Editor
KOMPAS.com - Raden Ajeng Kartini dikenal sebagai pelopor emansipasi perempuan Indonesia.
Hari Kartini yang diperingati setiap 21 April selalu menyoroti perjuangannya dalam pendidikan perempuan.
Namun, sisi spiritual tokoh kelahiran Jepara, 21 April 1879, itu belum banyak diangkat ke ruang publik.
Baca juga: Silsilah RA Kartini dan Alasan yang Membuatnya Dipanggil “Ndoro” oleh Ibu Kandungnya
Dilansir dari Kompas.tv, Kartini disebut pernah menjadi santriwati ulama besar Jawa Tengah, KH Muhammad Sholeh bin Umar atau Mbah Sholeh Darat.
Relasi keduanya dinilai memberi pengaruh penting terhadap pemahaman keislaman Kartini dan perkembangan tafsir Al Quran berbahasa lokal.
Di balik itu, terdapat kisah pencarian ilmu agama yang kuat dalam perjalanan hidupnya.
Kartini disebut beberapa kali mengikuti pengajian Mbah Sholeh Darat di Jepara, Demak, dan Kudus. Dari pertemuan itulah, ia mulai mendalami ajaran Islam secara lebih kritis.
Baca juga: 8 Promo Minuman Hari Kartini 2026, Ada Diskon 50 Persen Fore Coffee
Kartini disebut sebagai salah satu murid perempuan atau santriwati Mbah Sholeh Darat.
Ulama tersebut merupakan pendiri Pesantren Darat di Semarang dan dikenal sebagai guru banyak tokoh besar Islam di Indonesia.
Sejumlah santri Mbah Sholeh Darat kemudian menjadi ulama berpengaruh, di antaranya KH Hasyim Asy'ari pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dan KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah.
Mengutip tulisan dosen UIN Walisongo Semarang, Rizka Chamami, yang dimuat laman Kementerian Agama, Mbah Sholeh Darat kerap memberikan pretilan atau tulisan tangan satu hingga dua lembar kepada Kartini. Dari situ, Kartini mulai belajar huruf Arab Pegon.
Sebagai sosok yang memiliki semangat belajar tinggi, Kartini mempelajari Al Quran secara kritis.
Dalam surat kepada sahabatnya, ia mengaku merasa hampa ketika awal belajar Al Quran karena tidak memahami makna ayat yang dibaca.
Kartini menilai pembelajaran membaca Al Quran tanpa memahami arti hanya membuat umat Islam sulit menyerap hikmah di dalamnya.
Saat meminta gurunya menerjemahkan Al Quran, ia justru dimarahi karena penafsiran kitab suci tidak boleh dilakukan sembarang orang.
Menurut penjelasan saat itu, orang yang boleh menafsirkan Al Quran harus memiliki berbagai ilmu pendukung, seperti gramatika Arab, nahwu, shorof, ilmu badi, maani, bayan, nasikh mansukh, asbabul wurud, asbabun nuzul, dan lainnya.
Kegelisahan itu ia tuliskan dalam surat kepada Stella EH Zeehandelaar tertanggal 6 November 1899.
“Al-Qur’an terlalu suci untuk diterjemahkan dalam bahasa apapun juga. Di sini orang juga tidak tahu Bahasa Arab. Di sini, orang diajari membaca Al-Qur’an, tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Saya menganggap itu pekerjaan gila; mengajari orang membaca tanpa mengajarkan makna yang dibacanya,” tulis Kartini yang saat itu berusia 20 tahun.
“Sama halnya seperti kamu mengajar saya membaca buku bahasa Inggris yang harus hapal seluruhnya, tanpa kamu terangkan maknanya kepada saya. Kalau saya mau mengenal dan memahami agama saya, maka saya harus pergi ke negeri Arab untuk mempelajari bahasanya di sana. Walaupun tidak saleh, kan boleh juga jadi orang baik hati. Bukankah demikian Stella?” lanjut perempuan yang wafat pada usia 25 tahun itu.
Mbah Sholeh Darat Tulis Tafsir Berbahasa Lokal
Mbah Sholeh Darat kemudian dikenal membuka wawasan keislaman Kartini dengan menerjemahkan Al Quran dalam huruf Arab Pegon.
Ia menulis Tafsir Faidlur Rahman fi Tarjamati Tafsir Kalam Malikid-Dayyan jilid pertama selama sebelas bulan.
Penulisan dimulai pada 20 Rajab 1309 H atau 19 Februari 1892 hingga 19 Jumadal Ula 1310 H atau 9 Desember 1892.
Jilid pertama itu berjumlah 503 halaman dan membahas surat Al Fatihah serta Al Baqarah.
Mengutip laman NU, Agus Tiyanto atau Abu Malikus Salih Dzahir menjelaskan sumber data Kartini pernah menjadi santri Mbah Sholeh Darat pertama kali ditemukan dosen sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM), Moesa Machfudz. Data itu merujuk catatan pribadi murid KH Sholeh Darat, yakni KH Ma'shum Demak.
Tulisan Moesa tentang kisah Kartini nyantri kepada Mbah Sholeh Darat dimuat dalam Majalah Gema Yogyakarta Nomor 3 Tahun 1978.
Ahli tafsir UIN Walisongo, Imam Taufiq, menyebut percepatan penerbitan jilid pertama tafsir karya Mbah Sholeh Darat salah satunya karena desakan Kartini.
"Percepatan penerbitan karena tingginya permintaan kebutuhan tafsir Al Qur'an dengan bahasa lokal. Dan desakan Kartini atas penerbitan tafsir lokal kepada KH Sholeh Darat dalam pengajian pamannya, Bupati Demak Ario Hadiningrat," kata Imam saat menyampaikan Kajian Tafsir Faidlurrahman di Masjid Agung Kauman Semarang, 17 April 2016.
Dalam mukadimah tafsirnya, Mbah Sholeh Darat menulis alasan percepatan penerbitan karena umat Islam sangat membutuhkan, sementara sebagian besar masyarakat Jawa belum memahami bahasa Arab.
Pertemuan Kartini dengan Mbah Sholeh Darat dinilai tidak diragukan lagi dalam konteks masa hidup dan karya keduanya.
Hubungan itu terlihat seperti dialog intelektual melalui tulisan masing-masing.
Kartini menuangkan keresahan tentang sulitnya memahami Al Quran dalam surat-suratnya. Sementara Mbah Sholeh Darat menulis kata “Ratu” dalam mukadimah kitab tafsirnya.
Kata “Ratu” dapat dimaknai dua hal, yakni Tuhan atau Allah, serta pemerintah dan keluarga, termasuk Kartini.
Kisah ini menjadi sisi lain perjuangan RA Kartini yang tidak hanya berbicara soal emansipasi, tetapi juga semangat mendalami ilmu agama.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang