Editor
KOMPAS.com – Pondok Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA) tampil sebagai fenomena unik di tengah dunia pesantren Indonesia. Mengusung manajemen modern ala korporasi namun tetap berakar kuat pada nilai kepesantrenan, lembaga ini berkembang pesat dan menghadirkan model pendidikan inklusif sekaligus berorientasi global.
Didirikan pada 2013, BIMA kini telah berkembang menjadi tiga kampus utama: Bina Insan Mulia I, II, dan III. Perkembangan ini dinilai sebagai bukti komitmen kuat pendirinya, Kiai Haji Imam Jazuli, dalam menghadirkan pendidikan berkualitas untuk semua lapisan masyarakat.
Di balik perkembangan pesat BIMA, berdiri sosok Kiai Haji (KH) Imam Jazuli yang memiliki latar belakang akademik dan pengalaman organisasi yang kuat. Ia merupakan alumnus Universitas Al-Azhar, Mesir.
DR KH Nanang Firdaus Masduki Lc MM, Pimpinan Syafana Islamic School BSD City, yang merupakan teman kampus KH Imam Jazuli di Universitas Al-Azhar, menceritakan kiprah dan keunikan KH Jazuli.
Baca juga: Dari Pesantren ke UI: Kisah Mahasiswa Semester 6 yang Mengajar di Kampus Top Indonesia
Nanang mengenang, sejak menjadi mahasiswa di Kairo, Imam Jazuli sudah menunjukkan karakter yang berbeda dibanding mahasiswa lain.
“Di saat banyak mahasiswa memilih menekuni muqarar atau diktat kitab di apartemen, dia justru memilih jalur ‘berisik’. Dia aktivis tulen. Nafasnya ada di organisasi,” kenang Nanang kepada Kompas.com, Kamis (23/4/2026).
Meski aktif di berbagai organisasi mahasiswa, Imam Jazuli tetap mampu menjaga prestasi akademiknya hingga lulus tepat waktu—sesuatu yang dinilai langka.
“Biasanya, kalau tidak lulusnya telat, ya organisasinya yang mandek. Izul sabet keduanya,” tambahnya.
Karakter inilah yang kemudian terbawa dalam kepemimpinannya membangun pesantren.
KH Imam Jazuli (kiri), pendiri Pesantren Bina Insan Mulia, saat berbincang dengan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin).Keunikan BIMA juga tercermin dari sistem pengelolaannya yang profesional. Nanang menilai pesantren ini sebagai perpaduan langka antara tradisi dan modernitas.
“Dia mengelola pesantren dengan standar korporasi namun tetap berjiwa santri. Dia tidak mengikuti arus, dia menciptakan arus,” ujarnya.
Menurutnya, Imam Jazuli adalah sosok dengan ide yang tak pernah habis.
“Di kepalanya itu kayak ada gudang gagasan. Stok idenya nggak pernah habis, bahkan sering bikin pusing timnya sendiri,” ungkapnya.
Direktur Pengembangan HCM (Human Capital Management) Bina Insan Mulia, Ubaydillah Anwar, mengungkapkan bahwa ekspansi tersebut bukan sekadar pertumbuhan fisik, melainkan bagian dari visi besar pendidikan inklusif.
“Pesantren Bina Insan Mulia berkembang sangat cepat. Dari tahun 2013 sampai sekarang yang baru berusia sekitar 13 tahun, sudah menjadi tiga, yaitu Bina Insan Mulia I, Bina Insan Mulia II, dan Bina Insan Mulia III,” ujar Ubaydillah Anwar kepada Kompas.com, Kamis (23/4/2026).
Menurutnya, pembagian ini didasarkan pada aksesibilitas sosial ekonomi tanpa mengorbankan kualitas pendidikan.
“Yang ekonomi menengah atas bisa memilih di Bina Insan Mulia II, yang ekonomi sedang bisa memilih di Bina Insan Mulia I, sedangkan yang di bawah bisa memilih di Bina Insan Mulia III,” jelasnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa perbedaan fasilitas tidak berpengaruh pada kualitas pembinaan santri.
“Meskipun berbeda-beda fasilitasnya, tetapi secara layanan pendidikan dan kehadiran kiai di hati santri melalui berbagai kegiatan sama. Semua orang punya kesempatan untuk berkembang,” tegasnya.
Baca juga: Pesantren Al Umanaa Perkuat Kolaborasi Cetak Pemimpin Qurani Indonesia
Lebih jauh, Ubaydillah menekankan bahwa BIMA tidak hanya berfokus pada pembentukan akhlak, tetapi juga pada peran strategis santri di masa depan.
“Kiai Imam Jazuli ingin menghantarkan santrinya bukan saja menjadi generasi yang saleh berakhlak mulia, tetapi generasi yang saleh plus punya peranan strategis untuk pembangunan Indonesia,” katanya.
Untuk mewujudkan hal tersebut, pesantren secara aktif memfasilitasi santri melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, baik di dalam maupun luar negeri.
“Sebagian besar diarahkan untuk mendalami STEM, sains dan teknologi. Sebagian kecil ke studi keislaman di Timur Tengah seperti Mesir, Tunisia, Jordania, dan Maroko. Sisanya ke Eropa, seperti Rusia, Prancis, Jerman, dan Inggris,” jelasnya.
Ia menambahkan, dalam usia yang relatif muda, jaringan alumni BIMA sudah tersebar luas.
“Santri Bina Insan Mulia yang usianya baru sekitar 13 tahun ini sudah berada di 16 negara,” ujarnya.
Sebagai pesantren yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama, BIMA juga menanamkan praktik keagamaan berbasis Ahlussunnah wal Jamaah.
“Praktik ibadah di dalamnya menerapkan Ahlussunnah wal Jamaah dengan corak ke-NU-an,” kata Ubaydillah.
Tak hanya itu, BIMA juga menjadi salah satu pesantren pionir yang menghadirkan pendidikan politik bagi santri melalui Sekolah Pendidikan Politik Bina Insan Mulia.
“Pesantren ini menjadi salah satu yang pertama memiliki sekolah politik untuk para santri. Santri harus berani masuk ke pertarungan politik sebagai bentuk panggilan untuk terlibat dalam pembangunan Indonesia,” tegasnya.
Dengan perpaduan manajemen profesional, akses pendidikan inklusif, jejaring global, hingga keberanian membuka ruang politik bagi santri, BIMA dinilai sebagai model pesantren masa depan.
Baca juga: Dari Mufti Keraton ke Pesantren Rakyat: Kisah Buntet Melawan Narasi VOC Sejak 1750
Nanang melihat konsistensi karakter Imam Jazuli sejak muda hingga kini menjadi kunci dari transformasi tersebut.
“Dia adalah aktivis yang tuntas, pengusaha yang cerdas, dan kiai yang visioner,” ujarnya.
Fenomena BIMA menunjukkan bahwa pesantren tidak hanya mampu bertahan di tengah perubahan zaman, tetapi juga bisa menjadi motor penggerak lahirnya generasi unggul yang religius, intelektual, dan siap berperan di tingkat global.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang