CIREBON, KOMPAS.com - Pondok Buntet Pesantren, Cirebon, Jawa Barat. Dikenal sebagai salah satu lembaga pendidikan bidang keagaman tertua di tanah Jawa.
Pesantren ini hadir jauh sebelum keberadaan Indonesia. Buntet menjadi pesantren yang lahir dari tangan Mbah Muqoyyim, seorang mufti Kesultanan Cirebon yang hadir sekitar hun 1750 masehi.
Sejarag panjang Pondok Buntet ini diceritakan Pengasuh Ponpes Buntet Kyai Muhammad Imaduddin kepada Tim Jelajah Pesantren Kompas.com, Jumat sore, 5 Desember 2025 lalu.
Mbah Muqoyim dikenal sebagai seorang mufti yang terpandang di Kesultanan Cirebon. Ia dipercaya raja saat itu untuk menyelesaikan konflik, khususnya terkait dengan hukum keagamaan.
Tidak hanya konflik di dalam istana, Mbah Muqoyim juga dipercaya memberikan pemecahan masalah kepada masyarakat sekitar keraton. Masalah-masalah tersebut kemudian berkembang, tak hanya terkait kaidah keagamaan, tetapi juga pada konflik sehari-hari di tengah masyarakat.
Konflik makin runyam setelah kongsi dagang kerajaan Belanda, Vereenigde Oorstindische Compagnie (VOC) datang ke Cirebon.
Baca juga: Santri Kalong di Buntet: Datang Pagi, Pulang Malam, Ilmu Agama Tetap Dalam
Awalnya memang ingin berdagang, membuka perniagaan dengan pribumi, api kelamaan VOC meminta lebih, yakni ingin menguasai tanah Cirebon.
"Caranya ya, yang dari sejarah sih, mereka ingin menguasai itu dengan cara ya dekat dengan penguasa. Untuk bisa menguasai, karena yang dagang di sini kan gak hanya orang Belanda ya, ada China, ada juga Arab, ada India," kata Imaduddin.
Masjid Pesantren Buntet yang berusia ratusan tahun.Gerak-gerik Belanda yang mulai menguasai ritme dagang di Kesultanan Cirebon dianggap tak baik oleh Mbah Muqoyim. Ia kemudian rela melepas jabatannya sebagai seorang Mufti karena nasihatnya tak lagi didengar.
Mbah Muqoyim keluar dari istana, membuat sebuah padepokan di Desa Bulak, sekitar 1 kilometer dari Ponpes Buntet yang saat ini berdiri.
Namun Belanda tak berpuas, penjajah tersebut tau gerak-gerik Mbah Muqoyim yang tak lagi jadi Mufti Kesultanan akan membahayakan posisi mereka.
Akhirnya, padepokan tersebut dibakar habis, dan mengharuskan Mbah Muqoyim berpindah ke daerah Ponpes Buntet sekarang berdiri.
Ia mendirikan patilasan yang kini terus digunakan sebagai pusat transfer ilmu agama. Sebuah falsafah yang dipelihara oleh penerusnya, Mbah Muta'ad adalah Al-muhafadhotu ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah wal 'amalus sholeh.”
"Artinya mempertahankan nilai-nilai lama yang baik, mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik, dan beramal sholeh. Itu yang jadi rujukan kita semua di sini dalam berkhidmat kepada pondok, masyarakat, ataupun negara," ucap pria yang akrab disapa Abah ini.
Atas dasar falsafah tersebut, Buntet berkembang dan terus bertahan hingga abad 21. Perkembangan zaman dan teknologi tak menjadi penghalang, dan justru menjadi pendukung kemajuan pesantren.
Setelah berabad-abad menjalani metode konvensional, pada 1930 Buntet mengadopsi sekolah formal modern dengan mendirikan Madrasah Ibtidaiyah atau setara dengan sekolah dasar.
Kini, lembaga pendidikan tersebut terus berkembang menjadi pesantren yang bersifat tradisional modern. Dikatakan modern karena mengadopsi sistem sekolah modern seperti Madrasah Ibtidaiyah hingga perguruan tinggi.
Namun tetap tradisional, dikarenakan pondok Buntet ini terus mengkaji kitab-kitrab salafussholeh yang banyak mengupas seputar Al Quran, Hadits, Tafsir, Balaghoh, Ilmu gramatika bahasa Arab, dan karya-karya Akhlak maupun tasawuf dan fiqh dari para ulama terdahulu.
"Itu yang tadi saya katakan, “Al-muhafadhotu ‘ala qodimis sholih.” Tetap menjaga tradisi yang diajarkan oleh orang-orang tua kita. Tetapi juga mengambil yang baik. Apa sih yang lebih baik? Ya kan, kemudian beramal sholeh. Beramal sholeh itu tetap kita melakukan yang terbaik buat semuanya. Tidak hanya buat Buntet, tetapi juga buat masyarakat," imbuhnya.
Setelah mapan, mampu, dan mumpuni dari sisi bidang agama, Buntet tak lagi sekadar memberikan jawab atas persoalan yang muncul di tingkat lokal, tetapi juga hadir menjawab kebutuhan sumber daya manusia di tingkat nasional, bahkan mancanegara.
Ponpes tertua di tanah Jawa ini bertransformasi, tak hanya mengajarkan teori tentang ilmu agama, tetapi juga ilmu agama dari sisi terapan dan hubungannya dengan sains modern.
Misalnya di Akademi Keperawatan (Akper) yang didirikan di lingkungan Pesantren Buntet. Akademi ini tidak hanya memberikan ilmu medis modern, tetapi juga menambahkan bahan ajar terkait dengan kaidah peribadatan orang yang sedang sakit.
"Iya fiqh sakit (untuk orang sakit dan para perawat). Karena mereka itu (mahasiswa Akper) itu akan hidup sehari-hari dengan orang sakit," ucap Abah.
Perawat adalah orang yang disebut akan paling intens berinteraksi dengan orang sakit. Bahkan lebih intens daripada dokter, khususnya untuk mereka yang sakit rawat inap.
Sebab itu, perawat lah yang akan melayani jika si pasien hendak mendirikan shalat misalnya, atau mengganti pakaian yang dianggap sudah kotor dan tidak bisa digunakan untuk ibadah.
Baca juga: Rahasia Pesantren Buntet Bertahan 275 Tahun: Manuskrip, Sorogan, dan Bandongan
Pengajaran terkait fiqh orang sakit ini penting agar pasien bisa lebih tenang saat beribadah tanpa syarat-syarat seperti orang normal.
"Makanya di akademi perawat itu, di samping kurikulum dari kesehatan, juga kita masukan kurikulum dari pesantren. Karena dia, dia itu ruang lingkup pendidikannya adalah apa namanya, Keperawatan, maka kita ajarkan Fiqh-nya. Sehingga si anak lulusan Akper Buntet ini ya bisa men-talqin, bisa mengajarkan atau membantu si pasien ini," imbuhnya.
Selain akademi perawat, buntet juga memiliki sekolah tinggi ilmu tarbiyah atau setara dengan institut keguruan ilmu pendidikan (IKIP).
Kemudian ada juga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Mekanika Buntet, Madrasah Aliyah Negeri, Madrasah Aliyah Putri, Madrasah Aliyah Putra, hingga Balai Latihan Kerja Komunitas (BLKK).
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang