Editor
KOMPAS.com - Seorang lansia asal Randusari-Karanganom, Kalurahan Sitimulyo, Kapanewon Piyungan, Kabupaten Bantul, tercatat sebagai calon jemaah haji tertua di Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2026.
Sosok tersebut adalah Mardijiyono Karto Sentono yang kini berusia 103 tahun yang dijadwalkan berangkat ke Arab Saudi pada 1 Mei 2026 untuk menunaikan ibadah haji.
Di usia yang sangat lanjut, semangat Mardijiyono tetap tinggi untuk menyempurnakan rukun Islam kelima.
Baca juga: Kisah Pasutri Penjual Gudeg di Sleman, Menabung Sejak 2009 hingga Bisa Berangkat Haji 2026
Cucu Mardijiyono, Dewi Rusmala (33), mengatakan sang kakek akan berangkat haji tanpa didampingi keluarga secara langsung.
Namun, selama menjalankan ibadah di Tanah Suci, Mardijiyono akan mendapat pendampingan khusus dari petugas haji karena faktor usia, gangguan pendengaran, dan keterbatasan berjalan.
"Mbah kan kakinya sakit karena sempat jatuh waktu lagi di rumah anaknya yang ada di Jakarta," ucapnya, saat dijumpai Tribun Jogja di rumahnya, Jumat (17/4/2026).
Baca juga: Kisah Suraya, Jemaah Haji Termuda Asal Ponorogo yang Didaftarkan Sejak Balita
Dewi menjelaskan, sang kakek sempat dibawa ke dokter dan disarankan menjalani operasi.
Namun, keluarga memilih pengobatan alternatif karena khawatir masa pemulihan berlangsung lama.
Saat ini kondisi Mardijiyono disebut mulai membaik, meski masih membutuhkan bantuan walker saat berjalan.
Mardijiyono Berangkat Haji untuk Menjalankan Wasiat Istri
Keberangkatan Mardijiyono ke Tanah Suci tidak lepas dari pesan mendiang istrinya. Dewi menuturkan, pada akhir Desember 2019 neneknya jatuh sakit.
Sebelum wafat, sang nenek berwasiat agar Mardijiyono berangkat haji lebih dulu.
"Mbah putri enggak mau (ikut berangkat haji). Katanya Mbah Kakung saja yang berangkat. Waktu itu karena mungkin Mbah Putri sudah tidak sehat juga, sudah sakit-sakitan, tapi Mbah Kakung masih sehat," jelasnya.
Pesan tersebut kemudian diwujudkan oleh Mardijiyono dengan mendaftarkan diri haji pada tahun 2020.
Awalnya, Mardijiyono dijadwalkan berangkat pada tahun 2045. Namun, ia kemudian memperoleh prioritas kuota haji lansia sehingga bisa berangkat lebih cepat pada musim haji 2026.
"Waktu pendaftaran itu sempat jual sapi sekitar Rp10 juta. Terus kekurangannya berhasil ditambahin, jadi dapat kursi. Karena Mbah kan, dulu selain jadi petani juga beternak sapi. Tapi Mbah itu melihara sapi bareng dengan teman-temannya," ucap Dewi.
Keluarga terus mendampingi Mardijiyono dalam mengurus kebutuhan keberangkatan haji, termasuk saat mengikuti manasik haji.
Dewi bahkan ikut menggendong sang kakek saat latihan manasik haji di DIY.
"Persiapan Mbah terkait check-up dan sebagainya sudah dilakukan. Jadi, hanya keterbatasan jalan saja. Mbah juga sudah hafal ayat-ayat juga, karena tahun 2023 itu Mbah Mardijiyono sudah sempat melaksanakan ibadah umroh," ujar dia.
Selain pemeriksaan kesehatan, keluarga juga menyiapkan pakaian, sandal, hingga popok yang akan digunakan selama perjalanan ibadah haji.
Persiapan tersebut dibantu anak-anak Mardijiyono yang berjumlah delapan orang.
Dewi berharap sang kakek dapat menjalankan ibadah haji dengan lancar dan kembali ke Indonesia dalam keadaan sehat.
"Ya semoga Mbah Kakung bisa melaksanakan ibadah haji dengan lancar, selamat, dan kembali ke Tanah Air sebagai haji mabrur," harap Dewi.
Sementara itu, Mardijiyono mengaku bahagia karena bisa segera berangkat haji.
"Ya seneng wae (ya senang saja). Ya nanti doa apa saja yang penting didoa," tutur dia.
Artikel ini telah tayang di TribunJogja.com dengan judul “Kisah Mbah Mardijiyono: Usia 103 Tahun, Tunaikan Wasiat Istri Jadi Jemaah Haji Tertua DIY”.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang