Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengenal Bulan Zulkaidah: Peristiwa Penting dan Amalan Utama yang Bisa Dilakukan

Kompas.com, 23 April 2026, 21:44 WIB
Add on Google
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Bulan Dzulqaidah (Dzulqa'dah) merupakan bulan ke-11 dalam kalender Hijriah yang termasuk salah satu bulan istimewa dalam Islam.

Secara historis, bulan ini memiliki banyak peristiwa penting yang berkaitan dengan perjalanan dakwah Rasulullah SAW serta persiapan menuju musim haji.

Letaknya yang berdekatan dengan Dzulhijjah membuat Dzulqaidah juga sering dikaitkan dengan ibadah haji dan umrah.

Berikut ulasan mengenal sejarah, keutamaan, serta amalan yang dianjurkan pada bulan Dzulqaidah, seperti dirangkum Kompas.com dari laman MUI, Baznas Kota Semarang, dan Baznas Sumedang.

Baca juga: Setelah Syawal Bulan Apa? Ini Keistimewaan Zulkaidah

Mengenal Bulan Zulkaidah

Dzulqaidah dikenal sebagai salah satu dari empat bulan haram atau bulan mulia dalam Islam.

Sstatusnya sebagai bulan haram (Asyhurul Hurum) bersama tiga bulan lainnya yaitu Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab menjadikan bulan ini sebagai bulan yang disucikan oleh.

Pada bulan-bulan tersebut, umat Islam dianjurkan untuk menahan diri dari segala bentuk kezaliman, termasuk peperangan.

Baca juga: Bacaan Doa Awal Bulan Zulkaidah: Arab, Latin, Arti, dan Keutamaannya

Selain itu, pada bulan-bulan ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh dan menjauhi perbuatan dosa.

Bulan Dzulqaidah juga menjadi momentum memperkuat ibadah sebelum memasuki bulan Dzulhijjah yang identik dengan puncak ibadah haji.

Peristiwa Penting di Bulan Zulkaidah

Menurut sejarahnya, terdapat beberapa peristiwa penting dalam sejarah Islam yang terjadi pada bulan Dzulqaidah.

1. Perang Bani Quraizhah

Pada bulan Dzulqaidah tahun kelima Hijriah, terjadi Perang Bani Quraizhah.

Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri dalam kitab sirahnya mencatat bahwa sehari setelah Rasulullah SAW kembali ke Madinah, Malaikat Jibril datang kepada beliau pada waktu Zuhur.

Jibril menyampaikan bahwa para malaikat belum meletakkan senjata mereka dan meminta Rasulullah berangkat bersama sahabat menuju perkampungan Bani Quraizhah.

Rasulullah SAW kemudian memerintahkan para sahabat berangkat ke pemukiman Bani Quraizhah dengan pesan agar tidak melaksanakan shalat Ashar hingga tiba di tujuan.

Pasukan Muslim mengepung benteng mereka selama 25 malam atau menurut riwayat lain 25 hari.

Pengepungan itu menimbulkan rasa takut hingga akhirnya mereka menyerah dan tunduk pada keputusan Rasulullah SAW.

2. Perjanjian Hudaibiyah

Peristiwa besar lainnya adalah Perjanjian Hudaibiyah. Syekh Ali as-Shalabi menjelaskan bahwa ketika kekuatan umat Islam semakin besar, mereka mulai memikirkan hak untuk beribadah di Masjidil Haram yang telah dihalangi kaum musyrikin selama enam tahun.

Pada hari Senin bulan Dzulqaidah tahun ketujuh Hijriah, menurut sebagian riwayat tahun keenam, Rasulullah SAW berangkat dari Madinah bersama 1.400 sahabat tanpa membawa senjata perang.

Setibanya di Dzulhulaifah, Rasulullah SAW memulai ihram untuk umrah. Setelah terjadi dialog dengan kaum Quraisy, tercapailah kesepakatan damai yang dikenal sebagai Perjanjian Hudaibiyah.

Perjanjian ini menjadi tonggak penting dalam sejarah hubungan umat Islam dan kaum Quraisy di Makkah.

3. Seluruh Umrah Rasulullah Terjadi di Bulan Dzulqaidah

Salah satu fakta penting dalam sejarah Islam adalah seluruh umrah Rasulullah SAW dilakukan pada bulan Dzulqaidah.

Berdasarkan hadis riwayat Imam Bukhari, Nabi Muhammad SAW melaksanakan umrah sebanyak empat kali.

Empat umrah tersebut meliputi umrah dari Hudaibiyah, umrah pada tahun berikutnya, umrah dari Ji'ranah, dan umrah yang dilakukan bersamaan dengan ibadah haji beliau.

Pelaksanaan umrah pada bulan Dzulqaidah menjadi bentuk ibadah sekaligus persiapan spiritual menghadapi musim haji di bulan berikutnya.

4. Allah SWT Berfirman kepada Nabi Musa AS

Bulan Dzulqaidah juga dikaitkan dengan peristiwa agung saat Nabi Musa AS menerima wahyu Taurat dan berkomunikasi langsung dengan Allah SWT. Peristiwa itu diabadikan dalam Al-Qur'an Surah Al-Araf ayat 143.

وَلَمَّا جَاءَ مُوسَىٰ لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَٰكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ

Artinya: "Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Mahasuci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman"."Dan ketika Musa datang untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan telah berfirman (langsung) kepadanya (Musa)."

Menurut penafsiran Imam Ibnu Katsir ad-Dimisyqi yang mengutip mayoritas ulama tafsir seperti Imam Mujahid, Masruq, dan Ibnu Juraih, peristiwa tersebut terjadi pada bulan Dzulqaidah.

Keutamaan Bulan Dzulqaidah

Ada beberapa keutamaan dari bulan Dzulqa’dah yang lebih besar dibandingkan bulan lainnya.

a. Keberkahan dalam Amal Ibadah

Bulan Dzulqaidah menjadi waktu yang baik untuk meningkatkan amal ibadah. Umat Islam dianjurkan memperbanyak shalat sunnah, puasa, sedekah, dan membaca Al-Qur'an.

Momentum ini dapat dimanfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT sebelum datangnya bulan haji.

b. Kesempatan Memperbanyak Kebaikan

Selain ibadah mahdhah, Dzulqaidah juga menjadi waktu tepat untuk meningkatkan amal sosial.

Tindakan sederhana seperti membantu sesama, berbagi rezeki, dan menebar manfaat menjadi bagian dari amal saleh yang bernilai besar.

c. Meningkatkan Kualitas Spiritual

Bulan Dzulqaidah juga menjadi momen introspeksi diri. Umat Islam dapat memanfaatkan bulan ini untuk memperbanyak dzikir, doa, muhasabah, serta memperbaiki kesalahan yang pernah dilakukan.

Melalui refleksi spiritual, seseorang dapat memperkuat hubungan dengan Allah SWT dan menyiapkan diri menyambut bulan Dzulhijjah dengan hati yang lebih bersih.

Kapan 1 Dzulqaidah 2026?

Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2026 terbitan Ditjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kementerian Agama RI, 1 Dzulqaidah 1447 H jatuh pada Minggu, 19 April 2026.

Sementara itu, Muhammadiyah telah menetapkan bahwa 1 Dzulqaidah 1447 H jatuh pada Sabtu, 18 April 2026.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Cerita di Balik Air Mata Jamaah Haji yang Pecah di Tanah Suci, Bahagia dan Haru Bercampur Jadi Satu
Cerita di Balik Air Mata Jamaah Haji yang Pecah di Tanah Suci, Bahagia dan Haru Bercampur Jadi Satu
Aktual
Khutbah Jumat 24 April 2026: Makna Bersyukur, Sabar, Meminta Maaf, dan Memaafkan
Khutbah Jumat 24 April 2026: Makna Bersyukur, Sabar, Meminta Maaf, dan Memaafkan
Aktual
Khutbah Jumat 24 April 2026: Sikap Optimis dan Tawakal Saat Menghadapi Musibah
Khutbah Jumat 24 April 2026: Sikap Optimis dan Tawakal Saat Menghadapi Musibah
Aktual
Mengenal Bulan Zulkaidah: Peristiwa Penting dan Amalan Utama yang Bisa Dilakukan
Mengenal Bulan Zulkaidah: Peristiwa Penting dan Amalan Utama yang Bisa Dilakukan
Aktual
Perbedaan Waktu Arab Saudi dan Indonesia, Cek Sebelum Menghubungi Keluarga di Tanah Suci
Perbedaan Waktu Arab Saudi dan Indonesia, Cek Sebelum Menghubungi Keluarga di Tanah Suci
Aktual
Shalawat Badar Sambut Jamaah Haji Kloter Pertama di Madinah, Hangat dan Penuh Suka Cita
Shalawat Badar Sambut Jamaah Haji Kloter Pertama di Madinah, Hangat dan Penuh Suka Cita
Aktual
Pesantren Rasa Korporasi: BIMA Melejit dengan 3 Kampus, 5.000 Santri, hingga Jaringan 16 Negara
Pesantren Rasa Korporasi: BIMA Melejit dengan 3 Kampus, 5.000 Santri, hingga Jaringan 16 Negara
Aktual
Tradisi Keberangkatan Haji di Lombok Timur, Rogoh Kocek untuk Hias Rumah Demi Ungkapan Rasa Syukur
Tradisi Keberangkatan Haji di Lombok Timur, Rogoh Kocek untuk Hias Rumah Demi Ungkapan Rasa Syukur
Aktual
5.997 Jemaah Haji Indonesia Tiba di Madinah, Hotel Hanya 50 Meter dari Masjid Nabawi
5.997 Jemaah Haji Indonesia Tiba di Madinah, Hotel Hanya 50 Meter dari Masjid Nabawi
Aktual
Nenek di Bojonegoro Jadi Korban Penipuan Berkedok Berangkat Haji, Emas 34 Gram Raib
Nenek di Bojonegoro Jadi Korban Penipuan Berkedok Berangkat Haji, Emas 34 Gram Raib
Aktual
PPIH Solo Jelaskan Alur Layanan Jemaah Haji 2026 di Asrama Donohudan, Kini Dilayani Satu Pintu
PPIH Solo Jelaskan Alur Layanan Jemaah Haji 2026 di Asrama Donohudan, Kini Dilayani Satu Pintu
Aktual
5 dari 10 Jemaah Haji Embarkasi Solo yang Tertunda Berangkat Karena Sakit Sudah Pulih dan Siap Terbang
5 dari 10 Jemaah Haji Embarkasi Solo yang Tertunda Berangkat Karena Sakit Sudah Pulih dan Siap Terbang
Aktual
Hampir 6.000 Jemaah Haji Indonesia Tiba di Madinah, Diingatkan Waspada Cuaca Panas
Hampir 6.000 Jemaah Haji Indonesia Tiba di Madinah, Diingatkan Waspada Cuaca Panas
Aktual
Menhaj Lepas 200 Petugas Haji ke Makkah, Tekankan Layanan Maksimal untuk Jemaah
Menhaj Lepas 200 Petugas Haji ke Makkah, Tekankan Layanan Maksimal untuk Jemaah
Aktual
Kurban 7 Kambing vs 1 Sapi, Mana Lebih Besar Pahalanya? Ini Kata Ulama
Kurban 7 Kambing vs 1 Sapi, Mana Lebih Besar Pahalanya? Ini Kata Ulama
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com