KOMPAS.com – Dalam rangkaian ibadah haji dan umrah, ada satu istilah yang sering terdengar tetapi belum sepenuhnya dipahami banyak orang, yaitu hadyu.
Bagi sebagian jemaah, hadyu kerap disamakan dengan kurban biasa. Padahal, dalam kajian fikih, hadyu memiliki makna, hukum, dan ketentuan yang lebih spesifik, serta berkaitan langsung dengan pelaksanaan ibadah di Tanah Suci.
Lantas, apa sebenarnya hadyu? Bagaimana hukum, jenis, hingga syaratnya dalam Islam?
Secara sederhana, hadyu adalah hewan yang disembelih di Tanah Haram sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT dalam rangka ibadah haji atau umrah
Dalam kitab Al-Jami’ fii Fiqhi An-Nisa’, Syaikh Kamil Muhammad 'Uwaidah menjelaskan bahwa hadyu merupakan penyembelihan unta, sapi atau kambing yang kemudian diberikan kepada fakir miskin di wilayah suci.
Sementara itu, Sayyid Sabiq dalam Fiqh Sunnah mendefinisikan hadyu sebagai hewan kurban yang disembelih di Tanah Haram dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh Sayyid Qutb dalam tafsirnya, yang menyebut hadyu sebagai hewan yang dibawa oleh jemaah haji atau umrah dan disembelih di akhir rangkaian ibadahnya.
Dengan kata lain, hadyu bukan sekadar ritual penyembelihan, melainkan bagian integral dari ibadah haji yang sarat makna spiritual dan sosial.
Baca juga: Kemenhaj Rilis Aturan Baru Haji 2026, Ini Ketentuan Jenis Haji dan Pembayaran Dam
Pensyariatan hadyu memiliki landasan kuat dalam Al-Qur’an, salah satunya dalam Surah Al-Hajj ayat 36–37.
Ayat tersebut menegaskan bahwa hewan kurban merupakan syiar Allah yang mengandung kebaikan bagi manusia.
Selain itu, praktik hadyu juga dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad, yang dalam salah satu riwayat menyembelih hingga 100 ekor unta saat haji.
Dalam buku Panduan Terlengkap Ibadah Muslim Sehari-hari, KH Muhammad Habibillah menjelaskan bahwa hadyu tidak hanya bernilai ibadah personal, tetapi juga memiliki dimensi sosial karena dagingnya dibagikan kepada masyarakat miskin di Makkah.
Dalam literatur fikih, hadyu dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu wajib dan sunnah.
Hadyu menjadi wajib dalam beberapa kondisi tertentu, antara lain:
Dalam konteks ini, hadyu berfungsi sebagai dam atau denda atas pelanggaran yang dilakukan.
Hadyu sunnah dianjurkan bagi jemaah yang melaksanakan haji ifrad.
Dalam beberapa penjelasan ulama, hadyu sunnah juga menjadi bentuk kesempurnaan ibadah, meskipun tidak diwajibkan.
Para ulama sepakat bahwa hewan yang sah dijadikan hadyu terbatas pada tiga jenis:
Menurut Sayyid Sabiq, hewan terbaik adalah unta, kemudian sapi, dan terakhir kambing.
Namun, tidak semua hewan dapat dijadikan hadyu. Ada beberapa syarat penting yang harus dipenuhi:
Hewan harus sehat, tidak cacat, tidak buta, tidak pincang, dan tidak kurus
Usia minimal:
Dari segi jumlah, satu kambing cukup untuk satu orang, sementara satu sapi atau unta dapat untuk tujuh orang.
Baca juga: 3 Fakta Penting di Masjid Nabawi yang Wajib Diketahui Jemaah Haji, Nomor 1 Sering Disalahpahami!
Waktu penyembelihan hadyu menjadi perhatian penting dalam pelaksanaan haji.
Menurut Imam Syafi'i, hadyu disembelih pada hari Nahar (10 Zulhijah) hingga hari tasyrik (11–13 Zulhijah).
Sementara itu, Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa waktu utama adalah pada hari Nahar.
Adapun tempat penyembelihan harus berada di Tanah Haram, khususnya di wilayah:
Meski demikian, beberapa ulama memperbolehkan penyembelihan di luar wilayah tersebut dalam kondisi tertentu.
Hadyu bukan hanya soal menyembelih hewan. Ia mengandung makna mendalam tentang ketaatan, pengorbanan, dan kepedulian sosial.
Dalam konteks ini, hadyu menjadi simbol bahwa ibadah dalam Islam tidak hanya berdampak pada hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga dengan sesama manusia.
Sebagaimana dijelaskan dalam berbagai kitab fikih klasik, nilai utama dari hadyu bukan terletak pada daging atau darahnya, melainkan pada ketakwaan yang melatarbelakanginya.
Baca juga: Tata Cara Wudhu, Tayamum, dan Shalat di Pesawat untuk Panduan Jemaah Haji
Memahami hadyu membantu kita melihat bahwa setiap rangkaian ibadah haji memiliki filosofi yang dalam.
Dari penyembelihan hewan hingga pembagiannya kepada yang membutuhkan, semuanya mengajarkan tentang keikhlasan, tanggung jawab, dan solidaritas umat.
Di tengah jutaan jemaah yang berkumpul di Tanah Suci, hadyu menjadi salah satu bentuk nyata bahwa ibadah tidak berhenti pada ritual, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan.
Dan di situlah, hadyu menemukan maknanya yang paling hakiki.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang