Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Udin Suchaini
ASN di Badan Pusat Statistik

Praktisi Statistik Bidang Pembangunan Desa

The Great Silence of Piety: Risiko di Balik Kesabaran Jamaah Haji dari Desa

Kompas.com, 24 April 2026, 05:12 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

DI BANYAK desa di Indonesia, haji adalah mahkota kehidupan, puncak dari perjalanan panjang yang ditempa oleh kerja keras, kesabaran, dan pengorbanan ekonomi yang tidak kecil.

Dalam perspektif, haji bukan sekadar ibadah individual, tetapi juga peristiwa sosial yang mengangkat martabat keluarga dan komunitas. Ia adalah simbol legitimasi moral yang paling tinggi.

Namun, di balik kemuliaan itu, tersimpan realitas lebih kompleks: kerentanan fisik, tekanan sosial, dan keheningan kultural yang sering kali berujung pada tragedi.

Kesiapan Negara

Di tengah kompleksitas tersebut, apresiasi tinggi patut diberikan kepada Kementerian Haji dan Umroh atas persiapan teknis pelatihan petugas haji 1447 H/2026 M, yang ditempa dengan sangat matang.

Baca juga: Antrean Haji, War Ticket dan Jebakan Keuangan Haji

Kegiatan pelatihan semi militer menjadi indikator kuat bahwa negara hadir dengan keseriusan.

Dalam kerangka kebijakan publik, kesiapan petugas dalam memahami materi dan saat melakukan simulasi mencerminkan tata kelola yang semakin profesional, berbasis pelatihan, standar operasional, dan kesiapan sumber daya manusia.

Namun, sebagaimana sebuah kapal yang tampak kokoh di dermaga, ujian sesungguhnya tidak terjadi saat persiapan, melainkan ketika berhadapan dengan gelombang nyata di lautan.

Tantangan pertama yang akan dihadapi petugas adalah menembus apa yang dapat disebut sebagai The Great Silence of Piety.

Dalam perspektif konstruksi sosial, warga desa membangun makna bahwa kesabaran adalah bagian dari kesalehan. Akibatnya, keluhan sering kali ditekan, bahkan ketika tubuh sudah memberi sinyal bahaya.

Di sinilah kesiapan petugas diuji: bukan hanya dalam aspek teknis, tetapi dalam sensitivitas sosial. Mereka harus mampu membaca “bahasa diam”, mendeteksi kelelahan di balik senyum, menangkap risiko di balik ucapan “Alhamdulillah”.

Tantangan kedua adalah fase Armuzna, Arafah, Muzdalifah, dan Mina, yang dalam banyak evaluasi menjadi titik paling kritis.

Dalam kacamata manajemen krisis, fase ini adalah situasi dengan kepadatan tinggi, sumber daya terbatas, dan tekanan waktu yang ekstrem.

Pergerakan ratusan ribu jemaah dalam ruang terbatas bukan sekadar persoalan logistik, tetapi juga soal koordinasi, ketepatan keputusan, dan ketahanan mental petugas.

Tantangan ketiga berkaitan dengan jemaah rentan. Dengan dominasi lansia dan prevalensi penyakit kronis yang tinggi, petugas harus mampu menerjemahkan kesiapan mental menjadi tindakan cepat dan tepat.

Situasi ini adalah kombinasi faktor risiko yang membutuhkan respons berbasis kewaspadaan tinggi, bukan sekadar prosedur standar.

Baca juga: Danantara Bidik Lahan 400 Meter dari Masjidil Haram untuk Kampung Haji

Tantangan keempat adalah menjaga konsistensi layanan, terutama dalam distribusi konsumsi dan logistik. Ini bukan sekadar soal makanan, tetapi tentang menjaga energi, kesehatan, dan stabilitas jemaah di tengah tekanan ibadah yang berat.

Dalam kerangka manajemen krisis, keberhasilan layanan haji sangat ditentukan oleh ketepatan distribusi di titik-titik paling krusial.

Pemahaman dan kesiapan petugas hasil pelatihan sudah menjadi modal besar. Namun, kita perlu berhati-hati agar tidak terjebak dalam apa yang bisa disebut sebagai “ilusi keberhasilan”.

Karena hasil pelatihan sering kali mencerminkan permukaan, bukan kedalaman realitas.
Apalagi jika dikaitkan dengan karakter jemaah desa yang cenderung tidak mengeluh.

Tingginya kepuasan tidak selalu berarti tidak adanya masalah. Bisa jadi, ia adalah refleksi dari budaya diam yang mengakar.

Di sinilah letak tantangan terbesar: mengubah kesiapan yang terukur menjadi kehadiran yang terasa. Petugas tidak cukup hanya siap secara administratif, tetapi harus hadir secara empatik, mampu menjangkau mereka yang tidak bersuara.

Baca juga: Kepuasan Layanan Haji: Kesalehan yang Menenggelamkan Fakta

Menjaga Kesalehan, Melindungi Kehidupan

Haji adalah ibadah yang agung, tetapi juga peristiwa sosial yang kompleks. Ia mempertemukan manusia dengan Tuhan, sekaligus dengan batas-batas tubuh dan struktur sosialnya sendiri.

Kesalehan warga desa adalah kekuatan yang luar biasa. Namun, tanpa pendekatan yang tepat, ia bisa berubah menjadi keheningan berbahaya.

Di sinilah negara, melalui para petugasnya, memegang peran kunci: memastikan bahwa tidak ada jemaah yang “tertinggal dalam diam”.

Apresiasi atas kesiapan pemerintah adalah hal yang layak dan penting, dan perlu diiringi dengan kewaspadaan kritis.

Karena pada akhirnya, keberhasilan haji akan terukur dari seberapa jauh negara mampu menjaga satu hal yang paling mendasar: keselamatan jiwa setiap jemaah.

Dan di titik itu, kesalehan dan pelayanan akan saling menguatkan, bukan saling meniadakan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Menhaj: Kuota Haji 2027 Acuan Sementara Tetap 221 Ribu Jamaah
Menhaj: Kuota Haji 2027 Acuan Sementara Tetap 221 Ribu Jamaah
Aktual
Jadwal Puasa Senin Kamis Juni 2026 Lengkap dengan Bacaan Niat
Jadwal Puasa Senin Kamis Juni 2026 Lengkap dengan Bacaan Niat
Aktual
Kalender Islam Juni 2026: Catat Tanggal 1 Muharram 1448 H dan Tahun Baru Islam
Kalender Islam Juni 2026: Catat Tanggal 1 Muharram 1448 H dan Tahun Baru Islam
Aktual
PPIH Ingatkan Jamaah Haji Waspadai Tujuh Gejala Penyakit Setelah Tiba di Tanah Air
PPIH Ingatkan Jamaah Haji Waspadai Tujuh Gejala Penyakit Setelah Tiba di Tanah Air
Aktual
Makkah Berpotensi Diguyur Hujan & Badai Petir hingga Akhir Pekan, Ini Prediksinya
Makkah Berpotensi Diguyur Hujan & Badai Petir hingga Akhir Pekan, Ini Prediksinya
Aktual
100 Tahun Gontor, Ribuan Umat Hadiri Tabligh Akbar Bersama UAS dan Das'ad Latif
100 Tahun Gontor, Ribuan Umat Hadiri Tabligh Akbar Bersama UAS dan Das'ad Latif
Aktual
Kapan Puasa 1 Muharram 1448 H? Catat Tanggal, Niat, dan Keutamaannya
Kapan Puasa 1 Muharram 1448 H? Catat Tanggal, Niat, dan Keutamaannya
Aktual
Rahasia Arah Tawaf Ka'bah, Ternyata Mirip Gerak Planet di Alam Semesta
Rahasia Arah Tawaf Ka'bah, Ternyata Mirip Gerak Planet di Alam Semesta
Aktual
Doa Pulang Haji yang Dianjurkan Rasulullah, Lengkap Arab, Arti, dan Maknanya
Doa Pulang Haji yang Dianjurkan Rasulullah, Lengkap Arab, Arti, dan Maknanya
Doa dan Niat
Allah Itu Dekat: Janji dalam Surah Al-Baqarah ayat 186
Allah Itu Dekat: Janji dalam Surah Al-Baqarah ayat 186
Doa dan Niat
Arab Saudi Kirim Timeline Haji 2027, Menhaj Irfan: Indonesia Kekurangan Ratusan Dokter dan Perawat
Arab Saudi Kirim Timeline Haji 2027, Menhaj Irfan: Indonesia Kekurangan Ratusan Dokter dan Perawat
Aktual
Wamenhaj Ungkap Dugaan Penipuan Rp 1,4 Miliar Modus Dam dan Badal Haji
Wamenhaj Ungkap Dugaan Penipuan Rp 1,4 Miliar Modus Dam dan Badal Haji
Aktual
Peringatan Rasulullah tentang Bahaya Ketamakan, Satu Lembah Emas Tak Pernah Cukup
Peringatan Rasulullah tentang Bahaya Ketamakan, Satu Lembah Emas Tak Pernah Cukup
Doa dan Niat
Dunia Hanya Senda Gurau, Ini Makna Surah Al-Ankabut Ayat 64
Dunia Hanya Senda Gurau, Ini Makna Surah Al-Ankabut Ayat 64
Doa dan Niat
Haji Masih Dianggap Urusan Nanti, Ini Alasan Jamaah Usia 60 Tahun Lebih Dominan
Haji Masih Dianggap Urusan Nanti, Ini Alasan Jamaah Usia 60 Tahun Lebih Dominan
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com