Editor
KOMPAS.com-Ibadah haji merupakan rukun Islam yang dijalankan umat Muslim dengan menunaikan perjalanan ke Tanah Suci sekaligus sebagai latihan spiritual yang menuntut kesabaran, disiplin, dan kepatuhan kepada Allah SWT.
Ibadah ini tidak hanya dinilai dari aspek lahiriah seperti penggunaan ihram, tetapi juga dari kesungguhan niat, usaha, dan ketulusan doa yang menyertainya.
Hadis Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa nilai ibadah haji sangat tinggi, bahkan menjadi salah satu amalan yang balasannya adalah surga.
الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ
“Haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.” (HR Bukhari dan Muslim)
Baca juga: Koper Jemaah Haji Indonesia Dibongkar di Bandara Madinah, Ternyata Isinya Petis Berlapis
Predikat haji mabrur menjadi harapan setiap jamaah, tetapi tidak diperoleh secara otomatis hanya karena telah menyelesaikan rangkaian manasik.
Upaya meraih kemabruran haji memerlukan keseimbangan antara ikhtiar lahiriah dan permohonan batiniah kepada Allah SWT.
Dilansir dari laman MUI, pelaksanaan manasik haji sesuai syariat menjadi langkah utama untuk meraih haji mabrur.
Pemahaman terhadap rukun, wajib, sunnah, serta larangan dalam ihram menjadi bagian penting dalam memastikan ibadah dilakukan secara benar.
Pengetahuan tentang tata cara thawaf, sa’i, wukuf, mabit, hingga melontar jumrah menunjukkan kesungguhan dalam beribadah.
Minimnya bekal ilmu berpotensi menimbulkan kesalahan dalam pelaksanaan ibadah, sehingga persiapan sebelum berangkat menjadi hal yang tidak bisa diabaikan.
Baca juga: Kemenhaj Minta Jemaah Haji 2026 Laporkan Pungutan Liar, Jangan Takut
Ulama dalam kitab-kitab fiqih klasik telah membahas ibadah haji secara rinci sebagai bentuk penegasan bahwa ibadah ini membutuhkan kesiapan yang matang.
Selain aspek hukum, jamaah juga dituntut menjaga akhlak selama berhaji.
Sikap sabar, menjaga lisan, tidak mudah marah, serta memperbanyak dzikir menjadi bagian penting dari kualitas ibadah.
Kemabruran haji tidak hanya diukur dari sah atau tidaknya secara fiqih, tetapi juga dari perilaku yang mencerminkan nilai-nilai kebaikan.
Setelah berikhtiar maksimal, seorang Muslim tetap memerlukan pertolongan Allah SWT dalam menentukan diterima atau tidaknya ibadah.
Penilaian kemabruran tidak ditentukan oleh manusia, melainkan sepenuhnya berada di tangan Allah SWT.
Salah satu doa yang dikenal dalam praktik manasik haji dibaca saat melontar jumrah, sebagaimana diriwayatkan dari Abdullah bin Umar.
اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ حَجًّا مَبْرُورًا وَذَنْبًا مَغْفُورًا
“Ya Allah, jadikanlah ini haji yang mabrur dan dosa yang diampuni.”
Dalam riwayat disebutkan bahwa Ibnu Umar membaca doa tersebut setiap kali melempar jumrah, disertai takbir pada setiap lemparan.
Tradisi dalam mazhab Syafi’i juga mengenal tambahan doa berikut:
اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ حَجًّا مَبْرُورًا وَذَنْبًا مَغْفُورًا وَسَعْيًا مَشْكُورًا
“Ya Allah, jadikanlah ini haji yang mabrur, dosa yang diampuni, dan usaha yang diterima dengan penuh syukur.”
Baca juga: 6 Amalan Sunnah Jelang Pelaksanaan Haji 1447 H, Jangan Sampai Terlewat
Riwayat ini menunjukkan perhatian para sahabat dan ulama terhadap kualitas ibadah haji, bukan sekadar pelaksanaan ritualnya.
Para ahli hadis menjelaskan bahwa doa tersebut bukan hadis marfu’ yang kuat dari Nabi, melainkan atsar sahabat yang kemudian diamalkan oleh ulama.
Ibnu Hajar al-Asqalani bahkan menyatakan tidak menemukan riwayat sahih bahwa Nabi membaca doa tersebut saat ramal dalam thawaf.
Meski demikian, doa ini tetap dapat diamalkan sebagai doa yang baik dalam memohon kemabruran haji.
Kemabruran haji tidak berhenti pada saat pelaksanaan ibadah, tetapi terlihat dari perubahan perilaku setelah kembali ke kehidupan sehari-hari.
Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW menjelaskan tanda-tanda haji mabrur melalui dampak sosial yang ditimbulkan.
عَنْ جَابِرٍ قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةَ. قَالُوا: يَا نَبِيَّ اللهِ مَا بِرُّالْحَجِّ الْمَبْرُورُ؟ قَالَ: إِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ
“Dari Jabir, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, ‘Haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.’ Para sahabat bertanya, ‘Apa tanda kebaikannya?’ Beliau menjawab, ‘Memberi makan dan menyebarkan salam.’”
Riwayat lain menyebutkan bahwa tanda kemabruran juga tercermin dari kebiasaan berkata baik kepada sesama.
Baca juga: Kemenhaj Minta Jemaah Haji 2026 Laporkan Pungutan Liar, Jangan Takut
Perilaku sosial menjadi indikator penting dalam menilai kualitas ibadah haji seseorang.
Seseorang yang hajinya mabrur cenderung lebih peduli terhadap sesama, ringan tangan membantu, serta menjaga hubungan sosial dengan baik.
Nilai ibadah tidak hanya tercermin dalam hubungan dengan Allah SWT, tetapi juga dalam interaksi dengan manusia.
Sikap seperti memberi makan, menyebarkan salam, menjaga tutur kata, dan mempererat silaturahmi menjadi cerminan nyata dari haji yang diterima.
Haji mabrur merupakan hasil dari perpaduan antara pelaksanaan ibadah yang benar, akhlak yang baik, dan doa yang tulus.
Amal yang tampak besar belum tentu bernilai di sisi Allah tanpa keikhlasan, sementara amal sederhana dapat bernilai tinggi karena niat yang lurus.
Kesungguhan dalam menjalankan ibadah serta ketulusan dalam memohon kepada Allah SWT menjadi faktor utama dalam meraih kemabruran haji.
Perubahan sikap setelah berhaji menjadi bukti nyata bahwa ibadah tersebut membawa dampak dalam kehidupan, sekaligus menjadi tanda bahwa haji yang dijalankan mendekati predikat mabrur.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang