Editor
KOMPAS.com - Jemaah haji Indonesia bisa tetap berkomunikasi dengan keluarga di rumah selama berada di Tanah Suci dengan menggunakan layanan pesan instan, telepon, atau panggilan video.
Ketiga metode itu menjadi sarana utama untuk melepas rindu sekaligus memastikan kondisi keluarga maupun jamaah yang sedang menjalankan ibadah haji di Tanah Suci.
Namun, komunikasi perlu menyesuaikan selisih waktu Arab Saudi dan Indonesia agar tidak mengganggu waktu istirahat maupun ibadah.
Baca juga: PPIH Solo Jelaskan Alur Layanan Jemaah Haji 2026 di Asrama Donohudan, Kini Dilayani Satu Pintu
Karena itu, penting mengetahui perbedaan jam antara Arab Saudi dengan zona waktu indonsia yang dibagi menjadi zona WIB, WITA, dan WIT.
Arab Saudi menggunakan satu zona waktu nasional, yaitu GMT+3 atau UTC+3. Zona waktu ini berlaku di seluruh wilayah negara tersebut, termasuk Makkah, Madinah, Jeddah, Riyadh, Taif, Mina, Arafah, dan Muzdalifah.
Artinya, waktu di Madinah sama dengan Makkah serta kota-kota lainnya di Arab Saudi.sehingga jamaah tidak perlu mengubah jam saat berpindah kota.
Baca juga: Shalawat Badar Sambut Jamaah Haji Kloter Pertama di Madinah, Hangat dan Penuh Suka Cita
Sementara di Indonesia memiliki tiga zona waktu, yakni WIB (GMT+7), WITA (GMT+8), dan WIT (GMT+9).
Karena letak Indonesia lebih ke timur, maka waktu di Indonesia lebih cepat dibanding Arab Saudi.
Secara umum, Indonesia lebih cepat 4 hingga 6 jam dari Arab Saudi, tergantung zona wilayah masing-masing (WIB, WITA, dan WIT).
Indonesia memiliki tiga zona waktu resmi, yaitu WIB, WITA, dan WIT. Ketiganya memiliki selisih berbeda dengan Arab Saudi yang menggunakan zona waktu GMT+3.
Karena Indonesia berada di sebelah timur Arab Saudi, maka waktu di Indonesia lebih cepat.
Berikut penjelasan perbedaan atau selisih waktu di Indonesia menurut zona WIB, WITA, dan WIT dengan Arab Saudi:
Zona Waktu Indonesia Barat (WIB) menggunakan zona waktu GMT+7, sehingga selisih waktunya lebih cepat 4 jam dibanding Arab Saudi (GMT+3).
Wilayah Indonesia yang masuk zona WIB meliputi seluruh Pulau Sumatera, yaitu Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Bengkulu, dan Lampung. Selain itu, seluruh Pulau Jawa juga masuk zona WIB, yakni Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Sementara di Pulau Kalimantan, wilayah yang menggunakan WIB adalah Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
Sehingga, jika di Jakarta pukul 10.00 WIB, maka di Makkah atau Madinah masih pukul 06.00 pagi.
Zona Waktu Indonesia Tengah (WITA) menggunakan zona waktu GMT+8, sehingga selisih waktunya lebih cepat 5 jam dibanding Arab Saudi (GMT+3).
Wilayah Indonesia yang masuk zona WITA meliputi Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Selain itu, seluruh Pulau Sulawesi juga masuk zona WITA, yakni Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Sementara di Pulau Kalimantan, wilayah yang menggunakan WITA adalah Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.
Sehingga, jika di Bali pukul 10.00 WITA, maka di Arab Saudi masih pukul 05.00 pagi.
Zona Waktu Indonesia Timur (WIT) menggunakan zona waktu GMT+9, sehingga selisih waktunya lebih cepat 6 jam dibanding Arab Saudi (GMT+3).
Wilayah Indonesia yang masuk zona WIT meliputi Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.
Sehingga, jika di Jayapura pukul 10.00 WIT, maka di Arab Saudi masih pukul 04.00 dini hari.
Berikut beberapa contoh konversi jam antara waktu di Indonesia dengan di Arab Saudi:
Jamaah haji disarankan menetapkan waktu khusus untuk menghubungi keluarga, misalnya setelah salat Subuh atau menjelang malam waktu Arab Saudi.
Komunikasi yang teratur dapat memberi ketenangan bagi keluarga dan tidak mengganggu kekhusyukan ibadah.
Untuk keluarga di Indonesia, waktu pagi hingga sore di Arab Saudi biasanya lebih ideal karena bertepatan dengan siang hingga malam hari di Tanah Air.
Memahami perbedaan waktu Arab Saudi dan Indonesia penting bagi jamaah haji maupun keluarga di Tanah Air.
Selisih waktu dapat memengaruhi jadwal komunikasi, waktu istirahat, hingga aktivitas ibadah selama berada di Tanah Suci.
Dengan mengetahui perbedaan jam, jamaah bisa menentukan waktu terbaik untuk menelepon keluarga tanpa mengganggu waktu tidur atau kegiatan ibadah.
Selain itu, pemahaman soal zona waktu membantu keluarga memantau jadwal penting, seperti keberangkatan pesawat, kedatangan di Madinah atau Makkah, hingga agenda puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Perbedaan waktu juga penting agar jamaah lebih mudah menyesuaikan pola tidur dan mengurangi dampak jet lag saat baru tiba di Arab Saudi.
Dengan pengaturan waktu yang tepat, komunikasi menjadi lebih lancar, ibadah lebih khusyuk, dan keluarga di Indonesia pun merasa lebih tenang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang