dalam mencari ilmu.

Dialah Muhammad al-Idrisi, sosok yang namanya mungkin tak sepopuler ilmuwan modern, tetapi jejak karyanya menjadi fondasi penting dalam sejarah peradaban manusia.

Lewat peta monumental yang dikenal sebagai Tabula Rogeriana, ia tidak hanya menggambar wilayah geografis, tetapi juga membuka cara pandang baru tentang dunia.

Baca juga: Jarang Disorot, 5 Ilmuwan Perempuan Muslim Pionir Sains Dunia

Dari Tanah Afrika ke Panggung Peradaban Dunia

Muhammad al-Idrisi lahir sekitar tahun 1100 M di wilayah Ceuta, Afrika Utara, yang saat ini berada di perbatasan Maroko dan Spanyol.

Ia berasal dari keluarga bangsawan yang memiliki garis keturunan dengan Nabi Muhammad SAW, sebuah latar belakang yang memberinya akses terhadap pendidikan yang baik sejak usia dini.

Namun, yang membedakan Al-Idrisi bukan sekadar asal-usulnya, melainkan rasa ingin tahunya yang tak pernah padam. Ia tidak puas hanya belajar dari buku. Ia memilih jalan panjang, menjelajah dunia.

Dalam berbagai catatan sejarah, Al-Idrisi diketahui melakukan perjalanan ke wilayah Andalusia, Prancis, hingga kawasan Timur Tengah.

Perjalanan ini bukan sekadar petualangan, melainkan proses pengumpulan data yang kelak menjadi dasar bagi karya besarnya.

Dalam buku Islamic Science and the Making of the European Renaissance karya George Saliba, dijelaskan bahwa tradisi ilmiah dalam Islam pada masa itu sangat menekankan observasi langsung.

Apa yang dilakukan Al-Idrisi menjadi contoh nyata bagaimana ilmu pengetahuan dibangun dari pengalaman empiris, bukan sekadar spekulasi.

Pertemuan Dua Dunia: Ilmu dan Kekuasaan

Perjalanan intelektual Al-Idrisi mencapai titik penting ketika ia tiba di Sisilia, sebuah wilayah yang pada abad ke-12 menjadi pusat pertemuan budaya Islam dan Eropa.

Di sana, ia bertemu dengan Roger II of Sicily, seorang raja yang memiliki visi besar tentang pengetahuan.

Roger II dikenal sebagai penguasa yang terbuka terhadap ilmu pengetahuan dari berbagai peradaban.

Ia tidak hanya mengumpulkan ilmuwan dari Eropa, tetapi juga dari dunia Islam. Dalam buku The Ornament of the World karya Maria Rosa Menocal, dijelaskan bahwa Sisilia pada masa itu menjadi “jembatan peradaban” yang menghubungkan Timur dan Barat.

Di tangan Roger II, ambisi besar pun lahir, memahami dunia secara menyeluruh tanpa harus menjelajahinya secara langsung. Tugas itu kemudian dipercayakan kepada Al-Idrisi.

Baca juga: 10 Ilmuwan Islam Berpengaruh: Penemu Kamera, Aljabar, dan Peta Dunia

Proyek 15 Tahun yang Mengubah Dunia

Selama kurang lebih 15 tahun, Muhammad al-Idrisi mengerjakan proyek besar yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Ia mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, pedagang, pelaut, penjelajah, hingga catatan ilmuwan terdahulu.

Namun yang membuatnya berbeda adalah pendekatannya. Ia tidak serta-merta menerima informasi. Ia membandingkan, menguji, dan memverifikasi setiap data yang diperoleh.

Dalam buku A History of Cartography karya J.B. Harley dan David Woodward, disebutkan bahwa metode Al-Idrisi tergolong sangat maju untuk zamannya.

Ia menggunakan pendekatan kritis terhadap sumber informasi, sesuatu yang baru berkembang di Eropa berabad-abad kemudian.

Hasil dari kerja panjang ini adalah sebuah karya monumental, Tabula Rogeriana, yang selesai pada tahun 1154.

Tabula Rogeriana: Ketika Dunia Digambar dengan Ilmu

Peta karya Al-Idrisi bukan sekadar representasi geografis. Ia adalah ensiklopedia visual tentang dunia.

Dalam Tabula Rogeriana, tergambar wilayah Asia, Afrika, dan Eropa dengan detail yang luar biasa.

Tidak hanya itu, peta ini juga memuat informasi tentang jalur perdagangan, kondisi iklim, hingga karakteristik budaya masyarakat di berbagai wilayah.

Yang menarik, peta ini digambar dengan orientasi selatan di bagian atas, berbeda dengan peta modern yang menempatkan utara di atas. Hal ini menunjukkan bahwa standar kartografi saat itu masih sangat beragam.

Menurut penelitian dalam The Book of Roger yang merupakan terjemahan karya asli Al-Idrisi, akurasi peta ini bahkan mampu bertahan hingga berabad-abad. Banyak penjelajah Eropa yang kemudian menggunakan karya ini sebagai referensi.

Sains dalam Bingkai Keimanan

Apa yang dilakukan Al-Idrisi tidak bisa dilepaskan dari konteks peradaban Islam saat itu. Dalam Islam, ilmu pengetahuan bukanlah sesuatu yang terpisah dari keimanan, melainkan bagian dari ibadah.

Al-Qur’an sendiri mendorong umatnya untuk berpikir, mengamati, dan memahami alam semesta.

Salah satu ayat yang relevan adalah dalam Surah Az-Zumar ayat 9 yang menegaskan perbedaan antara orang yang berilmu dan yang tidak.

Dalam buku The Reconstruction of Religious Thought in Islam karya Muhammad Iqbal, dijelaskan bahwa tradisi intelektual Islam selalu menempatkan pencarian ilmu sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan.

Al-Idrisi adalah representasi nyata dari semangat tersebut. Ia tidak hanya mencari pengetahuan untuk kepentingan duniawi, tetapi juga sebagai bentuk pengenalan terhadap ciptaan Allah SWT.

Baca juga: 7 Ilmuwan Muslim yang Mengubah Dunia: Dari Aljabar hingga Sosiologi

Warisan yang Melampaui Zaman

Meski hidup hampir seribu tahun lalu, pengaruh Muhammad al-Idrisi masih terasa hingga kini. Karyanya menjadi salah satu referensi penting dalam perkembangan ilmu geografi dan kartografi.

Dalam buku Lost Islamic History karya Firas Alkhateeb, disebutkan bahwa kontribusi ilmuwan Muslim seperti Al-Idrisi sering kali tidak mendapatkan pengakuan yang layak dalam narasi sejarah Barat, meski perannya sangat besar.

Padahal, tanpa karya-karya seperti Tabula Rogeriana, perkembangan pemetaan dunia mungkin akan berjalan jauh lebih lambat.

Pelajaran untuk Generasi Hari Ini

Kisah Al-Idrisi bukan sekadar cerita sejarah. Ia adalah cermin bagi generasi hari ini.

Di era ketika informasi begitu mudah diakses, tantangan terbesar bukan lagi mencari data, tetapi bagaimana mengolahnya menjadi pengetahuan yang bermakna.

Al-Idrisi telah menunjukkan bahwa ilmu tidak cukup hanya dikumpulkan, tetapi harus diuji dan dipahami.

Lebih dari itu, ia juga mengajarkan bahwa perjalanan, baik secara fisik maupun intelektual—adalah bagian penting dari proses belajar.

Peta yang Lebih Besar dari Dunia

Hari ini, kita hidup di dunia yang sudah tergambar dengan sangat detail. Dengan satu klik, kita bisa melihat hampir seluruh permukaan bumi.

Namun, di balik kemudahan itu, ada pertanyaan yang lebih dalam, apakah kita sudah memahami arah perjalanan hidup kita sendiri?

Jika Al-Idrisi menggambar peta dunia dengan penuh ketelitian, maka setiap manusia sejatinya juga sedang menggambar “peta kehidupannya”.

Dan mungkin, seperti yang diajarkan oleh sejarah, peta terbaik bukan hanya yang menunjukkan jalan di dunia, tetapi juga yang menuntun menuju tujuan akhir yang lebih abadi.

Sebab pada akhirnya, ilmu bukan hanya tentang mengetahui, tetapi tentang memahami ke mana arah kita melangkah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Sunnah Lari Kecil Saat Sa’i, Ini Makna di Balik Lampu Hijau
Sunnah Lari Kecil Saat Sa’i, Ini Makna di Balik Lampu Hijau
Aktual
Khutbah Jumat 10 April 2026: Islam Agama Damai, Menebar Rahmat bagi Semesta
Khutbah Jumat 10 April 2026: Islam Agama Damai, Menebar Rahmat bagi Semesta
Aktual
Calon Jemaah Wajib Tahu! Persiapan Lengkap Haji 2026 Agar Mabrur
Calon Jemaah Wajib Tahu! Persiapan Lengkap Haji 2026 Agar Mabrur
Aktual
Inovasi Unik Dubai: Masjid Jadi Lokasi Pengisian Mobil Listrik
Inovasi Unik Dubai: Masjid Jadi Lokasi Pengisian Mobil Listrik
Aktual
Di Balik Arab Saudi Modern, Ini Perjuangan Ibnu Saud Menyatukan Jazirah Arab
Di Balik Arab Saudi Modern, Ini Perjuangan Ibnu Saud Menyatukan Jazirah Arab
Aktual
Doa Bersin dan Jawabannya Lengkap Sesuai Sunnah, Ini Adabnya
Doa Bersin dan Jawabannya Lengkap Sesuai Sunnah, Ini Adabnya
Aktual
Menhaj Wacanakan Sistem Haji Tanpa Antrean, Singgung “War Tiket Haji”
Menhaj Wacanakan Sistem Haji Tanpa Antrean, Singgung “War Tiket Haji”
Aktual
Wamenhaj: Jemaah Haji Bebas Kenaikan Avtur, Negara Bayar dari APBN
Wamenhaj: Jemaah Haji Bebas Kenaikan Avtur, Negara Bayar dari APBN
Aktual
Masjid Al-Aqsa Dibuka Kembali Setelah 40 Hari Ditutup, Jemaah Menangis dan Sujud Syukur
Masjid Al-Aqsa Dibuka Kembali Setelah 40 Hari Ditutup, Jemaah Menangis dan Sujud Syukur
Aktual
Dzikir Pagi Petang Lengkap Sesuai Sunnah: Amalan Penenang Hati
Dzikir Pagi Petang Lengkap Sesuai Sunnah: Amalan Penenang Hati
Doa dan Niat
Benarkah Setan Tertawa Saat Kita Menguap? Ini Penjelasan Ulama & Hadis
Benarkah Setan Tertawa Saat Kita Menguap? Ini Penjelasan Ulama & Hadis
Aktual
Banyak yang Belum Tahu, Ini Tata Cara Sholat Witir Lengkap dengan Niat dan Doanya
Banyak yang Belum Tahu, Ini Tata Cara Sholat Witir Lengkap dengan Niat dan Doanya
Doa dan Niat
Tak Lolos UIN? Tenang, Kemenag Siapkan Jalur Lain untuk Wujudkan Mimpi Kuliah
Tak Lolos UIN? Tenang, Kemenag Siapkan Jalur Lain untuk Wujudkan Mimpi Kuliah
Aktual
Hujan Lebat di Arab Saudi, 4,6 Juta Kubik Air Banjir Mengalir ke Bendungan
Hujan Lebat di Arab Saudi, 4,6 Juta Kubik Air Banjir Mengalir ke Bendungan
Aktual
DSN MUI Bahas Emas Digital, Tegaskan Transaksi Tak Boleh Tanpa Emas Fisik
DSN MUI Bahas Emas Digital, Tegaskan Transaksi Tak Boleh Tanpa Emas Fisik
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com