KOMPAS.com – Momen melepas jemaah haji bukan sekadar tradisi seremonial. Di dalamnya, tersimpan harapan, doa, dan ikhtiar spiritual agar perjalanan menuju Tanah Suci berjalan lancar, aman, dan penuh keberkahan.
Dalam ajaran Islam, doa saat perpisahan safar, termasuk haji memiliki dasar yang kuat dari hadis Nabi Muhammad SAW.
Di tengah haru perpisahan, keluarga dan kerabat dianjurkan saling mendoakan. Bukan hanya jemaah yang berangkat, tetapi juga mereka yang ditinggalkan, sama-sama memohon perlindungan kepada Allah SWT.
Lantas, bagaimana bacaan doa melepas jemaah haji yang dianjurkan? Berikut ulasan lengkapnya.
Baca juga: Arab Saudi Tetapkan Sanksi Haji Ilegal, Denda hingga Rp 400 Juta dan Deportasi
Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang membutuhkan kesiapan lahir dan batin. Perjalanan panjang menuju Makkah bukan hanya soal fisik, tetapi juga spiritual.
Dalam perspektif ulama, doa pelepasan haji termasuk bagian dari adab safar (perjalanan). Dalam kitab Al-Adzkar, Imam An-Nawawi menegaskan bahwa mendoakan orang yang bepergian adalah sunnah yang dianjurkan, karena safar mengandung potensi risiko sekaligus keberkahan.
Doa menjadi bentuk tawakal, menyerahkan segala urusan kepada Allah setelah melakukan ikhtiar maksimal.
Baca juga: Arab Saudi Tetapkan Sanksi Haji Ilegal, Denda hingga Rp 400 Juta dan Deportasi
Sebelum berangkat, jemaah haji dianjurkan memohon perlindungan untuk orang-orang yang mereka tinggalkan. Doa ini diriwayatkan dari sahabat Nabi.
أَسْتَوْدِعُكَ اللَّهَ الَّذِى لاَ تَضِيعُ وَدَائِعُهُ
Astawdi’ukallaha alladzi laa tadhi’u wa daa-i’uhu
Artinya: “Aku menitipkan kalian kepada Allah yang tidak akan menyia-nyiakan titipan-Nya.”
Doa ini memiliki makna mendalam, seorang hamba menyadari bahwa perlindungan terbaik bukan berasal dari dirinya, melainkan dari Allah SWT.
Dalam hadis riwayat Ibnu Majah, doa ini diucapkan oleh Rasulullah saat berpisah dengan para sahabat.
Tidak hanya jemaah, keluarga yang ditinggalkan juga dianjurkan membalas dengan doa terbaik. Dalam literatur hadis, terdapat beberapa doa yang diajarkan.
أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ
Astawdi’ullaha diinaka wa amaanataka wa khawaatiima ‘amalik
Artinya: “Aku menitipkan agamamu, amanahmu, dan akhir amalmu kepada Allah.”
Doa ini diriwayatkan dari sahabat Abdullah ibn Umar. Dalam praktiknya, doa ini mencerminkan kepedulian mendalam, bukan hanya keselamatan fisik yang didoakan, tetapi juga kualitas ibadah dan akhir kehidupan.
زَوَّدَكَ اللَّهُ التَّقْوَى وَغَفَرَ ذَنْبَكَ وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُمَا كُنْتَ
Zawwadakallahut taqwa wa ghofaro dzanbaka wa yassaro lakal khoiro haytsuma kunta
Artinya:“Semoga Allah membekalimu dengan takwa, mengampuni dosamu, dan memudahkanmu dalam kebaikan di mana pun engkau berada.”
Hadis ini diriwayatkan dari sahabat Anas ibn Malik dan tercatat dalam riwayat Tirmidzi. Dalam buku Hisnul Muslim karya Sa’id bin Ali Al-Qahtani, doa ini disebut sebagai salah satu doa safar paling utama.
Maknanya sangat komprehensif, mencakup bekal spiritual (takwa), pengampunan dosa, serta kemudahan dalam setiap urusan.
Baca juga: MPR Desak Perkuat Diplomasi Haji, Usul Tambah Kuota untuk Pangkas Antrean
Perjalanan haji bukan perjalanan biasa. Ia adalah perjalanan menuju titik spiritual tertinggi dalam kehidupan seorang Muslim.
Dalam buku Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq, dijelaskan bahwa safar, termasuk haji, adalah kondisi di mana seseorang berada dalam situasi rentan. Karena itu, doa menjadi pelindung utama.
Lebih jauh, Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam Ad-Da’ wa Ad-Dawa’ menegaskan bahwa doa adalah bagian dari sebab yang Allah tetapkan untuk menjaga manusia dari bahaya.
Artinya, doa bukan sekadar pelengkap, tetapi bagian dari sistem perlindungan Ilahi.
Selain membaca doa, ada beberapa amalan yang dianjurkan saat melepas jemaah haji:
Pertama, berjabat tangan dan saling memaafkan. Ini penting karena perjalanan haji diharapkan menjadi awal kehidupan baru yang bersih dari dosa.
Kedua, memberikan pesan kebaikan. Dalam tradisi Islam, nasihat menjadi bagian dari bekal spiritual.
Ketiga, memperbanyak dzikir dan istighfar. Hal ini membantu menenangkan hati di tengah suasana haru.
Keempat, mendoakan secara konsisten, bahkan setelah jemaah berangkat.
Dalam buku Bimbingan Manasik Haji karya Kementerian Agama RI, disebutkan bahwa dukungan keluarga melalui doa memiliki pengaruh besar terhadap kesiapan mental jemaah.
Baca juga: DPR Tegas! Kenaikan Biaya Penerbangan Haji Harus Ditanggung Negara, Bukan Jemaah
Tujuan utama dari seluruh rangkaian doa ini adalah satu: agar jemaah meraih haji mabrur.
Haji mabrur bukan hanya tentang menyelesaikan ritual di Arafah, thawaf di Ka'bah, atau sa’i antara Safa and Marwah.
Lebih dari itu, haji mabrur adalah perubahan diri menjadi pribadi yang lebih baik, menjauhi dosa, dan meningkatkan ketakwaan.
Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa balasan haji mabrur tidak lain adalah surga.
Pada akhirnya, doa pelepasan jemaah haji mencerminkan keseimbangan ajaran Islam antara ikhtiar dan tawakal.
Persiapan fisik, finansial, dan mental tetap diperlukan. Namun di atas semua itu, ada keyakinan bahwa perlindungan sejati datang dari Allah SWT.
Di momen perpisahan itu, doa menjadi bahasa hati, menghubungkan harapan manusia dengan kekuasaan Ilahi.
Dan di setiap langkah jemaah menuju Tanah Suci, doa-doa yang dipanjatkan dari tanah air akan terus menyertai, menjadi penguat yang tak terlihat, namun sangat nyata.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang