KOMPAS.com – Banyak orang mengira shalat Jumat pertama dalam Islam dilaksanakan di sebuah masjid megah seperti yang kita lihat hari ini.
Namun fakta sejarah menunjukkan hal yang berbeda. Ibadah penting itu justru pertama kali didirikan di sebuah lembah terbuka, jauh dari bangunan permanen, tepatnya di Wadi Ranuna.
Peristiwa ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan bagian penting dari perjalanan dakwah Nabi Muhammad saat hijrah dari Makkah menuju Madinah.
Lantas, bagaimana kisah lengkapnya?
Baca juga: Kapan Shalat Jumat Pertama Kali Dilaksanakan? Berawal dari Hijrah Nabi
Sebelum dikenal sebagai Madinah, kota ini bernama Yatsrib. Nama tersebut kemudian berubah menjadi Madinah al-Munawwarah setelah Rasulullah SAW hijrah pada tahun 622 M, sebuah peristiwa besar yang dikenal sebagai Hijrah Nabi Muhammad.
Hijrah bukan hanya perpindahan tempat, tetapi juga titik awal terbentuknya masyarakat Islam yang lebih terorganisir. Di kota inilah berbagai ajaran Islam mulai dijalankan secara terbuka, termasuk shalat Jumat.
Dalam berbagai literatur sejarah, seperti Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, dijelaskan bahwa fase Madinah menjadi momentum penting dalam pembentukan sistem sosial dan ibadah umat Islam.
Sesampainya di pinggiran Madinah, Rasulullah SAW terlebih dahulu singgah di kawasan Quba dan membangun Masjid Quba, yang dikenal sebagai masjid pertama dalam sejarah Islam.
Keutamaan masjid ini bahkan disebut dalam Al-Qur’an, tepatnya dalam Surah At-Taubah ayat 108, sebagai masjid yang dibangun atas dasar takwa.
Namun, meskipun menjadi masjid pertama, shalat Jumat belum dilaksanakan di tempat ini.
Perjalanan Nabi kemudian berlanjut menuju pusat kota Madinah. Di tengah perjalanan, rombongan tiba di sebuah lembah milik Bani Sulaim, yaitu Wadi Ranuna.
Saat itu, waktu telah memasuki hari Jumat dan mendekati waktu Dzuhur. Rasulullah SAW pun mengajak para sahabat dan kaum Muslimin yang menyertai beliau untuk melaksanakan shalat Jumat di tempat tersebut.
Di sinilah, untuk pertama kalinya dalam sejarah Islam, shalat Jumat didirikan secara berjamaah lengkap dengan khutbah.
Dalam buku Nur al-Yaqin karya Muhammad Khudri Bek, disebutkan bahwa peristiwa ini menjadi tonggak awal pelaksanaan shalat Jumat secara formal dalam komunitas Muslim.
Baca juga: 3 Kali Tinggalkan Shalat Jumat, Benarkah Jadi Kafir? Ini Peringatan Rasulullah
Pertanyaan yang sering muncul adalah mengapa shalat Jumat pertama tidak dilakukan di masjid?
Jawabannya berkaitan dengan kondisi saat itu. Rasulullah SAW masih dalam perjalanan hijrah, dan belum menetap secara permanen di Madinah. Selain itu, fasilitas masjid yang memadai belum tersedia di lokasi tersebut.
Dalam konteks ini, pelaksanaan shalat Jumat di lembah menunjukkan fleksibilitas Islam dalam ibadah, selama rukun dan syaratnya terpenuhi.
Pendapat ini juga diperkuat dalam berbagai kitab fikih, seperti Fiqh As-Sunnah karya Sayyid Sabiq, yang menjelaskan bahwa shalat Jumat dapat dilaksanakan di tempat terbuka selama memenuhi ketentuan syariat.
Beberapa riwayat menyebutkan bahwa jumlah jamaah yang mengikuti shalat Jumat pertama tersebut mencapai sekitar 100 orang.
Lokasi itu kemudian diabadikan dengan dibangunnya sebuah masjid kecil yang kini dikenal sebagai Masjid Al-Jumu'ah.
Menurut catatan dalam Buku Pintar Haji dan Umrah karya Iwan Gayo, ukuran awal masjid ini relatif kecil, sekitar 7 x 5,5 meter. Meski sederhana, tempat ini memiliki nilai sejarah yang sangat besar.
Sebelum hijrah, umat Islam sebenarnya telah menerima perintah shalat Jumat. Namun pelaksanaannya di Makkah belum memungkinkan.
Tekanan dari kaum Quraisy membuat umat Islam tidak memiliki kebebasan untuk berkumpul secara terbuka.
Hal ini dijelaskan dalam tafsir karya Ibnu Katsir, yang menyebutkan bahwa kondisi sosial-politik saat itu belum mendukung pelaksanaan ibadah berjamaah dalam skala besar.
Baru setelah hijrah ke Madinah, umat Islam memiliki ruang untuk menjalankan ajaran agama secara lebih sempurna.
Baca juga: 7 Sunnah Sebelum Shalat Jumat yang Sering Terlewat, Ini Dalilnya
Shalat Jumat pertama itu tidak hanya menjadi momen ibadah, tetapi juga diiringi khutbah Rasulullah SAW yang berisi pesan moral dan spiritual.
Dalam riwayat yang dinukil dari berbagai sumber klasik, khutbah tersebut menekankan pentingnya amal kebaikan, tanggung jawab manusia di hadapan Allah, serta urgensi menjaga hubungan sosial.
Pesan ini menjadi fondasi dari fungsi khutbah Jumat yang kita kenal hingga hari ini, bukan sekadar formalitas, tetapi sarana pembinaan umat.
Meski memiliki nilai sejarah tinggi, Masjid Al-Jumu'ah tidak sepopuler Masjid Nabawi atau Masjid Quba.
Banyak jemaah yang datang ke Madinah tidak menyadari bahwa di tempat sederhana inilah shalat Jumat pertama kali dilaksanakan.
Dalam buku Al-Amakin al-Masyhurah fi Hayati Muhammad SAW karya Hanafi al-Mahlawi, disebutkan bahwa lokasi ini merupakan salah satu titik penting dalam perjalanan dakwah Nabi yang seharusnya lebih dikenal oleh umat Islam.
Apa yang dimulai di sebuah lembah sederhana kini telah menjadi ibadah mingguan yang dilaksanakan oleh jutaan umat Islam di seluruh dunia.
Dari Wadi Ranuna, shalat Jumat berkembang menjadi simbol persatuan, pengingat spiritual, dan sarana pendidikan umat.
Peristiwa ini mengajarkan satu hal penting bahwa esensi ibadah tidak terletak pada kemegahan tempat, tetapi pada keikhlasan dan ketaatan.
Dan mungkin, justru karena dimulai dari tempat yang sederhana, shalat Jumat menjadi ibadah yang begitu membumi, dekat dengan kehidupan, namun tetap sarat makna.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang